Koran Jakarta | August 20 2019
No Comments

Perang Dagang Jilid Dua

Perang Dagang Jilid Dua
A   A   A   Pengaturan Font

Perundingan putaran akhir tentang perdagangan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, di Washington, akhir pekan lalu, berujung buntu. Delegasi Tiongkok yang dipimpin Wakil Perdana Menteri, Liu He, pulang ke Beijing tanpa kesepakatan.

Tanda-tanda kesepakatan AS-Tiongkok berlangsung alot sudah terindikasi sejak delegasi AS yang dipimpin Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, dan Perwakilan Dagang, AS Robert Lighthizer, tak pernah sesumbar suk­ses. Mereka seolah memilih diam setelah bertemu delegasi Tiongkok. Sesekali mereka sampaikan bahwa perundingan berlangsung lancar, namun belum menemukan titik temu.

Terkesan, peran delegasi AS seolah-olah sekadar ada karena yang muncul ke permukaan justru sikap Presiden AS Donald Trump. Hitung punya hitung, hampir setiap kali berlangsung pertemuan, Trump selalu menyalahkan Tiongkok. Terakhir, saat delegasi Tiongkok bertandang ke AS untuk berunding, Trump justru memerintahkan Ke­menterian Perdagangan menaikkan tarif terhadap produk Tiongkok senilai 200 miliar dollar AS.

Bahkan, Bea Cukai AS diperintahkan mengenakan bea masuk 25 persen bagi kapal kargo yang meninggalkan Tiongkok setelah pukul 12:01 pagi EDT (0401 GMT) pada Jumat (10/5). Lebih dari 5.700 kategori produk yang terke­na dampak. Sementara itu, yang meninggalkan pelabuhan dan bandara Tiongkok sebelum tengah malam akan dike­nakan bea 10 persen.

Tak cuma itu, Trump sesumbar berhasil mendapat penghasilan dari kebijakan tarif dan membuat Tiongkok kalah. Trump juga menu­ding Beijing sengaja mengulur-ulur waktu kesepakatan sampai dengan pemilihan presiden mendatang. Tujuannya agar bisa bernegosiasi dengan pemimpin baru AS.

Sementara itu, para pendu­kungnya memuji Trump sebagai negosiator tangguh.

Tiongkok memang tidak lang­sung terpancing seperti sikap sebel­umnya, ikut-ikutan menaikkan tarif produk AS. Namun, respons global terlalu cepat. Inilah sebabnya, se­jumlah pasar modal dan nilai tukar mata uang negara-negara berkem­bang langsung anjlok. Ini menan­dakan kekhawatiran masa depan perdagangan global akan suram.

Terbayangkan pula tentang kondisi perang dagang jilid per­tama, banyak negara terancam kri­sis. Bahkan, Indonesia pun tak bisa mengelak, mengalami pelemahan ekonomi dan terbebani selisih nilai tukar untuk membayar utang. Kondisi ini mau tak mau mengganggu target pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi.

Kini, kita mesti mewaspadai sikap Tiongkok terhadap AS. Sebab, Tirai Bambu dinilai memiliki banyak opsi untuk membalas AS. Kemungkinan dia akan menerapkan sanksi yang melampaui tarif perdagangan barang. Dengan kata lain, Tiongkok masih memiliki banyak alat dalam gudang dan telah menyiapkan rencana darurat untuk menghadapi eskalasi perang perdagangan.

Tiongkok tidak hanya akan bertindak sebagai master kung fu dalam menanggapi trik AS, tetapi juga sebagai petinju yang berpengalaman dan dapat memberikan pu­kulan mematikan. Sebab, Tiongkok telah dipersiapkan untuk perang dagang yang sengaja diperpanjang AS. Tion­gkok tidak hanya memiliki tekad dan kemampuan, tetapi juga kemauan untuk berperang berkepanjangan.

Produk pertanian AS akan menjadi target utama alami untuk pembalasan, terutama gandum, jagung, dan babi. Jika ini terjadi akan secara langsung menargetkan bagian pen­ting dari basis pemilihan Presiden AS, Donald Trump, men­jelang pemilihan 2020. Tiongkok juga bisa memberi sanksi kepada pesawat dan kendaraan AS, sehingga mempersulit produk-produk ini untuk memasuki pasar Tiongkok.

Trump boleh saja sesumbar merasa menang. Namun, jangan salahkan jika petani AS, produsen otomotif AS, dan Boeing kehilangan pendapatan akibat perang dagang jilid dua ini.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment