Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments

Perjuangan Amat Berat Jack Ma Membangun Bisnis

Perjuangan Amat Berat Jack Ma Membangun Bisnis
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Jack Ma

Penulis : Chen Wei

Penerbit : Penerbit Noura

Cetakan : 2017

Tebal : 424 halaman

Besar : 15 cm x 23 cm

ISBN : 978-602-385-177-5

 

Selain hasil akhir perolehan medali yang menempatkan Indonesia sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara di posisi 10 besar, hal lagi yang menarik perhatian saat Closing Ceremony Asian Games 2018 kehadiran “Si Manusia 500 Triliun” bernama Jack Ma.

Tidak banyak yang tahu, kerajaan bisnis pengusaha asal negeri Tirai Bambu itu berdiri di atas pondasi perjuangan berdarah-darah. Misalnya, pada 1997 saat dia membangun situs yellow page versi Tiongkok harus mundur dari guru. Kantor pertamanya hanya ruangan dengan sebuah meja. Di situ ada komputer tua yang dipakai beberapa orang bergantian.

Baru sebentar dia menjalankan bisnis, sebuah perusahaan telekomunikasi di negara itu meluncurkan layanan yang sama. Kehadiran pesaing raksasa mengacaukan rencananya. Jack nyaris menyerah sebelum akhirnya mendengar kotbah di sebuah gereja. Pendeta itu mengutip pidato Winston Churchill dalam Perang Dunia II, “Kalian bertanya apa target kita? Saya hanya akan menjawabnya dengan satu kata: kemenangan!”

Pendeta itu berkotbah penuh semangat sambil memandang Jack Ma berkali-kali. Saat itu dia merasa pendeta itu dikirim Tuhan untuk menyemangatinya. Sejak hari itu, Jack tak pernah berpikir untuk menyerah lagi. Tanda tangan yang dibubuhkan bagi orang lain sebagian besar diikuti kalimat, “Jangan pernah menyerah!” (hal 193).

Bisa jadi, pengalaman tersebut merupakan modal penting lelaki yang tiga kali gagal masuk universitas itu dalam membangun bisnis Alibaba. Situs yang mempertemukan penjual dan pembeli tersesbut tidak menghasilkan uang pada tiga tahun pertama. Ini tentu tidak mudah untuk diterima. Tapi, lagi-lagi dia tidak menyerah. Dia yakin keuntungan akan datang pada waktunya.

Prediksinya benar. Pada tahun-tahun selanjutnya, Alibaba mulai mendatangkan keuntungan. Bahkan, melebarkan sayap ke beberapa negara, termasuk Indonesia dan menjadi pemain utama. Kegagalan tidak membuatnya mati, keberhasilan tidak membuatnya berhenti. Jack terus inovasi dan kampanye agar usahanya berkembang. Salah satu contohnya adalah Global Shopping Festival setiap 11 November. Tanggal itu sebelumnya dikenal sebagai “Hari Jomblo.” Tapi dia ubah sebagai hari belanja dan para pembeli bisa membeli barang secara online dengan diskon besar.

Hasilnya luar biasa. Karena aliran transaksi penjualan sangat tinggi, semua bank komersial besar kesulitan melakukan transmisi pembayaran. Catatan transaksi mesti terus diperbarui berulang kali (hal 237). Tahun lalu, perusahaannya harus melayani lebih dari 200 ribu transaksi tiap detik. Total penjualannya lebih dari 300 triliun rupiah sehari.

Hebatnya, kesuksesan tidak membuat penggemar film kungfu ini sombong. Dia tetap suka bercanda. Ketika terjebak macet, Jack berkelakar ke temannya, “Orang-orang yang paling tepat waktu adalah para pensiunan. Kau minta mereka berkumpul di taman pukul 7, sebagian besar sudah berada di lokasi pukul 05.30. Saya akan datang ke rumahmu dua hari sebelumnya kalau kau mengundang setelah saya pensiun.”

Kekayaan juga tidak membuatnya lupa daratan. Dia menjaga kesetiaan kepada istri dan keluarganya. Jack belajar dari alam sekitar. Seberapa banyak yang bisa didapatkan seseorang dalam kehidupan ini selain “segenggam nasi” dari “tanah subur yang tak berbatas.” Atau “separuh tempat tidur” dari “bangunan yang begitu banyak?” Maka, “separuh tempat tidur” yang kita miliki sangat penting dalam hidup. “Hal terpenting dari sebuah rumah adalah tempat tidur baik dengan istri yang baik di atasnya,” tegas Jack Ma.


Diresensi Yesi Oktavyani, Lulusan Statistika Universitas Padjadjaran, Bandung

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment