Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Penanganan Bencana

Penghijauan Lereng Gunung Merapi Masih Minim

Penghijauan Lereng Gunung Merapi Masih Minim

Foto : ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho
A   A   A   Pengaturan Font

SLEMAN - Penghijauan lereng Merapi pascaerupsi besar tahun 2010, baru mencapai sekitar 90 hektare dari total 450 hektare hutan yang rusak dan terbakar. Untuk mencapai target tersebut, digandeng sejumlah pihak untuk membantu memulihkan kondisi lahan di lereng Gunung Merapi tersebut.


“Sampai dengan tahun 2019 ada sekitar 450 hektare lahan di lereng Merapi yang perlu dihijaukan kembali akibat terkena erupsi Gunung Merapi 2010. Namun, saat ini baru mencapai 90 hektare,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, Ari Nurwanti, di Sleman, Jumat (17/11).


Menurut Ari, masih perlu upaya dan partisipasi semua pihak untuk mengembalikan lereng Merapi agar pulih kembali. Upaya yang dilakukan Taman Nasional Gunung Merapi untuk memulihkan lahan lereng Merapi ada tiga macam yakni restorasi, rehabilitasi, dan suksesi.


Suksesi yakni tanaman tumbuh kembali dengan sendirinya dan dibiarkan saja akan tumbuh seperti tanaman akasia debora. Ari mengatakan, tanaman jenis akasia debora ini dapat suksesi karena bijinya tahan terhadap awan panas erupsi Gunung Merapi. Begitu awan panas selesai, biji akasia debora yang terkena hujan bisa tumbuh dengan sendirinya.


Sebelumnya, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Purwanto, mengatakan Boyolali daerah rawan tanah longsor ada lima kecamatan, yakni Selo, Musuk, Cepogo, Ampel dan Kemusu. BPBD sudah melakukan sosialisasi ke daerah rawan bencana agar tetap waspada terhadap tanah longsor, angin kencang, dan banjir.


Tingkatkan Kewaspadaan


Warga di lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di wilayah Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali diimbau meningkatkan kewaspadaan terjadinya bencana tanah longsor memasuki musim hujan di wilayahnya. “Kami sudah melakukan sosialisasi secara rutin kepada warga, terutama terkait kewaspadaan bencana tanah longsor dan angin kecang di musim hujan saai ini,” kata Camat Selo, Jarot Purnama.


Jarot mengatakan di Kecamatan Selo ada 10 desa yang hampir seluruhnya merupakan daerah rawan tanah longsor. Warganya bermukim di daerah lahan dataran tinggi dan bertebing di lereng Merapi dan Merbabu. Dari 10 desa rawan bencana, sebanyak tiga di antaranya masuk daerah yang sering terjadi bencana tanah longsor dan banjir yakni Tlogolele, Jrakah, dan Klakah.


Menurut Jarot, jika turun hujan deras yang cukup lama di wilayah Selo banyak terjadi tebing longsor. Hal ini bila tidak diwaspadai dapat membahayakan warga, terutama pengguna jalan di Jalan Raya Boyolali-Selo-Magelang. Bahkan, warga di daerah pemukiman juga sering terjadi tanah longsor.


Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk lebih tanggap terhadap situasi lapangan, karena warga setempat lebih peka terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal masing-masing. “Warga yang bermukim di dekat tebing, lebih waspada saat turun hujan,” katanya. YK/Ant/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment