Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
Cadangan Devisa - Sepanjang Januari–Agustus 2019, Pemerintah Bayar Bunga Utang Rp172,42 Triliun

Penurunan Berlanjut di Akhir Tahun

Penurunan Berlanjut di Akhir Tahun

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Pembayaran utang pemerintah dan stabilisasi rupiah oleh BI bakal menggerus cadangan devisa hingga akhir tahun.

JAKARTA – Penurunan cadangan devisa pada September lalu diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini. Kondisi tersebut dipengaruhi penggunaan devisa untuk pembayaran bunga utang pemerintah di akhir tahun dan intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar uang untuk stabilisasi rupiah.

Berdasarkan laporan BI, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2019 turun 2,1 miliar dollar AS menjadi 124,3 miliar dollar AS dari posisi akhir Agustus 2019 sebesar 126,4 miliar dollar AS.

Penurunan cadangan devisa pada September 2019 tersebut terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Sepanjang Januari–Agustus 2019, pemerintah membayar bunga utang sebesar 172,42 triliun rupiah, naik 6,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, penurunan cadangan tersebut juga dipengaruhi berkurangnya penempatan valas perbankan di BI akibat bank sentral menurunkan suku bunga acuan yang sudah tiga kali dilakukan dalam tahun ini.

Meski demikian, menurut BI, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Menanggapi penurunan itu, Ekonom Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, memperkirakan tren tersebut berlanjut hingga akhir tahun ini. Menurutnya, perkiraan penurunan cadangan devisa pada Desember mendatang disebabkan oleh pembayaran bunga utang pemerintah.

“Saya kira masih wajar ya untuk turun segitu, karena kan pada September lalu terutama pada penutupan triwulan ke-3 itu pasti ada pembayaran bunga utang pemerintah. Jadi wajar kalau ada penurunan devisa itu sendiri,” ujar Lana, di Jakarta, awal pekan ini. “Nanti Desember, cadangan devisa juga akan turun lagi,” imbuhnya.

Di saat pengeluaran untuk membayar utang meningkat, penerimaan devisa, terutama dari penerbitan surang utang pemerintah cenderung tidak ada. “Pemerintah juga tidak mengeluarkan surat utang berdenominasi dollar AS akhirakhir ini sehingga menyebabkan cadangan devisa turun,” ujarnya.

Ekonom Institute for Developments of Economic and Finance (Indef), Bima Yudhistira, memprediksi cadangan devisa akan terus tertekan hingga akhir tahun hingga menjadi 120–123 miliar dollar AS. Hal ini, lanjutnya, harus segera ditindaklanjuti pemerintah dan BI karena menipisnya cadangan devisa akan mempengaruhi kemampuan BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar.

 

Intervensi BI

 

Selain pembayaran bunga utang, upaya stabilisasi rupiah oleh BI melalui intervensi di pasar uang juga berpotensi menggerus cadangan devisa. Terlebih lagi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut menyusul ketidakpastian kondisi global, seperti perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) serta keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) atau Brexit.

Kemarin, BI kembali mengintervensi pasar uang dan obligasi guna menahan pelemahan lebih parah. Direktur PT Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, di Jakarta, kemarin, mengatakan BI melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi melalui perdagangan domestic non deliverable forward (DNDF) untuk menstabilkan rupiah.

“Intervensi ini berhasil menahan pelemahan mata uang Garuda walaupun kemarin rilis cadev (cadangan devisa) Indonesia per akhir September sebesar 124,32 miliar dollar AS, turun lumayan dalam yaitu 2,12 miliar dollar AS dibandingkan bulan sebelumnya. Ini menjadi penurunan pertama dalam tiga bulan terakhir,” ujar Ibrahim. 

 

uyo/Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment