Koran Jakarta | June 25 2018
No Comments
Sirosis

Penyakit Hati Kronis yang Tak Bergejala

Penyakit Hati Kronis yang Tak Bergejala

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pasien yang sudah mengalami sirosis hati, maka pengobatan yang harus dilakukan adalah transplantasi hati. Transplantasi hati adalah terapi utama pada pasien yang sudah mengalami gagal hati.

Jumlah pasien penyakit hati kronis di Indonesia sudah berada di ting­kat yang mengkhawatirkan. Me­nurut data dari Kemenkes, jumlah pasien penyakit hati kronis mencapai 20 juta jiwa di mana 20-40 persen di an­taranya berpeluang mengembangkan penyakit menjadi sirosis hati. Kondisi ini tentu membuat fungsi hati meng­alami gangguan.

Penyebab penyakit hati bisa ber­macam-macam, salah satunya karena virus hepatitis. Jika organ hati terserang virus kondisinya akan bertambah parah, dan bila dibiarkan kondisinya menjadi fibrosis hati yang berlanjut ke sirosis. Jangka perkembangan dari penyakit hati itu memang terbilang lama, bisa 20-25 tahun, kemudian yang kian memperburuk keadaan penyakit ini cenderung sulit dideteksi karena tak bergejala, sehingga tak mengheran­kan apabila banyak pasien yang ‘kaget’ ketika mendapati kondisi kesehatan hatinya itu.

Untuk melawan penyakit mematikan itu yang perlu dilakukan ialah dengan transplantasi hati. Ketua Tim Trans­plantasi Organ dan Jaringan, Dr. dr. Hanifah Oswari, SpA(K) dalam acara konferensi pers tentang ‘Perkembang­an Transplantasi Hati’ di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) beberapa waktu lalu menceri­takan transplantasi hati merupakan terapi untuk gagal hati tahap lanjut, dan sudah mulai dikerjakan sejak 1963 pada orang mati (kadaverik), sedangkan transplantasi hati donor hidup mulai dikerjakan sejak 1988.

“Transplantasi hati yang dikerjakan di Indonesia saat ini hanya trans­plantasi hati donor hidup, yaitu sebagian hati diambil dari donor lalu dicangkokkan ke penerima hati (resipien). Kemudian di Indone­sia sendiri operasi transplantasi dimulai sejak 2006 di RSCM,” terangnya.

Perkembangan transplantasi hati di Indone­sia tidak terlalu pesat karena terbentur masalah medis, donor, dan lain sebagainya, sehingga hanya bisa dikerjakan pada 1 atau 2 pasien setiap tahunnya. Na­mun memasuki 2015 hingga kini, ada titik cerah dalam pengembang­an trans­plan­tasi hati khusus­nya di RSCM, kini mereka bisa mengerjakan 8-14 pasien/tahun.

Jumlah pasien yang telah dikerjakan hingga saat ini 47 pasien, terdiri dari 6 dewasa dan 41 anak. Selama 8 tahun, dari 47 pasien tersebut, angka bertahan hidup selama 1 tahun setelah operasi adalah 87 persen. Sementara, semua donor berhasil dioperasi dengan baik dan tidak menimbulkan komplikasi. Angka ini tidak berbeda dengan di luar negeri, misalnya Jepang yang menca­pai 89 persen.

Separuh Hati

Transplantasi hati pada donor hi­dup, hanya diambil sebagian hati. Ke­tua Departemen Medik Ilmu Bedah RSCM , Dr. dr. Toar J.M Lalisang, SpB(K)BD, menjelaskan sebagian hati yang diambil itu nantinya akan kem­bali ke volume sebelumnya, setelah 3 bulan.

“Memang ada ketakutan soal risiko adanya komplikasi karena sebagian hati yang didonorkan. Tapi sebenarnya tidak menakutkan. Sebagian hati yang didonor­kan akan utuh lagi,” kata Toar.

Untuk proses transplan­tasi hati, Toar menjelaskan ter­bagi menjadi delapan segmen. “Untuk transplantasi pada anak dari 8 segmen paling dibutuhkan cuma 2 segmen, sedangkan orang dewasa kira-kira 50 persen dengan pertimbangan hati yang tersisa tidak boleh mengganggu fungsi kehidupan pendonor,” ungkapnya.

Untuk menjadi pendonor tidak mu­dah, ada serangkaian prosedur yang terbilang ketat. Hal ini dilakukan guna menjamin keberhasilan transplantasi baik karena donor maupun resipien menghadapi risiko, sehingga dari awal harus sangat lengkap.

Untuk sampai ke tahap transplan­tasi, memang ada beberapa tahapan yang harus dilewati resipien maupun pendonor. “Skrining meliputi usia, go­longan darah, serta fungsi hati, ginjal, dan organ lain. Pendonor yang diterima harus berusia 18-60 tahun dan risipien kondisinya harus betul-betul baik apa­bila dilakukan operasi. Selanjutnya ada skrining CT Scan, MRI, termasuk biopsi untuk yakin betul jika livernya betul-betul normal, baru setelah itu bisa di­lakukan transplantasi,” ungkap Dokter Andri, dari Departemen IPD Divisi Gastroenterologi Hepatologi.

Tim dokter pun memiliki metode yang dikenal dengan MELD score, yaitu perhitungan yang menentukan boleh tidaknya transplantasi dilakukan. Kalau skornya kurang dari 15, maka fungsi hati masih cukup baik bisa diobati me­lalui obat-obatan. “Tapi kalau sudah lewat dari 30 tidak disarankan untuk melakukan transplantasi,” jelasnya.

Melalui rangkaian yang panjang itu, Andri menuturkan sebisa mung­kin donor menjadi pilihan alternatif saja. “Saat skrining dicari yang paling baik dan risiko paling ringan sehingga itu yang dipilih. Kadang-kadang saat skrining baru diketahui jika ada penya­kit yang memberatkan atau kelainan anatomi,” ungkapnya.

Khusus pendonor pun direkomen­dasikan tidak hanya satu orang, mesti ada pendonor alternatif untuk berjaga-jaga bila salah satu di antara pendonor tidak masuk kriteria yang tepat. ima/R-1

Jaga Keseimbangan Tubuh

Kunci utama untuk menjaga kesehatan organ hati dengan mengatur konsumsi dan pola makan sehat, ini perlu di­lakukan sedini mungkin agar dapat menjaga keseimbangan tubuh. Perlu diketahui hati merupakan salah satu organ tubuh yang ber­peran penting dalam sistem pencernaan.

Tak hanya itu fungsi hati lainnya yaitu mendetoksifikasi dan membersihkan tubuh dengan menyaring darah dari racun yang masuk melalui saluran pencernaan, kulit, dan sistem pernapasan. Agar fungsi penting hati ini ini berjalan maksimal, berikut makanan alami yang direkomendasikan untuk menjaga kesehatan hati.

  1. Sayuran berdaun hijau

Beberapa jenis sayuran berdaun hijau seperti bayam, kale, dan sawi merupakan beberapa jenis asupan makanan sehat yang memiliki banyak kandungan klorofil atau zat hijau daun. Zat hijau daun sangat berguna untuk mening­katkan efisiensi kinerja hati sehingga hati lebih sehat. Makin efisien hati dalam bekerja maka efek samping dari racun yang terkandung dalam makanan seperti pestisida dan kandungan logam berat dapat dihilangkan di dalam tubuh.

  1. Konsumsi buah kaya vitamin C

Tak dipungkiri buah-buahan yang kaya vitamin C sangat berguna seba­gai antiinflamator di dalam tubuh sehingga hati menjadi lebih sehat. Selain itu, kan­dungan vitamin C dalam buah-buahan juga berguna sebagai antioksidan alami yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh se­hingga tubuh tidak mudah terserang penyakit.

  1. Teh Hijau

Teh sejak dulu memang dikenal memi­liki manfaat super bagi kesehatan, teh hijau dalam hal ini memiliki kemampuan khusus menjaga kesehatan hati dan menangkal ber­bagai dampak negatif radikal bebas. Selain itu, kandungan catechin di dalam teh hijau juga sangat efektif untuk membersihkan hati dari racun dan berbagai jenis kotoran. Untuk memperoleh manfaat teh hijau, Anda dapat minum satu cangkir teh hijau setiap hari.

4.Air Putih

Rekomendasi terakhir untuk mejaga kese­hatan hati Anda ialah dengan menjaga hidrasi tubuh, pastikan setiap hari Anda mengon­sumsi 8 gelas air putih. Melalui jaga hidrasi ini selain membuat tubuh menjadi bugar, racun dalam tubuh juga akan ternetralkan melalui langkah kinerja hati dapat lebih mudah, atau setidaknya terbantukan. ima/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment