Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Dorong Investasi di Manufaktur untuk Angkat Daya Saing

Pengendalian Impor Perlu Diperkuat

Pengendalian Impor Perlu Diperkuat

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Untuk mengatasi masalah CAD, Indonesia membutuhkan ekspor, serta investasi terutama yang berorientasi ekspor dan investasi yang mengarah kepada substitusi impor

JAKARTA - Perbaikan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia, antara lain bisa dilakukan melalui pengendalian berbagai jenis barang impor. Hal itu bisa dilakukan dengan mendorong perkembangan ekonomi digital yang sangat pesat belakangan ini, agar menyerap lebih banyak produk lokal guna mengurangi belanja impor.

Sebab, selama ini perdagangan elektronik atau e-commerce, yang merupakan bagian dari ekonomi digital, justru banyak dikuasai oleh berbagai produk impor terutama barang murah dari Tiongkok. “Itulah salah satu contoh hal teknis yang bisa segera dieksekusi karena jelas sekali di depan mata. Kita tahu paket-paket kebijakan yang banyak itu eksekusinya ternyata sulit, maka yang tampak di depan mata inilah segera bisa dieksekusi,” kata Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Aloysius Gunadi Brata, ketika dihubungi, Senin (13/5).

Mengenai perkembangan ekonomi digital, Indonesia pada 2018 diperkirakan memiliki internet economy 27 miliar dollar AS dan bisa menembus 100 miliar dollar AS di 2025. Artinya, pertumbuhan tahunan dari ekonomi digital sepanjang 2018–2025 adalah 49 persen, tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Sedangkan kontribusi ekonomi digital bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk 2018 diperkirakan mencapai 2,9 persen.

Adapun nilai transaksi e-commerce Indonesia tercatat terus meningkat. Pada 2014, nilai transaksi elektronik itu baru sekitar 25,1 triliun rupiah, namun pada 2018 nilainya melambung hingga mencapai 144,1 triliun rupiah. Akan tetapi, sebagian besar atau lebih dari 80 persen transaksi e-commerce tersebut merupakan barang impor.

Jika kondisi ini terus didiamkan perkembangan pesat perdagangan elektronik justru berperan besar pada depresiasi rupiah, serta memperlebar defisit perdagangan dan CAD. Gunadi mengungkapkan, sejak 2012, defisit transaksi berjalan seperti tak ada jalan keluar. Padahal, jawabannya sebenarnya sudah jelas, yakni daya saing produk dalam negeri.

Namun, untuk mengeksekusinya memerlukan banyak perbaikan terkait investasi di sektor manufaktur. “Mengendalikan impor dengan substitusi impor juga menjadi tugas pemerintah pusat, terutama menghilangkan elemen korupsi dan kolusi dalam setiap pengambilan keputusan impor,” jelas dia.

Gunadi juga menyoroti peran BUMN seperti Pertamina di bidang energi, dalam upaya memperkuat sumber-sumber devisa dari jasa seperti pariwisata, ekonomi kreatif yang berorientasi ekspor seperi jasa desain, dan teknologi informasi. “Juga kemungkinan entrepreneurship yang didorong akhir-akhir ini lemah dalam aspek produksi sehingga munculnya banyak aktivitas selling product dari luar. Ekonomi kreatif seharusnya mendorong ekonomi dalam negeri,” tukas dia.

Sebelumnya dikabarkan, CAD Indonesia pada kuartal I-2019 tercatat sebesar 2,6 persen dari PDB. Akan tetapi, angka CAD tersebut dinilai belum cukup rendah untuk menopang pertumbuhan ekonomi tinggi seperti keinginan pemerintah.

Oleh karena itu, untuk menekan angka defisit transaksi berjalan atau membenahi masalah struktural ekonomi RI yang telah akut tersebut, pemerintah diminta mengendalikan impor, terutama melalui pengembangan industri substitusi impor.

 

Masalah Akut

 

Pekan lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan perekonomian Indonesia masih dihadapkan pada masalah defisit neraca transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan.

Untuk mengatasi masalah itu, Indonesia membutuhkan ekspor dan investasi, terutama yang berorientasi ekspor serta investasi yang mengarah kepada substitusi impor. Namun, menurut Jokowi, ihwal penyelesaian masalahmasalah itu masih terkendala.

“Jadi yang namanya penyederhanaan perizinan saya sudah bolak-balik ngomong, lebih dari 20 tahun tidak bisa selesaikan defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, karena ekspor kita. Kedua investasi kita. Dua hal itu tak bisa kita selesaikan dengan baik,” kata Jokowi. 

 

YK/ers/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment