Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Nilai Tukar | Investor Jepang Dikabarkan Kembali ke Tokyo

Penguatan Yen Pertanda Baik Pasar

Penguatan Yen Pertanda Baik Pasar

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Fenomena penguatan yen terhadap dollar AS sebagai tanda bahwa ekonomi global akan membaik.

 

LONDON - Pasar ekonomi global tahun ini mendapat per­ingatan dari kenaikan mata uang yen yang terjadi bertahap dalam beberapa pekan tera­khir dan mencapai puncaknya akhir pekan lalu. Kenaikan yen dalam periode sing­kat yang mengejutkan, seperti kegagalan ekonomi Russia pada 1998, dan krisis pasar glo­bal pada 2008, menjadi pertan­da tekanan bagi pasar global.

Akan tetapi, para pengamat pasar mengatakan fenomena kenaikan yen terbaru ini seba­gai tanda bahwa ekonomi global akan membaik.

Dalam kondisi perlambatan ekonomi global, yen justru menunjukkan tanda berkem­bang. Surplus yang terjadi menunjukkan pasar global menganggap di Jepang sebagai tempat yang aman.

Survei global minggu ini menunjukkan aktivitas pabrik-pabrik di Eropa dan Tiongkok melambat, penurunan permin­taan memaksa Apple memo­tong target penjualan, men­girimkan sinyal perlambatan ekonomi pada pasar dunia.

“Nilai yen yang lebih per­kasa adalah tanda betapa ke­prihatinan luas terhadap kes­ehatan ekonomi global telah terjadi,” kata kepala penelitian FX di Commerzbank, Ulrich Leuchtmann.

Investor Jepang cenderung menginvestasikan sebagian be­sar dari simpanan mereka ke luar negeri, kemudian memba­wa pulang dana itu bila terjadi tekanan pasar yang ekstrem, se­hingga membuat yen menguat.

Tekanan investasi dari luar hanya meningkat dalam be­berapa tahun terakhir.

Menurut Morgan Stanley, investasi asing dalam aset AS meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade tera­khir menjadi 1,25 triliun dollar AS, pertanda arus dana yang kembali ke yen menguat.

Pada awal perdagangan ta­hun ini di Asia, dollar AS jatuh ke level 104,10 per yen, teren­dah sejak Maret 2018, sebelum kembali dari beberapa kerugian pada berdiri 107,64 per yen. Yen menguat setidaknya 1 per­sen terhadap semua mata uang negara-negara kelompok G10.

Pada posisi terendah, mata uang Jepang itu telah naik lebih dari 6,5 persen dalam lima sesi perdagangan terakhir, dan menjadi mata uang utama yang memilkki kinerja terbaik sejak awal Desember.

Bahkan ketika ekonomi glo­bal sedang berjuang, setiap bank sentral, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, memberi lebih banyak sinyal untuk menaik­kan suku bunga pada masa yang akan datang. Perlambatan eko­nomi telah meningkatkan kekha­watiran terhadap kemungkinan AS akan terlalu memperketat kebijakan.

“Ini memberi tahu kita ada banyak kecemasan, kegugu­pan, dan kekhawatiran tentang perlambatan yang lebih nyata di ekonomi,” kata Kepala In­vestasi JP Morgan Asset Man­agement, Bob Michele.

Kelemahan Struktural

Hampir tiga tahun, suku bunga AS yang menyesuaikan dengan inflasi, berada pada tingkat tertinggi. Sedangkan suku bunga nominal lebih be­sar daripada hasil dividen di AS, Tiongkok, dan Jepang.

“Kami hasil nyata terlalu tinggi, masalah produktivitas muncul di Tiongkok, dan penu­runan kelebihan surplus global, memperlihatkan kelemahan struktural di pasar negara maju,” kata Kepala Strategi Global FX di Morgan Stanley, Hans Redeker.

Meskipun tidak biasa, lon­jakan yen terjadi dalam beber­apa bulan setelah aksi jual di pasar negara berkembang mu­sim panas lalu. Hal itu menun­jukkan sebagian besar investasi Jepang terkonsentrasi ke pasar negara maju seperti AS.

Sedangkan ahli strategi mata uang di BNP Paribas di Lon­don, Sam Lynton-Brown, men­gatakan, investor Jepang um­umnya menaruh sebagian besar investasi mereka di pasar negara maju, sehingga dalam beberapa minggu terakhir saat gejolak meluas di pasar negara maju mendorong yen menampilkan karakter asli ‘safe haven’ nya.

Pakar strategi Morgan Stanley mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir para investor Je­pang telah meningkatkan pem­belian aset-aset AS yang berisiko seperti ekuitas dan kredit untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. Sejak mengalihkan dana lebih dari 400 miliar dolar AS dalam aset AS., sebagian be­sar dalam bentuk ekuitas.

Dengan pasar keuangan Je­pang yang masih tutup karena masa libur tahun baru, langkah terakhir telah ditujukan pada para investor ritel. “Investor-in­vestor itu pada umumnya ber­perilaku seperti keadaan pasar FX yang lain,” kata Leuchtmann dari Commerzbank.

Sementara itu, mata uang pasar berkembang seperti lira Turki dan rand Afrika Selatan merasakan dampak paling parah. Lira jatuh lebih dari 7 persen terhadap yen, sedan­gkan Rand R turun hampir 4 persen. AFP/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment