Koran Jakarta | November 20 2018
No Comments

Peran Agama dalam Praktik Demokrasi

Peran Agama dalam Praktik Demokrasi
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Demokrasi dan Sentimentalitas

Penulis : F Budi Hardiman

Penerbit : PT Kanisius

Cetakan : 2018

Tebal : 304 Halaman

ISBN : 978-979-21-5525-9

 

Tak disangka demokrasi yang sangat rasional itu kini nyaris lumpuh dan semakin jauh dari rasionalitas? Nyatanya agama dan demokrasi tidak dapat begitu saja dipisahkan, sama dengan rasionalitas dan sentimentalitas sebagai kesatuan dalam diri manusia. Buku Demokrasi dan Sentimentalitas menyajikan pemikiran-pemikiran menyoroti sisi gelap demokrasi, yakni sentimentalitas.

Buku kumpulan tulisan dan seminar ini cocok untuk mendalami secara khusus filsafat politik. Demokrasi meskipun merupakan sistem yang terbaik dari pemerintahan lain, tetap saja menyimpan benih skandal. Leluhur filsafat barat, Plato dalam bukunya Politeia telah bicara soal itu.

Politik kontemporer di Eropa, Amerika Serikat, atau Indonesia menunjukkan, demokrasi tidak sedang bergulat dengan musuh ideologi luar, tapi dengan dirinya sendiri. Nyatanya, kelompok-kelompok radikal dalam negeri dengan cerdiknya memakai sarana demokrasi untuk memenangkan ideologinya yang tentu saja sangat tidak demokratis dan intoleran (hlm 10-11).

Maka, demi menjaga demokrasi baiklah nasihat Karl Jasper diindahkan. “Meskipun demokrasi toleran terhadap segala kemungkinan, tetapi demokrasi harus dapat menjadi intoleran terhadap intoleransi itu sendiri,” (hlm 71).

Secara normatif, demokratisasi suatu proses membuka peluang-peluang untuk kebebasan dan kesetaraan, sehingga setiap orang dapat menentukan diri dalam komunitas politis. Akan tetapi, secara faktual demokratisasi juga menghasilkan risiko-risiko, sehingga masyarakat disebut juga rakyat risiko oleh Ulrich Beck.

Di masa Orde Baru perbedaan pendapat diminimalisasi sedemikian rupa. Sebaliknya dalam demokratisasi perbedaan pendapat menjadi amat biasa. Padahal dengan cara itu berbagai risiko direproduksi dan didistribusikan ke tengah masyarakat, sangat tak terduga dan sulit diantisipasi sampai pada lingkup global seperti terorisme (hlm 124).

Selain itu, agama yang dalam tesis sekularisme dianggap tidak relevan, masih sangat berpengaruh sampai hari ini. Lantas, di tengah kebingungan demokrasi, apa peran agama? Apakah menjadi pengganggu ataukah pemicu demokrasi? Memang tidak mudah mengatasi problem persenyawaan agama dan politik dalam demokrasi kontemporer.

Boleh dikatakan, seluruh tradisi filsafat politik barat merupakan suatu upaya mengatasi problem tunggal itu. Begitu juga dengan buku ini. Tentu saja untuk menjawab persoalan yang sama dalam skop Indonesia. Berkaitan dengan peran agama dibahas: agama mengancam netralitas prosedural demokrasi, agama mengancam demokrasi pluralistis, agama membawa potensi dan kontribusi dalam demokrasi (hlm 25).

Berbeda dari bagian sebelumnya, bagian ketiga buku merupakan sebuah afirmasi peran publik agama di bawah Jürgen Habermas dan Nurcholis Madjid. Dari Habermas, kita optimis bahwa hubungan saling pengertian antara kelompok agamis dan sekular itu mungkin dicapai (hlm 195-214).

Kemudian, dari Madjid yang mengambil posisi komunitarian, kita percaya masyarakat madani ekuiprimordial dengan agama.

Maka, sangat mungkin nilai-nilai dalam demokrasi pluralistis dapat diambil dari tradisi religius (hlm 215-232). Akhirnya, dengan demikian agama kendati berbahaya bagi demokrasi tidak perlu dinafikan karena dapat berkontribusi demi kemanusiaan yang juga dijunjung demokrasi.


Diresensi Remigius Taolin, Program Studi Teologi S1 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment