Koran Jakarta | August 18 2017
No Comments
Pilar Perekonomian - Untuk Capai Target Pertumbuhan 5,1 Persen, Ekspor Mesti Tumbuh 4-5 Persen

Peningkatan Ekspor Butuh Terobosan

Peningkatan Ekspor Butuh Terobosan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Selain meningkatkan ekspor ke negara tujuan utama, pemerintah harus melakukan terobosan dengan mencari pasar baru atau diversifikasi.

JAKARTA – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2017 yang dicanangkan 5,1 persen akan tercapai jika ditopang ekspor yang tumbuh 4-5 persen. Selain ekspor, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh tiga pilar lainnya yakni konsumsi rumah tangga, investasi dan belanja pemerintah.

Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (11/1), memperkirakan Indonesia mampu meningkatkan ekspor hingga 3,2 persen tahun ini jika melihat proyeksi pertumbuhan perekonomian global.

Menurut dia, peningkatan ekspor 3,2 persen tersebut belum memperhitungkan faktor kemungkinan penerapan kebijakan proteksionisme global. Kebijakan tersebut kemungkinan akan diberlakukan Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden baru Donald Trump.

Salah satu terobosan Indonesia untuk menumbuhkan kemampuan ekspornya adalah dengan mempertahankan kapasitas ekspor di wilayah sumber tujuan ekspor utama, meskipun nilai ekspor Indonesia ke negara tujuan utama justru berkurang, seperti ke AS yang berkurang dari semula 1,1 sampai 1,2 persen dari seluruh impor AS menjadi 0,8 sampai 0,9 persen.

 

Pasar Baru

 

Selain meningkatkan ekspor ke negara tujuan utama, pemerintah, tambahnya, harus melakukan terobosan dengan mencari pasar baru. Namun, hal tersebut jangan dijadikan alasan ketidakmampuan mempertahankan pasar lama.

“Bagaimanapun pusat perekonomian masih ada di negara- negara lama, seperti AS, Eropa dan Tiongkok,” katanya.

Peneliti Departemen Ekonomi CSIS, Haryo Aswicahyono, menjelaskan salah satu strategi ekspor yang dapat diterapkan dalam situasi proteksionisme adalah dengan aktif menjalin kerja sama biateral. “Ketika multilateralisme melalui organisasi internasional semakin susah, maka Indonesia perlu aktif di bilateral sehingga kemudian dibutuhkan kemampuan negosiasi,” kata Haryo.

Dia berharap Kementerian Perdagangan mampu meningkatkan kemampuan analisis dan pembangunan kapasitas agar negosiasi di tingkat bilateral dapat menghasilkan keuntungan ekonomi bagi Indonesia.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) akhir tahun lalu melaporkan kenaikan ekspor cukup tajam pada November 2016 yakni mencapai 21,34 persen menjadi 13,50 miliar dollar AS, dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya (yoy) sebesar 11,12 miliar dollar AS.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo mengatakan peningkatan ekspor tersebut merupakan tertinggi sejak Juni 2015. Pada 2016, BPS mencatat ada pola kenaikan ekspor sedikit demi sedikit pada tiap bulannya, sejak Januari.

“Kenaikan ekspor cukup spektakuler. Ini memberikan gambaran bahwa perdagangan internasional kita dari sisi ekspor lebih baik,” kata Sasmito.

Kenaikan ekspor tersebut didorong oleh meningkatnya ekspor lemak dan minyak hewan nabati mencapai 366,1 juta dollar AS atau mencapai 20,37 persen, diikuti bahan bakar mineral 141,6 juta dollar AS dan perhiasan permata sebesar 87,3 juta dollar AS.

 

bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment