Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Perlu Fokus pada Pengembangan Industri Berbasis Ekspor

Perang Dagang Hambat Perbaikan Defisit Transaksi Berjalan

Perang Dagang Hambat Perbaikan Defisit Transaksi Berjalan

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
>> RI mesti manfaatkan Jalur Sutra Modern untuk reindustrialisasi dan perbaiki CAD.

>> Defisit Transaksi Berjalan belum cukup rendah untuk topang pertumbuhan tinggi.

JAKARTA – Sejumlah kalangan menilai perbaikan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia berpotensi terhambat oleh meningkatnya kembali tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, mengatakan perbaikan CAD dapat terhambat oleh tingginya kembali tensi perang dagang belakangan ini. “Proyeksi neraca transaksi berjalan ke depan dipengaruhi oleh perang dagang AS dan Tiongkok yang dapat mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia,” kata Satria, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, saat ini AS dan Tiongkok merupakan negara tujuan utama ekspor Indonesia dan menyumbang sekitar 25,87 persen total ekspor nasional. Dengan potensi tingginya perang dagang antara kedua negara, maka permintaan dari mitra dagang tersebut akan berkurang, dan dalam jangka pendek mengurangi ekspor Indonesia. “Saat ini, potensi peningkatan proteksionisme di seluruh dunia bahkan telah menurunkan volume pengiriman barang secara global ke tingkat terendah,” ungkap Satria.

Menurut dia, setiap perkembangan negatif dalam perdagangan global dapat menyulitkan pembuat kebijakan untuk memperbaiki neraca keseimbangan eksternal. Sebelumnya dikabarkan, CAD Indonesia pada kuartal I-2019 sebesar 2,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Akan tetapi, angka CAD tersebut dinilai belum cukup rendah untuk menopang pertumbuhan ekonomi tinggi seperti keinginan pemerintah.

Oleh karena itu, untuk menekan angka defisit transaksi berjalan atau membenahi masalah struktural ekonomi RI yang telah akut tersebut, pemerintah diminta mengendalikan impor, terutama melalui pengembangan industri substitusi impor. “Defisit transaksi berjalan memang turun, tetapi nilainya masih kurang berarti.

Selama defisit itu ada akan mengurangi target pertumbuhan 0,5 sampai satu persen,” kata pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga, Suroso Imaºm Zadjuli. Bank Indonesia melaporkan neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal I-2019 mengalami defisit tujuh miliar dollar AS, atau 2,6 persen dari PDB. Defisit itu meningkat jika dibandingkan dengan periode sama 2018 yang sebesar 5,5 miliar dollar AS (2,1 persen).

Akan tetapi, defisit itu lebih rendah bila dibandingkan dengan kuartal IV-2018 yang sebesar 9,2 miliar dollar AS (3,6 persen). Sementara itu, ekonom Indef, Andry Satrio, mengatakan pemerintah harus mengambil keuntungan dari kerja sama dengan Tiongkok, Belt and Road Initiative (BRI) atau Jalur Sutra Modern.

Caranya, selain menciptakan reindustrialisasi juga bisa memperbaiki defisit transaksi berjalan. Menurut dia, BRI seharusnya bukan lagi pada pembangunan infrastruktur yang memudahkan barang konsumsi Tiongkok langsung dikonsumsi oleh masyarakat RI.

Ke depan, kerja sama itu perlu lebih fokus pada pengembangan industri domestik yang berbasis ekspor. “Saya rasa dengan cara ini ke depan, Indonesia dapat mengambil manfaat. Mulai dari harapan reindustrialisasi hingga perbaikan CAD kita,” ujar Andry.

 

Strategi Pemerintah

 

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, mengemukakan CAD menjadi masalah menahun sejak 2012. Untuk itu, pemerintah telah memasukkan upaya mengatasi defisit transaksi berjalan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024.

“Lima tahun di RPJMN kami berupaya memperbaiki defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan,” kata dia, pekan lalu. Menurut Bambang, CAD disebabkan oleh neraca dagang yang defisit atau surplusnya masih kecil. Pemerintah telah merumuskan upaya peningkatan ekspor, baik ekspor sumber daya alam dan produk manufaktur. Selain itu, ekspor jasa juga akan ditingkatkan dengan mendorong jasa pengangkutan kapal.

Hal ini diharapkan mampu memperbaiki kinerja neraca jasa Indonesia. Langkah tersebut juga diiringi peningkatan devisa dari sektor jasa. Caranya, pemerintah akan menggenjot pariwisata guna mendorong turis masuk ke dalam negeri. Konsumsi turis di dalam negeri dapat menambah devisa Indonesia.

Kemudian, sektor jasa yang masih defisit juga akan diperbaiki. Adapun neraca jasa Indonesia juga mengalami defisit tahunan. Pada 2018, beberapa sektor jasa yang menyebabkan defisit, antara lain transportasi, pemeliharaan dan perbaikan, keuangan, penggunaan hak cipta, serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Menko Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan pemerintah akan meningkatkan investasi dalam lima tahun ke depan. Fokusnya adalah mendorong investasi berorientasi ekspor. 

 

ers/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment