Koran Jakarta | October 14 2019
No Comments
Kanker Tulang

Penyakit Langka yang Perlu Diwaspadai

Penyakit Langka yang Perlu Diwaspadai

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

OMNI Hospitals Alam Sutera dan Sequis mengedukasi masyarakat Indonesia agar semakin peduli pada risiko kanker karena kanker merupakan penyakit ganas. Sel kanker dapat memakan sel sehat dan memperbanyak dirinya kemudian menyebar ke organ tubuh hingga menyebabkan kematian.

Salah satu jenis kanker yang cepat menyebar adalah kanker tulang. Kanker ini muncul pada sel tulang yang tumbuh tidak normal. Kasus kanker ini tidak banyak tetapi ter­masuk sulit disembuhkan.

Kanker tulang termasuk kanker yang tergolong langka dan sulit disembuhkan serta dapat menye­babkan kematian. Kanker tulang terjadi akibat adanya sel tulang yang bertumbuh tidak normal. Penyakit ini dapat dialami sejak usia anak hingga dewasa terutama pada perempuan usia produktif, yaitu usia 21-35 tahun.

Sedangkan untuk anak-anak yang memiliki riwayat kanker pada retina atau selaput jala mata (retinoblastoma) dan melakukan terapi kanker sejak kecil mempu­nyai risiko terkena kanker tulang.Penyebab kanker tulang sampai saat ini masih belum diketahui.

“Kanker tulang biasanya terkait faktor genetik, misalnya jika keluarga memiliki sindrom Li-Fraumen, disebabkan kesalahan gen yang diwarisi dari orang tua, penyakit Paget atau tulang rapuh akibat jaringan tulang baru secara perlahan menempati jaringan tu­lang lama (Paget’s disease), riwayat kanker mata (retinoblastoma), dan ada riwayat penyakit lainnya yang berkaitan dengan paparan sinar radiasi tinggi, maka risiko terkena kanker tulang akan lebih besar,” ungkap Fridolin Seto Pandu, Man­ager Medical Underwriter Sequis.

Ada beberapa kanker tulang yang dikenal, yaitu kanker tulang primer yang terbentuk dari sel-sel tulang dan pertama kali muncul di jaringan tulang, misalnya Osteo­sarcoma (osteogenic sarcoma) yang berasal dari sel tulang.

“Kanker tulang ini paling agresif dan paling banyak ditemukan. Ter­utama pada pria usia 10-30 tahun. Ada juga jenis lainnya yang dise­bur Chondrosarcoma, berasal dari tulang rawan. Jenis ini lebih sering ditemukan pada perempuan usia di atas 40 tahun,” jelasnya.

Selanjutnya, kanker Sarcoma Ewing, berkembang di tulang dan dapat juga berawal dari jaringan atau organ lain. Jenis ini banyak ditemukan pada usia anak hingga dewasa muda. Kanker tulang juga bisa merupakan kanker sekunder atau metastasis yang awalnya kanker terjadi di sel atau jaringan lain di tubuh kemudian menyebar ke tulang misal kanker prostat, pa­yudara, usus, dan paru kemudian menyebar ke tulang.

“Kanker tulang termasuk sulit dideteksi dini, tetapi jika ada ke­luhan nyeri pada tulang tertentu yang tidak kunjung sembuh dan semakin nyeri ketika beraktivitas, seperti tulang lengan atas dekat bahu, tungkai bawah (dekat lutut), tungkai atas, panggul, terjadi penu­runan berat badan secara drastis, atau badan terasa makin lemah maka sebaiknya segera periksa ke dokter,” tukasnya.

Ciri lain yang harus diwaspadai, seperti tangan atau kaki sering ter­asa dingin dan kesemutan hingga mati rasa. Jika sakit pada tulang tersebut memang ternyata terkena kanker dan dibiarkan dapat terjadi pembengkakan di area persendian sehingga akan sulit untuk digerak­kan dan nantinya akan semakin melemah, rapuh, dan berisiko pada terjadinya patah tulang.

“Ada juga yang mengira jika keseleo atau terkilir dapat menjadi pencetus kanker tulang. Kita tidak bisa mengabaikan hal ini tetapi sebaiknya ketika terjadi risiko sakit pada tulang jangan diabaikan. Biasanya dokter akan melakukan anamnesis dan pemeriksaan lanju­tan terutama jika terjadi kelemah­an dan mudah patah pada anggota badan yang keselo atau terkilir tersebut, “ imbuhnya. pur/R-1

Tergantung Tingkat Stadium

Moch. Nagieb, dokter spesialis bedah tulang, konsultan panggul & lutut OMNI Hospital Alam Sutera, mengatakan, dugaan kanker tulang pada pasien akan dilakukan dokter jika terdapat sejumlah gejala yang disebutkan sebelumnya. Namun, untuk memastikannya, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan.

“Biasanya, pada diagnosa medis, dokter akan melakukan anamnesis (menganalisa infor­masi riwayat kesehatan pasien), melakukan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti x-rays untuk melihat lokasi, ukuran serta bentuk dari kanker. Bisa juga menggunakan bone scan, ct scan, ataupun magnetic resonance im­aging (MRI) untuk melihat ukuran kanker dan sejauh mana penyeba­rannya di dalam atau area sekitar tulang,“ ujarnya.

Selain itu, kata Nagieb, untuk menegakkan diagnosis kanker tulang, dokter bisa melakukan biopsi. “Biopsi dilakukan untuk menentukan jenis kanker tulang dan stadiumnya dengan cara mengambil sedikit jaringan tulang yang terkena kanker untuk diteliti lebih lanjut dengan menggunakan mikroskop,” imbuhnya.

Selain biopsi, ada juga pemer­iksaan lain yang akan dilakukan, seperti pemeriksaan darah untuk melihat ada atau tidaknya pening­katan enzim alkaline phosphatase (enzim yang diproduksi oleh hati dan sebagian oleh tulang) dan laktat dehidrogenase (enzim yang ada di jaringan tubuh untuk mem­bantu memproduksi energi).

Setelah dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui jenis kanker tulang, dokter akan melakukan tindakan lanjutan sesuai dengan jenis dan stadium kanker tulang tersebut. Adapun kanker tulang memiliki 4 tahapan stadium, yaitu stadium 1, pada tahap ini kanker masih di satu area tulang atau belum menyebar dan tidak agresif selanjutnya, stadium 2, sama seperti stadium 1 namun kanker lebih agresif dan mulai membesar kemudian berkembang ke stadium 3, pada tahap ini kanker sudah menyebar ke lebih dari satu area, minimal berada di 2 lokasi pada satu tulang di tulang yang sama, dan kemudian pada tahap tertinggi adalah stadium 4, saat kanker sudah menyebar ke organ lain, seperti hati, paru, atau otak.

“Kemungkinan bertahan hidup pada pasien dengan kanker tulang tergantung pada jenis dan sejauh mana penyebaran kanker. Tingkat kelangsungan hidup diperkirakan dapat bertahan selama 5 tahun ke depan untuk keseluruhan kanker tulang pada dewasa dan untuk anak-anak sekitar 70 persen. Kank­er tulang dapat saja disembuhkan. Namun, tergantung dari stadium, tingkat penyebaran kanker serta respon terhadap pengobatan yang sudah dijalani,” ujarnya.

Beberapa terapi yang bisa dilakukan pasien, seperti pembe­dahan untuk mengambil jaringan kanker, pada beberapa kasus bahkan dilakukan rekonstruksi tu­lang atau penggantian tulang yang telah diambil. Pada kasus lainnya bisa juga dilakukan amputasi, kemoterapi dengan menggunakan obat anti kanker, atau radioterapi dengan menggunakan sinar x-ray berenergi tinggi.

Penderita kanker tulang dapat menambahkan perawatan paliatif selama menjalani terapi kankernya, meliputi teknik relaksa­si, emosional support, pengaturan makanan dan nutrisi. pur/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment