Pereduksi Bencana Iklim | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Pereduksi Bencana Iklim

Pereduksi Bencana Iklim
A   A   A   Pengaturan Font

oleh Yopi Ilhamsyah

Dalam pertemuan United Nations Framework Con­vention on Climate Change Conference (UNFCCC) pada 17–27 Juni 2019 di Bonn, Jer­man. Indonesia mengede­pankan konsep karbon biru (blue carbon) dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca. Strategi adaptasi dan mitigasi untuk mencapai tar­get berkurangnya emisi karbon sebesar 29–41 persen pada ta­hun 2030 dengan memanfaat­kan potensi ekosistem pesisir Indonesia, di antaranya hutan bakau, terumbu karang, dan rumput laut.

Bagaimana ketiga ekosistem ini berperan dalam memerangi perubahan iklim? Berdasarkan penelitian Center for Interna­tional Forestry Research (CI­FOR), hutan bakau berperan sebagai rosot karbon (carbon sinks) terbesar dibanding hu­tan alam. Besarannya lima kali lipat. Potensi penyerapan kar­bon (carbon sequestration) di­taksir lebih dari tiga miliar ton yang setara emisi antropogenik di Indonesia selama 20 tahun.

Selain itu, bakau berfungsi sebagai pelindung pantai dari dampak perubahan iklim se­perti kenaikan air laut, polusi laut, sedimentasi, badai angin, hingga tsunami! Seiring pen­ingkatan kebutuhan pangan dan papan, bakau mengalami deforestasi. Ini mengakibatkan degradasi lingkungan. Selain itu, efek perubahan iklim se­makin memperburuk kondisi tersebut, sehingga suksesi bakau sebagai langkah adap­tasi amat diperlukan.

Namun, untuk kembali menanam bakau perlu rekaya­sa ekologi tertentu agar dapat tumbuh baik. Untuk bertahan, bakau harus melakukan peng­aturan terhadap kenaikan laut melalui pertumbuhan secara vertikal atau terendam dalam air. Bakau dapat mempen­garuhi proses penambahan tanah melalui produksi dan akumulasi material organik, menjebak, serta menyimpan sedimen mineral.

Krauss dan kolega dari US Geological Survey dalam jurnal New Phytologist tahun 2014 memapar­kan telaah mengenai dinamika elevasi bakau. Mereka menekankan peran vegetasi ini dalam mempertahankan elevasi permukaan tanah (yaitu po­sisi permukaan tanah dalam bidang vertikal). Dalam riset­nya, mereka menjelaskan cara bakau mempengaruhi penam­bahan tanah dan pemben­tukan lahan secara vertical.

Contoh, melalui kontribusi akar terhadap volume tanah dan ekspansi ke atas permu­kaan tanah. Morfologi akar pada beberapa tipe bakau seperti Rhizophora spp, Son­neratia/Avicennia spp, dan Xy­locarpus/Heritiera spp da­pat tumbuh memanjang di bawah permukaan tanah, Inilah yang berfungsi mere­dam gelombang dan inten­sitas angin.

Bakau bukan tanaman pasif terhadap perubahan yang mempengaruhinya. Sebaliknya, dia memiliki kemampuan memodifikasi lingkungan, mempromosi­kan ketahanan habitat se­cara alami, dan bertindak sebagai perekayasa untuk adaptasi pantai. Hutan bakau meregulasi kenaikan air laut dengan memfasili­tasi deposisi sedimen. Dia juga membentuk rawa asin serta gambut yang berfungsi sebagai rosot karbon.

Upaya konservasi untuk memaksimalkan kembali hu­tan bakau yang tersisa penting dengan mengusulkan penana­man di sekitar areal tambak dan aliran sungai. Di samping itu, juga dilakukan restorasi dan rehabilitasi bakau di dae­rah pasang surut yang menjadi ancaman kenaikan air laut. Hal ini mengingat bakau meru­pakan vegetasi yang sulit dire­habilitasi.

Untuk itu, diperlukan teknik tertentu terkait kondisi ling­kungan setempat seperti sub­strat tanah, kondisi pasang surut, termasuk pemilihan jenis bibit bakau. Di samping itu, waktu tanam juga harus di­perhatikan. Waktu tanam yang tepat untuk bakau pada musim pancaroba hingga kering saat hujan tidak terlalu tinggi. De­ngan begitu, salinitas air laut yang mendukung pertumbu­han bakau tercukupi.

Waktu Tanam

Pemilihan waktu tanam yang tepat menjadi penentu kelangsungan pertumbuhan vegetasi bakau. Maka, untuk memaksimalkan penanaman vegetasi bakau, diusulkan su­atu sistem kalender tanam ber­basis iklim dengan memperha­tikan awal musim pancaroba. Sebab hutan bakau penghasil bahan organik dan oksigen tinggi. Dia juga se­bagai habitat berbagai jenis organisme, pelindung abrasi pantai dan kenaikan air laut. Bakau juga penahan intrusi air laut ke darat. Hara­pannya, kelangsungan pesisir sebagai suatu wilayah ekologis akan dapat terwujud.

Ekosistem terumbu karang juga berperan besar terhadap rosot karbon sebesar 111 juta ton karbon setiap tahun. Ini se­tara 2 persen emisi karbon se­perti diungkapkan oleh Kinsey dan Hopley dalam jurnal Glo­bal and Planetary Change Ma­ret 1991. Maka, perlu penekan­an pada konservasi ekosistem terumbu karang yang juga ber­peran sebagai peredam kece­patan gelombang laut.

Dengan demikian, kenaikan air laut juga tidak lagi men­jadi ancaman wilayah pesisir. Sebenarnya, peningkatan air laut tidak masalah terhadap terumbu karang dan ekosistem perairan laut dangkal lainnya. Sebab laju kenaikan muka laut diprediksi masih dalam batas toleransi. Hanya, jika pening­katan tersebut melampaui se­kitar 40 cm setiap abad, banyak terumbu karang akan teng­gelam.

Di Indonesia terumbu ka­rang sebe­n a r n y a d i u n ­t u n g k a n adanya pen­ingkatan volume laut secara perlahan ini. Tingkat optimal untuk pertumbuhan karang menyebar pada kisa­ran kedalaman 10 meter. Hal ini memungkinkan karang da­pat bertahan atau tumbuh te­rus di banyak tempat. Dengan demikian, akan terbentuk kolonisasi karang baru (ter­masuk rumput laut), asal eko­sistem ini tidak dirusak aktivi­tas manusia.

Untuk rekayasa ekosistem terumbu karang dapat dilaku­kan dengan memelihara de­ngan baik dan dilakukan trans­plantasi karang. Ini terutama di wilayah yang mengalami keru­sakan karena penangkapan ikan.

Kemudian, ekosistem rum­put laut mampu menyerap se­kitar 190 juta ton karbon setiap tahu,n seperti diungkapkan dalam jurnal Nature Geosci­ence September 2016 oleh Krause-Jensen dan Duarte. Rumput laut juga bermanfaat untuk pelindung wilayah pesi­sir dari erosi serta mengurangi pengasaman laut.

Dengan wilayah pantai yang luas, investasi rumput laut sa­ngat menguntungkan karena manfaatnya bagi kesehatan. Riset terbaru dalam jurnal Advanced Materials Mei 2019 oleh Forget dan kolega me­nemukan, rumput laut dapat digunakan terapi regeneratif yang dapat mengembalikan fungsi tubuh melalui rekayasa jaringan atau organ.

Dengan konservasi ketiga ekosistem pesisir ini, Indone­sia optimistis dapat menahan laju peningkatan suhu 1,5 de­rajat tahun 2050. Ini sesuai de­ngan komitmen Indonesia da­lam Perjanjian Paris 2015. Hal ini dapat dilihat sebatai kon­tribusi besar karbon biru seba­gai perwujudan visi Indonesia “Poros Maritim Dunia.”

Isu tersebut akan dikemu­kakan dalam pertemuan ke-25 Conference of the Parties awal Desember 2019 di Santiago, Chili. Semoga konsep adap­tasi dan mitigasi ini mengin­spirasi negara lain untuk juga berkomitmen melawan ben­cana iklim yang menghantui Bumi. Penulis mahasiswa program Doktor Klimatologi Terapan IPB

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment