Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments

Perjalanan Spiritual Mencari Tujuan Hidup

Perjalanan Spiritual Mencari Tujuan Hidup

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta

Penulis : Suarcani

Penerbit : Jendela O’ Publishing House

Terbit : 2016

Tebal : vii + 226 hal

Setiap orang harus memiliki tujuan hidup, walau tak mudah menemukannya. Setiap orang memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk sekadar menemukan esensi kehidupan. Novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta mengisahkan cara seseorang menemukan tujuan hidup. Ravit adalah seorang narapidana pembunuhan yang akhirnya menghirup udara bebas. Namun, dia bukannya lega dan bahagia, tapi justru merasa gamang. Terlebih, Ravit berada di penjara sejak kecil dan membuatnya kehilangan kesempatan merasakan bimbingan keluarga lebih dini.

“Aku hanya merasa tidak nyaman karena seseorang begitu bergembira dengan kebebasanku. Sementara itu, diriku sendiri masih bertanya-tanya, apakah kebebasan ini memang sebuah berita gembira dan awal yang baik untuk masa depanku,” kata Ravit (hal 4). Setelah bebas, Ravit sadar bahwa dunia luar yang menunggunya masih mengerikan seperti 15 tahun lalu.

“Sungguh, aku tidak menyangka dunia ini ternyata lebih kelam dibanding yang kulihat di penjara,” seru dia (hal 86). Salah satu penyebab Ravit sulit menemukan tujuan hidup, tidak ada orang yang disayangi, yaitu ibu. Masa lalu yang kelam sebagai pemuas nafsu menyimpang orang terdekatnya juga masih menghantuinya.

Kebingungan Ravit membuatnya mencoba hal-hal baru. Ia memutuskan untuk memilih hidup sendiri, tanpa pamannya. Namun, akhirnya, berbekal sebuah tekad besar, Ravit memberanikan diri menerima tawaran pamannya pergi ke Bali. Menurut pamannya, agar Ravit tidak lagi tersesat. “Setiap orang berhak hidup bahagia, Ravit, termasuk kamu. Cobalah untuk bicara pada dirimu sendiri, pada hatimu. Bujuk mereka untuk membiarkanmu lepas dari bayang-bayang masa lalu yang mengerikan. Bilang pada mereka, kamu punya hak untuk hidup lagi, menjalani seperti orang normal,” pinta pamannya (hal 17).

Perjalanan Ravit di Bali dituntun seorang pemandu wisata bernama Uci. Bersama Uci, Ravit menjelajahi Bali dari sisi spiritual. Uci mengajaknya untuk kembali bangkit dan tidak terbayangi masa lalu. Ravit mengikuti mandi untuk membersihkan diri, mendaki suatu pegunungan mencapai sebuah pura, hingga mengikuti upacara adat menyucikan diri.

Yang dilakukan Ravit memang berbeda dengan kepercayaannya. Namun, dia sadar ini bukan perkara kepercayaannya salah, tapi tentang menemukan keberanian dalam hidup. “Tetaplah hidup, tetaplah berjuang. Ada masa saat kamu jatuh, tapi jika kamu bertahan, masa itu akan kamu lalui,” tutur Uci (hal 116).

Dari Uci, Ravit mengerti bahwa dalam menjalani hidup perlu kompas guna membantu menentukan arah. Sebelum Ravit melakukan perjalanan di Bali, hidupnya bagaikan kompas yang berputar terus-menerus. Ravit kebingungan dengan hidupnya sendiri. Namun, berkat perjalanan spiritual, Ravit sadar dengan berserah, dia akan menemukan tujuan hidup utamanya, yaitu kedamaian. “Siapa pun yang berserah akan merasakan bahwa semuanya nyata. Hanya dengan berserah mendapat berkah, kedamaian,” ujara dia (hal 126).

Novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta sarat pesan moral yang mengajarkan manusia bahwa setiap orang memiliki ketakutan masing-masing. Setiap orang pula akan melalui perjalanan guna mengetahui esensi di dunia ini. 

Diresensi Putri Prama Ananta, Alumnus SMA Negeri 1 Probolinggo

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment