Penghapusan Ujian Nasional Bukan Pekerjaan Mudah | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Anggota Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah, Itje Chodidjah, tentang Polemik Penghapusan UN

Penghapusan Ujian Nasional Bukan Pekerjaan Mudah

Penghapusan Ujian Nasional Bukan Pekerjaan Mudah

Foto : DOK PRIBADI
A   A   A   Pengaturan Font
Beberapa waktu lalu beredar wacana penghapusan Ujian Nasional (UN). Tapi sampai saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) nyatanya baru sebatas mengkaji mengenai kemungkinan penghapusan UN.

 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mengungkapkan pengha­pusan UN muncul karena banyak sekali aspirasi dari masyarakat, guru, murid, orang tua mengenai UN tersebut. Untuk mengupas isu tersebut, Koran Jakarta mewawancarai pakar pendidikan yang juga ang­gota Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah, Itje Chodidjah. Berikut rangkuman wawancaranya.

Setuju UN dihapus?

Saya sudah sejak 10 tahun lalu meminta agar UN itu dihapus­kan saja. Tapi, penghapusan UN tentu bukan pekerjaan yang mu­dah. Menghapus UN bukan sekadar menghapus, tapi bagaimana nanti proses evaluasi dan asesmen terha­dap siswa. Harus ada ukuran secara nasional yang nantinya diciptakan oleh negara untuk melihat keterca­paian secara nasional

Untuk mengganti UN apa perlu tes?

Jadi, ada dua model penilaian. Pertama, penilaian atau asesmen sehari-hari yang dilakukan guru. Kedua, penilaian yang dilakukan negara sebagai bahan kebijakan. Menurut saya, penekanannya ada pada poin pertama. Sekolah harus siap dan paham, penilaian proses sehari-sehari. Hasil pembelaja­ran itu bukan hanya pemahaman materi, tapi juga karakter, sikap, dan perilaku siswa.

Untuk itu, guru harus dimatang­kan dulu kompetensinya untuk memahami proses pembelajaran dan asesmen yang dilakukan ketika pembelajaran sehingga penilaian siswa tidak sepihak hanya pada materi-materi, tetapi guru bisa menangkap capaian siswa sesuai dengan capaian kurikulum.

Berarti penilaian secara nasi­onal tetap ada?

Tentu harus ada, tapi teknisnya ti­dak dilakukan kepada seluruh siswa. Bisa sampel saja ke beberapa siswa. Selain UN, Kemendikbud juga punya sistem asesmen lain, yaitu Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI). Ini masih tahap uji coba, tapi jika dis­empurnakan ini bisa jadi cikal bakal pengganti asesmen skala nasional.

Faktor apa yang membuat UN tidak kunjung dihapus?

Banyak faktor. Salah satunya adalah kepentingan politik yang menghambat penghapusan UN tidak terjadi. Kalaupun tahun ini masih dilaksanakan, tahun 2021 sudah bisa dihapuskan dengan syarat Kemendikbud melakukan persiapan dari sekarang mulai dari menyiapkan pengganti UN sampai melakukan kompetensi guru agar bisa melakukan asesmen harian.

Kabarnya UN akan tetap di­laksanakan tahun 2020. Harapan Anda?

Jangan sampai UN tahun 2020 itu jadi penentu kelulusan. Kalau kondisinya kurikulum, proses pem­belajaran dan materi pembelajaran belum sinkron dengan ujian nasional, bisa jadi anak-anak terugikan. Saya melihat kelemahannya justru sinkronisasi itu belum berjalan. Jika UN direalisasikan sebagai faktor kelulusan hal tersebut merupakan bentuk kemunduran pendidikan di Indonesia menganggu siswa.

Gangguan seperti apa yang akan muncul?

Kalau UN dijadikan faktor kelulu­san proses pembelajaran ke depan akan lebih berorientasi pada nilai kelulusan saja. Padahal siswa harus lebih diarahkan pada pembentukan karakter, pembiasaan berpikir kritis, dan kreativitas agar mampu men­jadi pembelajar sepanjang hayat.

Pada abad 21 ini, siswa itu di­harapkan jadi pembelajar mandiri, sehingga ketika nanti mereka sudah berada di level yang lebih tinggi yaitu perguruan tinggi, kondisi mereka sudah matang.

Apa dampak lain jika UN jadi faktor kelulusan?

UN sebagai faktor kelulusan jus­tru akan mempertegas ketidakadilan di dunia pendidikan, mengingat be­lum meratanya kualitas sekolah dan guru. Bagaimana dengan sekolah-sekolah dengan keterbatasan jumlah dan kualitas guru? Apakah akan diuji sama dengan sekolah yang lebih baik? aden ma’ruf/AR-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment