Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments
PERADA

Peran Nutrisi untuk Mencegah “Stunting”

Peran Nutrisi untuk Mencegah “Stunting”

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

 

 

Sekarang semakin banyak anak mengalami stunting. Dulu, hal demikian kebanyakan diderita masyarakat menengah ke bawah. Sekarang, banyak juga yang diderita kalangan menengah atas. Indonesia menempati lima besar dari seluruh dunia sebagai negara dengan angka stunting terbesar.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak karena kekurangan gizi kronis atau berkepanjangan. Kondisi kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan masa awal setelah lahir, tepatnya 1.000 hari pertama. Tanda pengidap stunting, berat badan bocah tidak naik atau naik, tetapi tidak sebanyak yang seharusnya. Lama-kelamaan tinggi badannya pun akan terpengaruh.

Supaya tidak tampak terlalu kurus, tubuh secara alamiah akan berkompensasi dengan tidak menumbuhkan tinggi badan. Meskipun sekilas mata tampak baik-baik saja, tidak begitu kurus, namun tubuhnya lebih pendek dari anak-anak sebayanya (hlm ix). Stunting sulit sekali diperbaiki. Bahkan, stunting juga punya banyak dampak merugikan lainnya.

Penelitian di Guatemala melakukan perbandingan terhadap anak-anak usia 3 tahun stunting dengan bocah normal. Maka, 35 tahun kemudian, yang normal memiliki kemampuan kognitif lebih tinggi. Sedang, yang dulu stunting, lebih banyak menjadi pekerja kasar.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa anak-anak yang stunting lebih berisiko terkena penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, jantung coroner, hipertensi, dan obesitas saat dewasa. Banyak penelitian lain menunjukkan, anak yang menderita malnutrisi berisiko lebih tinggi tumbuh dewasa yang kurang berpendidikan, miskin, kurang sehat, dan lebih rentan terhadap penyakit.

Itulah sebabnya, angka malnutrisi di suatu negara dapat dijadikan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia negara tersebut dan menurunkan produktivitas satu bangsa di masa datang. Ada beberapa cara menghindari stunting. Berilah perhatian khusus pada masa nutrisi anak. Jika berat badan anak tidak naik setiap bulan atau bahkan turun, segeralah berkonsultasi kepada dokter.

Cara lain yang tak kalah penting, memastikan anak mendapat sumber nutrisi terbaik yaitu ASI eksklusif. Jangan lupa menjaga kebersihan lingkungan (hlm 91). Kegunaan nutrisi untuk 1.000 hari pertama anak untuk membantu perkembangan otak, mengoptimalkan pertumbuhan tubuh, dan mengatur metabolisme tubuh anak.

Adapun pada jangka panjang, dia mengoptimalkan kemampuan kognitif, kekebalan tubuh, kapasitas kerja, serta menurunkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes, stroke, jantung, obesitas, dan kanker. Kekurangan nutrisi di periode ini memiliki efek jangka panjang yang susah diperbaiki setelah anak berusia dua tahun. Sebab, perkembangan otak manusia terjadi hanya sampai di usia dua tahun.

Rentang usia ini menentukan kualitas hidup anak seumur hidup. Kekurangan nutrisi 1.000 hari pertama bersifat permanen dan susah diperbaiki (hlm 131). Kekurangan zat besi adalah bentuk malnutrisi yang paling umum di dunia. Secara global diperkirakan 47 persen anak usia prasekolah dan 42 persen wanita hamil mengalami anemia.

Setengahnya karena defisiensi besi. Masa puncak kebutuhan zat besi saat janin masih dalam kandungan dan masa bayi berusia 6 bulan sampai 3 tahun. Apabila anak di usia tersebut kekurangan zat besi, sangat berisiko terjadi gangguan perkembangan saraf. Buku ini berisi tanya jawab interaktif antara orangtua dan penulis buku tentang ragam nutrisi. Ada sekitar seribu persoalan yang dibahas secara ringkas yang bisa dibaca secara acak sesuai dengan persoalan nutrisi yang ingin diketahui. 

 

Diresensi Lailatul Qodariyah, Alumna Universitas Trunojoyo Madura

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment