Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Ketersediaan Lahan Jadi Sorotan Utama Investor Mancanegara

Perbaikan Iklim Investasi Mesti Komprehensif

Perbaikan Iklim Investasi Mesti Komprehensif

Foto : Sumber: Global Competitiveness Index – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>>Indeks daya saing global Indonesia di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

>>Persentase FDI terhadap PDB Indonesia meningkat, tapi masih tertinggal di ASEAN.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai pasar Indonesia sebenarnya memiliki pros­pek cukup besar untuk menarik investor asing. Namun, yang banyak memuncul­kan persoalan adalah pada faktor pendu­kungnya, seperti ketersediaan lahan, ke­tersediaan tenaga kerja, bahan baku, serta dukungan dari sistem yang ada.

Meski begitu, perbaikan sejumlah kom­ponen pendukung iklim investasi dan daya saing tersebut tidak bisa dilakukan secara parsial, sehingga harus dijalankan secara komprehensif dan serentak.

“Saat ini yang saya lihat, pasar domestik kita bagus. Tapi masalahnya, tantangan uta­manya banyak persoalan mulai dari kon­sistensi kebijakan, masalah perburuhan, masalah lahan, perizinan, dan ketersedia­an infrastruktur, serta ketersediaan bahan baku. Jadi, banyak sekali tantangan daya sa­ing investasi kita,” kata ekonom CORE, Piter Abdullah, di Jakarta, Senin (7/1).

Menurut dia, salah satu tantangan yang paling mendapat sorotan adalah soal ke­tersediaan lahan. Di Vietnam, para investor sangat mudah mendapatkan lahan karena difasilitasi oleh negara. Namun, tidak begitu halnya dengan Indonesia.

“Kita sering kalah dengan Vietnam, ka­rena di Vietnam itu kan sosialis, lahan di­kuasai negara. Sehingga ketika investor ma­suk, dan pemerintah bilang iya, lahan pasti tersedia. Kalau di Indonesia, sudah bilang iya, izin prinsip sudah keluar, untuk mem­bebaskan lahan itu perlu perjuangan ter­sendiri,” papar Piter.

Dia menekankan untuk memperbaiki persolan yang sangat kompleks ini tak bisa diselesaikan satu per satu, melainkan harus secara bersamaan. “Kita tidak bisa misalnya memperbaiki izinya saja, kebijakannya ma­sih maju mundur. Misalnya, masalah perbu­ruhan kita perbaiki, infrastruktur nggak kita sediakan. Nggak bisa juga. Jadi yang harus dilakukan komprehensif dan justru effort-nya di sana. Mengidentifikasi mana saja, se­mua itu harus diselesaikan secara serentak,” tukas dia.

Terkait dengan posisi daya saing Indo­nesia, Indeks Daya Saing Global atau Glo­bal Competitiveness Index 4.0 dengan me­todologi baru edisi 2018 yang dirilis WEF di Jenewa, Swiss, Oktober 2018, menempat­kan Indonesia di peringkat ke-45 dari 140 negara. Posisi Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand yang ma­sing-masing menempati posisi kedua, ke-25 dan ke-38.

Laporan daya saing global 2018 juga menyebutkan bahwa di tengah perubahan teknologi yang cepat, polarisasi politik dan pemulihan ekonomi yang rapuh, sangat penting untuk mendefinisikan, menilai, dan mengimplementasikan jalur baru pertum­buhan dan kemakmuran.

Sebelumnya, ekonom Faisal Basri, juga mengungkapkan bahwa investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) di Indonesia merupakan yang terkecil di an­tara negara Asia Tenggara.

Menurut dia, persentase FDI terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebenarnya meningkat, namun masih jauh dibandingkan banyak negara di Asia Teng­gara lainnya. Persentase Indonesia berkisar 24,1 persen pada periode 2011–2016, naik dari kisaran 16,2 pada periode 2005–2010.

“Peranan asing meningkat, tapi levelnya masih di bawah rata-rata FDI Asia Tenggara sebesar 66 persen dari PDB,” kata Faisal.

Dampak Pemilu

Menyinggung soal dampak pemilihan umum (pemilu) serentak terhadap minat in­vestasi asing di Indonesia, Piter berpendapat memang benar pemilihan presiden biasanya akan membuat para investor akan menunda investasinya di suatu negara. Namun, pilpres sebenarnya hanya siklus tahunan dan bukan tantangan utama daya saing investasi Indo­nesia. “Kalau pilpres itu lebih ke siklus yang membuat investor terpaksa menunda. Ia akan melihat atau wait and see saja. Yang jadi tantangan utama investasi itu adalah return dan prospek, serta berbagai faktor teknis dan nonteknis,” jelas dia.

Piter pun membandingkan iklim inves­tasi di Indonesia dan Vietnam. Dari segi prospek, hal pertama yang akan dilihat ada­lah pasar. Apakah pasar yang dituju itu do­mestik, atau investasi di Indonesia hanya akan menjadikannya sebagai basis produksi dan menjualnya ke pasar global. “Jadi ka­lau saya sebagai investor, saya akan melihat pasar domestik atau global. Kalau pasar do­mestik, kita sebenarnya punya kelebihan. Kita punya pasar yang jauh lebih besar dari­pada Vietnam,” ujar dia.

Akan tetapi, lanjut Piter, jika investor ingin menjadikan suatu negara itu sebagai basis produksi dan pasarnya itu pasar glo­bal, tidak ada masalah bagi investor untuk menanamkan modal di Indonesia maupun di Vietnam. ahm/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment