Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments
Keterbukaan Informasi

Penjualan Bank Permata Akan Rugikan Keuangan Negara

Penjualan Bank Permata Akan Rugikan Keuangan Negara

Foto : ISTIMEWA
RUDY RAMLI
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebaiknya melakukan investigasi khusus terkait rencana Standard Chartered Bank (SCB) melepas kepemilikan saham PT Bank Permata Tbk (BNLI). Sebab, status SCB dalam kepemilikan saham BNLI terkesan tidak transparan sehingga berpotensi menghilangkan obligasi rekapitalisasi perbankan milik negara sebesar 11,89 triliun rupiah.

Demikian pernyataan pemilik Bank Bali, Rudy Ramli, di Jakarta, Rabu (19/8). Bank Bali adalah salah satu bank yang digabungkan menjadi Bank Permata bersama bank yang lain, yakni Bank Umum Nasional, Bank Media, Bank Patriot, dan Bank Universal. Bank Bali menjadi leader dalam proses merger tersebut.

“Saya meminta agar proses penjualan saham Bank Permata oleh Standard Chartered Bank dihentikan. Saya juga berharap pada OJK untuk segera melakukan investigasi khusus kepemilikan saham Standard Chartered Bank di Bank Permata,” katanya. Rudy mengatakan, sebaiknya proses penjualan kepemilikan saham Bank Permata milik Standard Chartered Bank dilakukan secara transparan.

“Otoritas berwenang mesti menggunakan kekuasaannya untuk investigasi berdasarkan lima alasan utama, yakni transparansi, keadilan dan kebenaran, mempertahankan aset bangsa, serta mencegah terulangnya kasus yang sama demi kehormatan bangsa,” paparnya.

Menurut Rudy, siapa pun yang ingin memiliki aset di Indonesia, terutama institusi strategis seperti bank, hendaknya transparan dan jelas. “Siapa pemiliknya dan dari mana asal dananya. Apakah Standard Chartered Bank sudah memenuhi hal itu?” tegasnya. Dipaparkan Rudy Ramli, di dalam laporan tahunan (annual report) Bank Permata tahun 2006 dan beberapa tahun setelahnya, terdapat kejanggalan kepemilikan Standard Chartered Bank di Bank Permata.

“Di dalam laporan tahunan itu terdapat note tentang kepemilikan Standard Chartered Bank di Bank Permata, there are no capital commitments related to the group’s investment in Permata. Artinya, Standard Chartered Bank beli tanpa modal? Kok, tidak ada komitmen? Terus yang dipakai modal siapa?” jelasnya.

Rudy Ramli menegaskan Standard Chartered Bank wajib menjelaskan tentang catatan dalam laporan tahunan Bank Permata. “Apa maksud dari kalimat no capital commitments yang tertuang dalam annual report Bank Permata. Di sini, otoritas berwenang patut mempertanyakan kepada Bank Permata,” tukasnya.

Seperti diketahui, Standard Chartered sudah sejak tahun lalu berencana melepas 44,56 persen saham BNLI. Hal ini dilakukan guna memberikan kesempatan bagi investor untuk membeli kembali saham tersebut. Namun, rencana itu belum terealisasi karena beberapa peminat mengundurkan diri. 

 

yok/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment