Penyakit di Puncak Kemarau | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments

Penyakit di Puncak Kemarau

Penyakit di Puncak Kemarau

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh yopi ilhamsyah

Indonesia segera memasuki puncak musim kemarau pada bulan Agus­tus sebagaimana dilan­sir Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisi­ka (BMKG). Kondisi ini ber­barengan dengan El Niño yang berpotensi menimbulkan ke­keringan ekstrem di Indonesia. Perubahan iklim meningkat­kan wabah penyakit sensitif iklim seperti malaria, demam berdarah dengue (DBD) hingga meningitis.

Kabupaten Sleman terjangkiti wabah DBD mencapai 551 kasus hingga Juni. Balik­papan juga dilapor­kan merebak DBD di musim kemarau ini dengan jumlah korban meninggal delapan orang. Ka­bupaten Purwakarta meningkatkan pe­nyuluhan akan ba­haya DBD memasuki musim kemarau ini. Sementara itu, dae­rah yang berpotensi terjangkiti meningitis terdeteksi di wilayah timur Nusa Tenggara, bagian utara Sumate­ra, utara Jawa dan Su­lawesi.

Informasi iklim se­bagai basis pengem­bangan peringatan dini dapat lebih ber­peran jika data dan analisis dapat digu­nakan secara efektif untuk memperbaiki ke­mampuan mempromosikan, mencegah, atau meningkatkan kesehatan masyarakat. Ini un­tuk mendeteksi, mengobati, memonitor, dan memprediksi epidemi.

Dengan mengetahui pola iklim diharapkan dapat mem­bantu mengenali prevalensi penyakit epidemik yang diya­kini meningkat selama musim kemarau atau hujan. Namun demikian, yang penting disa­dari, penyakit tertentu dapat menunjukkan pola musiman yang berbeda di zona ekologi berbeda.

Perubahan aki­bat alih fungsi lahan menjadi pendorong penting penularan di beberapa daerah. Contoh de­forestasi di kawasan hutan me­ningkatkan kelimpahan vektor anoples yang dapat berkem­bang dengan baik di bawah sinar matahari daripada dalam kawasan hutan.

Pengembangan kalen­der penyakit yang meng­gambarkan bulan-bulan berisiko tinggi dapat membantu sistem kese­hatan nasional dalam me­nentukan waktu tenaga medis, obat-obatan serta finansial ha­rus didistribusikan dan dialo­kasikan. Kemudian hal itu akan membantu petugas kesehatan mendeteksi dan mengobati pe­nyakit dengan tepat.

Salah satu pengembangan sistem peringatan dini baik se­cara spasial maupun temporal dengan memanfaatkan layanan Maproom Iri. Portal ini menye­diakan informasi untuk menge­tahui hubungan iklim dengan kesehatan. Namun, informasi yang disediakan terpusat pada hubungan iklim dan penyakit malaria di Afrika. Akan tetapi, ini tidak masalah. Informasi tersebut dapat digunakan un­tuk merancang hubungan iklim dengan epidemik Indonesia.

Contoh untuk membangun sistem peringatan dini malaria, data yang dibutuhkan antara lain prediksi suhu dan hujan musiman. Kemudian, hujan 10-harian (dasarian), selisih hujan 10-harian, persentase estimasi hujan 10-harian, dan suhu udara maksimum pada ketinggian 2 meter. Lalu, suhu permukaan tanah minimum (atau suhu udara minimum), dan indeks vegetasi.

Untuk prediksi suhu dan hujan musiman dapat diakses melalui portal Maproom Iri tadi. Hujan dasarian dapat juga diperoleh darinya. Namun le­bih cocok menggunakan pen­dekatan simulasi iklim karena dibutuhkan pengamatan hujan dengan skala waktu pendek (1 hingga 2 pekan) dalam mem­bantu menentukan lokasi dan waktu mewabahnya penyakit malaria.

Estimasi hujan 10-harian menghitung selisih rata-rata jangka pendek (dari tahun 2000 hingga tahun terakhir). Ini yang membedakan dengan perubahan hujan konvensio­nal yang menghitung rata-rata jangka panjang (30-tahunan). Perbandingan tersebut mem­beri wawasan tentang perubahan risiko malaria yang relatif terhadap perspektif historis terbaru.

Alternatifnya, estimasi hujan dapat juga dinyatakan dengan selisih rata-rata jangka pendek yang selanjut­nya disebut dengan per­sentase estimasi hujan. Suhu udara maksimum dan minimum (un­tuk prediksi) dapat juga dihasilkan me­lalui simulasi. Suhu udara maksimum adalah faktor ling­kungan yang men­dukung berkembangnya nyamuk serta indikator berkembangnya para­sit plasmodium pada vektor nya­muk.

Kisaran suhu udara ra­ta-rata 18-32 derajat Celcius diperlukan untuk per­kembangan vektor dan potensi penularan malaria. Suhu udara minimum 18 derajat Celcius atau lebih besar di­perlukan untuk potensi penularan malaria plasmodi­um falciparum. Sementara itu, suhu minimum 16 derajat Cel­cius dan di atasnya dianggap berpotensi untuk penularan plasmodium vivax.

Penyakit lain yang berpo­tensi mewabah di Indonesia terkait pemanasan global yang akan signifikan terjadi adalah meningitis. Studi telah menun­jukkan, cuaca kering, kelem­baban yang rendah berperan penting dalam merebaknya penyakit ini. Laporan “Inter­governmental Panel on Climate Change” menyebutkan, wila­yah tropis bagian selatan (Indo­nesia bagian selatan) akan ber­potensi lebih kering dibanding wilayah utara.

Hal ini tentu ancaman untuk wilayah Jawa, Bali, Nusa Teng­gara, Kalimantan, Sulawesi Selatan hingga Papua bagian selatan. Untuk mengantisipasi, ke depan perlu pemantauan tumbuh kembangnya penyakit ini dengan memonitor: hujan, kelembaban, suhu dan angin. Unsur cuaca berperan penting sebagai prediktor mewabahnya meningitis.

Kelembaban diukur sebagai indikator kekeringan. Secara historis, epidemi secara ling­kungan dapat diredam ketika ambang batas kelembaban 40 persen terpenuhi. Wabah men­ingitis mencapai puncaknya se­lama periode musim kemarau. Angin kering dengan kecepatan tinggi terutama di wilayah ba­yangan hujan berpotensi ter­jangkiti meningitis seperti pan­tai timur Sumatera dan pantai utara Jawa.

Peringatan Dini

Profil curah hujan diguna­kan untuk memprediksi risiko geografis meningitis di mana terdapat bukti bahwa epidemi tahunan akan menghilang de­ngan awal masuknya musim hujan. Peringatan dini lainnya melalui teknik stokastik/statis­tik yang dikembangkan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Sistem ini sangat sederhana karena hanya berbasis infor­masi iklim dasar seperti: suhu udara rata-rata, suhu udara minimum, suhu udara maksi­mum dan curah hujan. Ini am­puh dalam memprediksi angka kejadian DBD serta waktu fog­ging yang tepat. Namun keter­sediaan data iklim untuk men­dukung sistem peringatan dini tersebut masih sulit diperoleh.

Luaran prediksi cuaca yang dikeluarkan BMKG da­pat digunakan untuk mengisi kekosongan data di daerah tertentu. Informasi iklim didu­kung ketersediaan data ke­sehatan terkait epidemi yang mewabah akan menjadi sum­ber informasi utama dalam pe­ngembangan peringatan dini epidemi menuju Indonesia sehat. Hal ini sekaligus seba­gai upaya mereduksi bencana iklim di bidang kesehatan. Penulis Mahasiswa Doktoral di Klimatologi Terapan IPB

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment