Koran Jakarta | April 21 2019
No Comments

Peran Vital Pegadaian

Peran Vital Pegadaian

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Yulia Kusumaningrum

Prospek usaha PT Pegadaian yang dipaparkan di Harian Koran Jakarta (9/1/2019) menarik perhatian publik. Masyarakat selama ini menjadikan pegadaian sebagai katub penyelamat kebutuhan mendesak keluarga. Transformasi bisnis dan inovasi pegadaian diharapkan tidak menjauh dari entitas pedagang kecil atau usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). Inovasi produk yang menyasar kaum milenial sebagai nasabah diharapkan bisa berdampak positif untuk membangun produk lokal dan entitas pasar tradisional.

Direksi PT Pegadaian memproyeksikan pertumbuhan jumlah nasabah pada 2019 sebesar 23,4 persen atau menjadi 12,3 juta nasabah. Nasabah Pegadaian pada 2018 naik 9,4 persen atau mencapai 10 juta dari posisi sepanjang 2017 sekitar 9,5 juta nasabah. Meskipun pegadaian telah melakukan transfomasi bisnisnya sesuai dengan tren ekonomi digital, harus tetap berkomitmen menggarap nasabah golongan ekonomi lemah.

Langkah Pegadaaian meluncurkan Pegadaian Digital Service (PDS) merupakan jawaban dari kebutuhan milenial yang sudah akrab dengan layanan keuangan berbasis digital. Selain perusahaan gadai BUMN, usaha pegadaian Tanah Air berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2018, jumlah perusahaan gadai swasta yang telah mendapat izin ada 16 perusahaan, sedangkan yang baru terdaftar di OJK sebanyak 41 perusahaan gadai.

Selain fokus pada layanan konvensional, Pegadaian juga menumbuhkan bisnis syariah, di antaranya murabahah yakni akad untuk transaksi jual beli dan rahn yang merupakan akad dalam proses gadai barang. Selain itu, dia meluncurkan produk baru untuk menjawab tuntutan zaman seperti produk Rahn Hasan berupa pinjaman hingga 500 ribu rupiah, tanpa biaya titipan.

Untuk bisa terus tumbuh dan berinovasi, Pegadaian menerapkan konsep G-Star Generation melalui 5G’s: Ini adalah grow core (menumbuhkan bisnis utama), grab new (menangkap peluang baru), groom talent (mengembangkan talenta internal), gen-Z Tech (teknologi generasi Z), dan great culture (budaya perusahaan yang hebat).

Langkah Pegadaian yang getol menyasar generasi milenial dengan mendirikan tempat ngopi “The Gade Coffee & Gold” untuk menarik kids zaman now. The Gade untuk menambah kenyamanan nasabah dalam transaksi di pegadaian. Selain melalui pembukaan The Gade, dia juga meluncurkan gadai tanpa bunga untuk pinjaman maksimal 500 ribu untuk mahasiswa, buruh, dan ibu rumah tangga.

Basis Usaha

Pegadaian harus menjadikan pasar tradisional sebagai basis usahanya. Sebab selain menjadi entitas perekonomian rakyat, pasar tradisional sebetulnya juga merupakan entitas sosial dan kebudayaan. Pegadaian perlu mendorong agar kebudayaan pasar tradisional terus bergairah. Untuk harus terus ada terobosan agar pasar tradisional semakin bersinar. Pranata sosial dan tingkat kebudayaan suatu bangsa bisa dilihat dari kondisi pasar yang berdenyut kencang di tengah perikehidupan rakyat.

Kegiatan pasar tradisional bisa menjadi sumber inspirasi warga, utamanya kaum milenial. Generasi muda perlu disadarkan bahwa peran pasar tradisional tidak sekadar tempat jual beli bahan pokok. Dia juga bisa menjadi tempat rekreasi dan wahana kreativitas. Banyak seniman dan ilmuwan memperoleh inspirasi dari pasar tradisional.

Bahkan, lagu nasional Padamu Negeri karya Kusbini juga diciptakan di tengah Pasar Kembang, Yogyakarta. Masih banyak maestro seni dan budaya negeri ini diinspirasi pasar tradisional. Pasar Klewer Solo bagi mendiang Presiden Soeharto telah menjadi sumber inspirasi pembangunan.

Di tingkat dunia ada budayawan peraih Nobel yang kesehariannya berkarya di tengah pasar. Dialah Najib Mahfuz, seorang penulis novel terkenal Mesir yang mendapat hadiah Nobel Sastra tahun 1988. Kini warung dan kedai kopi di pasar bernama El Khalili yang dulu menjadi tempat berkreasi dan berkontemplasi si peraih Nobel itu telah menjadi destinasi wisatawan dunia yang sangat terkenal. Bahkan, warung dan kedai tersebut kini dikelola hotel berbintang lima sebagai ikon.

Bagi sang peraih Nobel, pasar tradisional El Khalili merupakan sumber inspirasi. Dia mengamati orang-orang hilir mudik dan berniaga yang merasakan keriuhan pasar sambil minum kopi. Meja kursi kedai kopi yang menjadi sudut kontemplasi Najib Mahfuz itu, kini masih dipertahankan apa adanya. Malahan sekarang disediakan pula buku-buku hasil karyanya. Pengunjung bisa menikmati minuman sambil membaca buku-bukunya.

Usaha pegadaian sepertinya sangat dekat dengan kaum ibu. Data tahun 2017 nasabah Pegadaian mencapai 9,5 juta orang. Dari jumlah tersebut, nasabah perempuan mencapai 72 persen. Pegadaian menjadi saksi peran kaum ibu dalam menghalau krisis ekononi, sangat besar. Tak bisa dimungkiri, selama ini ibu memiliki instrumen penghalau krisis yang kuat.

Tantangan dan rintangan kaum ibu di masa depan semakin berat dan kompleks. Untuk itulah peran pegadaian diharapkan bisa ditingkatkan. Ibu merupakan profesi yang secara kodrati bersifat multitasking karena harus melahirkan, mengurus rumah tangga, dan mencukupi kebutuhan keluarga. Semakin banyak kaum perempuan yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Tetapi juga semakin banyak perempuan yang terjerat rentenir karena terpaksa berutang demi untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Peran pegadaian sangat penting untuk menyelamatkan kaum perempuan dari bermacam modus rentenir alias lintah darat.

Pegadaian perlu mencermati survei dan laporan McKinsey, konsultan terkemuka dunia. Dalam laporannya “How Helping Women Helps Business” secara garis besar McKinsey menyatakan, perempuan telah berperan meningkatkan dua persen Produk Domestik Bruto suatu negara. Semua itu karena adanya insentif dan pinjaman modal usaha yang berbunga rendah.

Perlu pemberian insentif oleh pegadaian bagi para TKI perempuan yang akan dan telah bekerja di luar negeri maupun di luar daerah. Insentif bisa berupa pemberian dana talangan maupun fasilitas yang terkait dengan kebutuhan anaknya yang ditinggalkan. Di perdesaan semakin banyak wanita yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Kondisi tersebut perlu disikapi pegadaian dengan inovasi sosial yang relevan. 

Penulis meminati masalah sosial kemasyarakatan

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment