Penurunan Dana Kelolaan Dinilai Masih Wajar | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Investasi Reksa Dana

Penurunan Dana Kelolaan Dinilai Masih Wajar

Penurunan Dana Kelolaan Dinilai Masih Wajar

Foto : KORAN JAKARTA/WAHYU AP
Kampanye #InvestasiAjaDulu - Ketua Presidium Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia, Prihatmo Hari Muljanto (kiri), AVP of Fintech Tokopedia Samuel Sentana (dua kiri), Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sujanto (dua kanan), dan Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi dalam acara peresmian Kampanye #InvestasiAjaDulu di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta (18/11).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) memperkirakan jumlah investor reksa dana di sisa waktu menuju akhir tahun 2019 bisa bertambah antara 10.000-20.000 nasabah. Saat ini jumlah investor reksa dana sebanyak 1,5 juta nasabah.

Sementara itu, dari sisi total dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) produk reksa dana mengalami penurunan. Tercatat, per 14 November 2019 dana kelola reksa dana hanya mencapai 551 triliun rupiah atau lebih rendah dibandingkan posisi Oktober 2019 yang mencapai 553 triliun rupiah.

Ketua Presidium Dewan APRDI, Prihatmo Hari Muljanto, mengatakan penurunan dana kelolaan dikarenakan pergerakan pasar dan adanya penjualan atau pencairan investasi reksa dana (redemption), sehingga penurunan tersebut masih terbilang normal. Untuk itu tren terjadinya redemption di akhir tahun juga dinilai tidak akan terlalu signifikan terhadap raihan dana kelolaan.

“Investor reksa dana kita sudah semakin cerdas. Artinya ada volatilitas pasar tapi nyatanya AUM tidak langsung panik sehingga turun. Investor sudah punya alokasi sendiri mana dana yang diteauh di bank dan di reksa dana pasar uang, saham, dan lainnya. Jadi kalau akhir tahun mau liburan mungkin tabungannya dulu yang akan ditarik atau reksa dana pasar uang dulu karena itu yang paling likuid,” ungkapnya di Jakarta, Senin (18/11).

APRDI mengamati dinamika tren investasi mikro di masyarakat terus bergerak naik. Minat masyarakat untuk berinvestasi ternyata terus bertumbuh. Faktanya, investasi reksa dana menjadi salah satu yang diminati oleh masyarakat karena dapat dimulai dengan terjangkau dan risiko yang relatif rendah. Dengan adanya inovasi mempermudah masyarakat untuk berinvestasi lewat platform digital, seperti Tokopedia.

Sejalan dengan itu, Tokopedia melakukan kemitraan strategis dengan APRDI, didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Kolaborasi ini merupakan bagian dari gerakan money market fund (GM2F) yang dicanangkan oleh APRDI dan pelaku industri pengelolaan investasi.

 

Kampanye Investasi

 

AVP of Fintech Tokopedia, Samuel Sentana, menyatakan kolaborasi Tokopedia dengan berbagai mitra strategis di bidang keuangan untuk meresmikan kampanye #InvestasiAjaDulu. Kolaborasi ini merupakan proses yang berkelanjutan sekaligus dukungan Tokopedia terhadap gerakan nasional #PasarUanginAja yang diluncurkan oleh OJK. Selain itu, kampanye ini merupakan salah satu strategi Tokopedia untuk meningkatkan semangat investasi demi mengakselerasi pemerataan ekonomi secara digital.

“Melalui kampanye ini, kami menargetkan peningkatan literasi keuangan di berbagai kalangan masyarakat Indonesia, mulai dari pelajar hingga ibu rumah tangga, lewat serangkaian kegiatan edukasi yang bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai investasi serta manajemen keuangan dalam mempersiapkan masa depan mereka,” kata Samuel.

Di Tokopedia, produk investasi mendapatkan antusiasme yang tinggi dari masyarakat. Tokopedia reksa dana, misalnya, mengalami peningkatan transaksi serta penggunaan di kuartal III-2019. Transaksi dan jumlah pengguna Tokopedia reksa dana masing-masing meningkat hingga 1,5 kali lipat pada bulan September 2019, jika dibandingkan Maret 2019. Saat ini ada dua produk reksa dana pasar uang yang dipasarkan Tokopedia.

“Berbagai nilai tambah ini membuat layanan investasi reksa dana lewat Tokopedia terus mendapat antusiasme positif dari masyarakat,” kata Samuel.

 

yni/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment