Penyebab Kematian Utama pada Balita | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 21 2020
No Comments
Pneumonia

Penyebab Kematian Utama pada Balita

Penyebab Kematian Utama pada Balita

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Peringatan Hari Pneumonia Dunia pada bulan lalu menandai agar masyarakat menyadari akan penyakit tersebut.

Pneumonia atau radang paru merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati. Meskipun begitu, kurangnya edukasi masyarakat mengakibatkan pneumonia masih menjadi penyebab kematian utama pada balita. Di dunia, pneumonia menyebabkan kematian lebih dari 800 ribu balita setiap tahunnya atau 2.000 kasus per hari.

Sekitar 80 persen kematian akibat pneumonia pada anak terjadi pada kelompok usia kurang dari dua tahun dan kematian akibat pneumonia paling banyak terjadi di negara-negara berkembang seperti kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika. Di Indonesia pada 2018 lalu tercatat 19 ribu balita meninggal akibat pneumonia yang artinya lebih dari dua anak meninggal setiap jamnya diakibatkan dari penyakit radang paru ini. Pneumonia merupakan peradangan pada jaringan paru yang disebabkan virus, bakteri atau jamur.

Peradangan tersebut menghasilkan cairan yang memenuhi alveolus, sehingga alveolus sebagai tempat pertukaran oksigen di paru-paru menjadi terhambat. Akibatnya, oksigen yang masuk ke paru-paru menjadi terhambat dan merusak jaringan paru tersebut. Organ tubuh yang membutuhkan oksigen pun lama-lama kekurangan oksigen hingga menyebabkan kematian.Bakteri penyebab pneumonia yang paling banyak adalah pneumokokus atau Streptococcus pneumonia dan Hemophilus influenza tipe B (Hib).

Sementara virus yang mengakibatkan pneumonia adalah respiratory syncytial virus (RSV), selain dari virus influenza, rhinovirus dan virus campak yang menjadi komplikasi berupa pneumonia. “50 persen penyebab pneumonia diakibatkan dari pneumokokus, 20 persennya adalah Hib dan sisanya, 30 persen diakibatkan dari virus,” kata Nastiti Kaswandani, Ketua Ujian Kompetensi Kejuruan (UKK) Respirologi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Jakarta.

Gejalanya sendiri, umumnya akan terlihat seperti sedang menderita selesma dengan gejala batuk, pilek dan demam. Pada balita, pneumonia dapat terlihat apabila terjadi peningkatan laju napas hingga terjadi sesak napas yang semakin berat. Tanda balita mengalami sesak terjadi apabila adanya tarikan dinding dada bagian bawah setiap kali anak menarik napas.

Selain itu, napas cepat juga menjadi salah satu tanda anak mengidap pneumonia. “Batasan laju napas cepat pada bayi kurang dari dua bulan adalah lebih sama dengan 60 kali per menit, pada bayi 2 sampai 12 bulan adalah 50 kali per menit. Sedangkan usia 1 sampai 5 tahun adalah 40 kali per menit,” ujar Nastiti.

Cara mudah untuk mengetahuinya dapat mencoba mengukur menggunakan jam. Orangtua bisa menghitung tarikan napas dan laju napas anak selama semenit untuk mengetahui apakah laju pernapasannya normal atau tidak. Tak hanya itu saja, balita yang mengalami perburukan dengan gejala ditandai dengan gelisah, tidak mau makan atau minum, kejang, batuk rejan hingga head nodding menjadi gejala-gejala yang umum tampak terlihat pada balita penderita pneumonia.

“Kadang orang suka tidak sadar kalau kepala bayi bergerak-gerak sendiri itu dikatakan lucu, padahal bisa jadi itu pneumonia. Kepala bergerak itu adalah tanda bayi sedang kekurangan oksigen sehingga ia mencari cara salah satunya dengan menggerakan kepalanya,” jelas Nastiti.

Faktor Risiko

Kekebalan tubuh yang rendah bisa menjadi risiko tinggi untuk anak dengan pneumonia. Keadaan seperti usia muda di bawah 5 tahun, bayi prematur, malnutrisi, imunisasi tidak lengkap, infeksi HIV, penyakit jantung bawaan, lingkungan yang kumuh, padat, kotor, jorok, pajanan asap rokok dan polusi udara sekitar, menjadi keadaan yang bisa mengakibatkan kekebalan tubuh rendah pada anak.

Pada 2017, sebuah penelitian menemukan bahwa faktor risiko yang berperan pada kematian akibat pneumonia di Indonesia paling besar disebabkan gizi buruk sebesar 63 persen, asap kendaraan 17 persen dan pajanan asap rokok 15 persen. Karenanya, mencegah sejak awal dengan menyediakan lingkungan hidup yang sehat menjadi salah satu cara untuk memberikan perlindungan pada anak.

Mulai dari nutrisi yang cukup, ASI ekseklusif sampai bayi berusia 6 bulan, pemberian vitamin A, mencuci tangan dan udara pernapasan yang terbebas dari polusi, asap rokok, asap biomassa, asap kendaraan ataupun asap pabrik. Menurut penelitian, anak yang tidak mendapat ASI ekseklusif berisiko 15 kali lebih besar terkena pneumonia dibandingkan anak yang mendapat ASI eksklusif.

“Itu karena ASI mengandung semua zat yang diperlukan sehingga kecukupan gizi anak tercukupi. ASI juga memiliki kandungan zat imunoglobin yang baik untuk pertahanan tubuh dan itu tidak ada di susu formula,” jelas Nastiti.

Belum lagi karena pada balita sistem pertahanan tubuhnya masih belum sempurna, berbeda dengan orang dewasa sehingga apabila terjadi infeksi menjadi jauh lebih berisiko tertular penyakit pneumonia.

Ditambah, saluran pernapasan balita jauh lebih pendek ketimbang orang dewasa sehingga apabila terpapar bakteri dan virus penyebab pneumonia maka dengan cepat menjalar ke jaringan paru. Begitu pula dengan pipa napasnya yang berdiameter lebih kecil dan sempit, sehingga kalau terjadi peradangan dan membengkak, pernapasan menjadi tersumbat dan mengganggu jalan pernapasannya.

Cegah dengan Imunisasi

Menurut publikasi UNICEF 2015, upaya memerangi kematian terkait pneumonia dapat dilakukan melalui pencegahan dan pengobatan yang lebih baik terhadap infeksi. Cara pencegahan yang paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi. Pencegahan bayi dari penyakit pneumonia dengan diberikan imunisasi lengkap.

Imunisasi ini meliputi campak, pertusis, pneumokokus (PCV) dan Haemophilus influenzae tipe b (Hib). Seluruh imunisasi ini telah masuk ke program imunisasi nasional, meskipun untuk vaksin PCV belum masuk program. “Vaksin PCV ini sebenarnya bukan hal yang baru, tetapi baru diberikan pemerintah karena kita ketinggalan dan karena belum mampu.

Saat ini saja baru dua provinsi yakni Babel dan NTB, yang melaksanakan imunisasi tersebut,” ujar Nastiti. Dampak imunisasi sudah dapat terlihat dari pemberian imunisasi campak dan rubella yang dilakukan pada 2017 sampai 2018, dan menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Tentunya, adanya vaksin untuk pneumonia ini diharapkan dapat menurunkan angka prevalensi pneumonia, khususnya pada balita di seluruh Indonesia.

Namun, Aman B Pulungan, Ketua Umum IDAI menyayangkan beberapa orang yang kerap meragukan vaksin yang ada. “Di Turki, vaksin yang digunakan adalah vaksin dari Indonesia, sementara di Indonesia sendiri orang-orangnya masih ragu untuk menggunakan vaksin,” katanya.

Ia menuturkan, beberapa negara lainnya seperti Bangladesh dan Nepal pun menggunakan vaksin buatan Indonesia. Karenanya, ada baiknya masyarakat tidak meragukan penggunaan vaksin guna merasakan perlindungan dari bakteri dan virus yang menyerang tubuh. gma/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment