Koran Jakarta | April 26 2019
No Comments

Perbedaan “Mindset” Pedagang dan Pebisnis

Perbedaan “Mindset” Pedagang dan Pebisnis
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Setiap Pebisnis Harus Punya Buku Ini Penulis : Dini Hertita

Tebal :181 halaman

Penerbit : Elex Media Komputindo

Cetakan : 2018

ISBN : 978–602- 04-7725-1

Sekilas tampak sama antara pedagang dan pebisnis, yakni sama-sama menjual sesuatu demi mendapatkan keuntungan. Padahal, keduanya beda dari segi pola pikir atau mindset. Pedagang berfokus pada keuntungan tanpa menghiraukan prospek dagangannya, sedangkan pebisnis sebaliknya. Perbedaan mindset ini memengaruhi bentuk pelayanan, loyalitas pembeli, kualitas komoditas, dan perhitungan modal. Jumlah pedagang mudah meningkat dan mudah pula gulung tikar. Pebisnis berjumlah sedikit namun mengusai 80 persen perputaran uang.

Menurut Dini Hertita, penulis buku ini, pedagang berobsesi dagangannya yang sedang dijual segera laku namun tidak memikirkan bagaimana caranya pembeli selalu datang. Dengan habisnya barang yang sedang dijual, mereka puas. Mereka tidak pernah memperhitungkan kepuasan pembeli atas pelayanan dan kualitas barang yang mereka beli. Seolah laris hari ini adalah segalanya. Tidak hirau mereka akan kembali membeli besok atau tidak.

Pebisnis berpikirnya ke depan. Setiap pembeli adalah aset. Pebisnis harus betul-betul memberikan kepuasan pelayanan dan kualitas barang. “Hal yang menjadi tolok ukurnya adalah peningkatan pelanggan loyal dan terjadinya pembelian berulang,“ tulis Dini Hertita (hlm 6).

Loyalitas pembeli dibangun, di antaranya dari kemudahan dalam transaksi. Sebab itu, melayani pembeli harus profesional. Menjadikan mereka raja. Setiap kebutuhan mereka dipenuhi dengan cepat dan tepat. Buku ini menjelaskan sebagai sample bahwa ojek online lebih mudah mendapatkan pelanggan loyal dari ojek konvensional karena kemudahan yang mereka berikan.

Fokus terhadap keuntungan adalah basis jual beli. Kadang ini disalahgunakan oleh pedagang dengan menarget untung besar pada satu kali transaksi. Akibatnya pembeli enggan mau membeli lagi karena menganggap kemahalan. Meringankan beban keuangan pembeli sangat penting.

Dini mengajak agar pedagang meniru prinsip bisnis orang Tionghoa. Mereka mengambil keuntungan kecil dari tiap barang yang mereka jual. Namun mereka memiliki banyak pembeli loyal sehingga traksaksi semakin pesat terjadi (hlm 50).

Pedagang biasanya tidak fokus pada satu barang. Komoditas yang mereka jual musiman atau digantungkan pada segmen pembeli pasa satu kurun waktu. Tujuannya agar modal mereka segera kembali dan keuntungan besar bisa cepat mereka dapatkan. Tanpa memiliki spesifikasi komoditas yang dijual, pedagang tidak memiliki trademark. Penguasaan terhadap detail satu komoditas sangat diperlukan. Pembeli tidak hanya membeli. Mereka kadang memerlukan informasi tentang barang yang hendak dibeli. Merupakan kepuasan jika penjual bisa memberikan informasi yang diperlukan secara detail. “Tak hanya dokter, menjadi spesialis juga perlu bagi pebisnis, “ kata buku ini (hlm 59).

Kelemahan pedagang juga ada pada tiadanya tim kerja yang solid dalam bentuk jaringan dan sistem yang mapan. Pedagang biasanya setiap hari rutin menjajakan dagangan mereka. Jika sakit, mereka tidak bisa menjual. Pendapatan tidak ada. Modal terancam habis. Pebisnis mengandalkan sistem dan kerja tim. Kendatipun sakit, penjualan tetap berjalan. Pebisnis tidak hanya memiliki karyawan, namun reseller sebagai partner penjualan. Ini lagi-lagi persoalan mindset. Pebisnis tidak memikirkan keuntungan besar dalam sekali jual. Mereka fokus pada penjualan keberlanjutan dengan level transaksi yang lebih luas dan lebih banyak. Dengan membangun jaringan kerja dengan reseller hasil bagi keuntungan yang mereka dapatkan kecil. Padahal jika ditotal dengan banyaknya penjualan barang, margin keuntungan mereka sangat besar (hlm 152).

Buku ini ditulis Dini Hertita berdasarkan pengalamannya membangun bisnis catering, ikan dan aneka sambal. Tidak heran jika Dini mengerti bagaimana pola pikir pedagang dan pebisnis serta prospek keduanya. Lewat buku ini, Dini mengajak pedagang agar meningkatkan kemampuannya sehingga bisa berpikir seperti pebisnis. Dia juga menjelaskan strategi jitu mengemas barang dagangan, langkah-langkah menghadapi kompetitor, memanfatkan komplain pembeli, dan juga pentingnya membidik pemasaran lewat jalur komunitas. 

Diresensi oleh Habibullah, Alumnus Pascasarjana UIN Malang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment