Koran Jakarta | November 19 2019
No Comments
Kesehatan Masyarakat

Penggunaan Plastik Tingkatkan Risiko Diabetes

Penggunaan Plastik Tingkatkan Risiko Diabetes

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

SURABAYA – Penyakit di­abetes melitus tidak hanya disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat dan faktor turunan, namun dapat di­sebabkan penggunaan ba­han pembungkus makanan dan minuman yang berasal dari bahan plastik. Senya­wa 2-methoxyethanol (plas­ticizer) yang terkandung dalam plastik mampu me­ningkatkan angka risiko dia­betes melitus. Hal itu dapat mengakibatkan terganggu­nya proses produksi insulin dalam tubuh.

Plasticizer mengakibat­kan terganggunya produksi hormon insulin. Apabila produksi insulin terganggu akan mengakibatkan ru­saknya pankreas dan pada akhirnya akan mengakibat­kan diabetes melitus,” kata Guru Besar Biologi Fakul­tas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Win Darmanto, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/7).

Win menjelaskan selu­ruh bahan yang mengandung plasticizer mempunyai kadar yang berbeda satu sama lain. Banyak upaya yang dapat di­lakukan guna menekan tinggi­nya pemakaian plastik yang memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Upaya yang da­pat dilakukan, antara lain de­ngan mendaur ulang dan m embakar limbah plastik dengan tekanan yang tinggi.

“Hasil dari pembakaran de­ngan tekanan yang tinggi akan menghasilkan kadar karbon yang rendah dan dapat juga digunakan sebagai sumber energi,” ujar Win.

Gunakan Jamur

Menurut Win, salah satu cara mengurangi angka diabetes melitus, yaitu dapat mengguna­kan beberapa jenis jamur tertentu de­ngan kadar yang harus diawasi.

Jenis jamur yang paling cocok diguna­kan untuk mencegah dan mengurangi dam­pak diabetes melitus adalah jenis jamur kayu (Gano­derma).

Dari hasil penelitian yang dia buat, selain dapat menekan angka diabetes melitus, Gano­derma juga dapat membantu menekan angka kelahiran bayi dengan kondisi normal.

2-methoxyethanol telah diuji coba pada tikus dan hasil­nya dapat meningkatkan kadar glukosa darah dan nitrat. Kami sarankan ibu hamil untuk me­ngurangi penggunaan bahan yang mengandung plastik,” kata Win.

Win menambahkan, tera­tologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang efek tok­sis terhadap malformasi atau cacat pada embrio. Ibu hamil menjadi salah satu yang me­miliki faktor risiko terhadap paparan plasticizer.

“Harapannya dengan ada­nya penelitian ini, mampu mengedukasi ibu hamil akan bahaya penggunaan plastik bagi janin,” kata Win. SB/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment