Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments
Antisipasi Krisis I Cadangan Devisa Capai Level Terendah sejak Januari 2017

Pengendalian Impor Jangan Sekadar Kebijakan Panik

Pengendalian Impor Jangan Sekadar Kebijakan Panik

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

>>Kemandirian pangan dan barang konsumsi tak mungkin berhasil tanpa komitmen negara.

>>Biaya siluman yang tinggi membuat industri nasional sulit bersaing dengan produk impor.

 

JAKARTA – Pengendalian impor, melalui instrumen tarif, diharapkan bukan sekadar kebijakan sesaat atau panik melihat pelemahan rupiah yang sangat tajam.

Pembatasan impor semestinya dibarengi dengan upaya serius membangun kemandirian, terutama di bidang pangan, industri khususnya barang konsumsi, dan energi.

Oleh karena itu, pemerintah mesti menyusun haluan pembangunan yang berkelanjutan dalam jangka menengah dan jangka panjang, dengan target dan arah yang jelas untuk memperkuat fundamental ekonomi terutama memperbaiki defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.

Ekonom Universitas Ibnu Khaldun, Ahmad Iskandar, mengatakan kebijakan pemerintah untuk memperbaiki rupiah seharusnya jangan hanya sebatas obat sesaat untuk meredam rasa sakit.

Padahal, akar masalah yang dihadapi ibaratnya penyakit kanker yang akut. “Jadi jangan main-main lagi. Yang dibutuhkan adalah obat untuk jangka panjang yang bisa mengatai akar masalah fundamental ekonomi, yakni kebergantungan yang tinggi pada impor.

Harus ada kombinasi kebijakan moneter dan sektor riil untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan,” papar Iskandar, di Jakarta, Jumat (7/9).

Sebelumnya, Direktur Pusat Studi Masyarakat, Irsad Ade Irawan, menegaskan pemerintah harus mampu memperbaiki kurs rupiah yang sempat terperosok hingga mencapai level terlemah dalam 20 tahun terakhir.

Untuk itu, pemerintah mesti fokus pada dua hal, yakni solusi jangka pendek, seperti intervensi di pasar uang dan obligasi negara, serta kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI).

“Untuk solusi jangka panjang, tidak ada cara lain selain membangun kemandirian pangan, industri nasional terutama barang konsumsi, dan energi. Kemandirian itu tidak mungkin berhasil tanpa ada komitmen negara,” papar Irsad.

Iskandar menambahkan selain menggunakan instrumen tarif untuk menekan impor, pemerintah semestinya menghidupkan kembali konsep rencana pembangunan lima tahun (repelita).

Ini bisa menjadi acuan kebijakan jangka menengah dan panjang dalam upaya mengurangi impor secara berkelanjutan. “Dengan demikian, pencapaian target kemandirian memiliki perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan yang jelas.

Itu bukan hanya sekedar omongan tapi harus benar-benar dilaksanakan,” jelas Iskandar. Menurut dia, belum terlambat bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk memperbaiki haluan pembangunan dengan menyusun konsep yang berkelanjutan seperti repelita.

Untuk memulainya bisa dilakukan secara bertahap. “Pertama analisis kelebihan dan apa yang harus dilakukan. Kemudian menyusun target jangka pendek dan jangka panjang,” tukas Iskandar.

Sebenarnya, Indonesia dinilai mampu memproduksi pangan sendiri, tapi selama ini petani nasional justru dimatikan dengan pangan impor. Pengusaha nasional juga mampu membangun industri konsumsi sendiri.

Akan tetapi, kondisi dalam negeri tidak memberikan kepastian hukum dan iklim investasi yang nyaman. Biaya siluman begitu tinggi sehingga menimbulkant high cost economy.

Akibatnya, petani dan pengusaha nasional kalah dengan barang impor murah yang disubsidi negara eksportir untuk memburu devisa mereka. Tarif, jalan satusatunya untuk menekan impor barang konsumsi.

Kurs Rupiah

Sementara itu, pada perdagangan di pasar spot, Jumat, nilai tukar tukar rupiah ditutup menguat 73 poin atau 0,49 persen ke level 14.820 rupiah per dollar AS. Penguatan itu antara lain berkat intervensi pasar Bank Indonesia (BI) dengan menggunakan cadangan devisa.

BI melaporkan cadangan devisa per Agustus 2018 berada di posisi 117,9 miliar dollar AS atau turun 410 juta dollar AS dari periode sebelumnya. Ini merupakan level terendah sejak Januari 2017.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan penguatan rupiah itu sebagai hasil dari langkah konkrit BI dan pemerintah dalam menurunkan defisit transaksi berjalan. Selain itu, likuiditas valas mulai berjalan sesuai mekanisme pasar.

“Ini karunia Allah untuk kita, rupiahnya stabil menguat. Kita telah melakukan langkah konkrit untuk menurunkan defisit transaksi berjalan,” ujar Perry, Jumat. ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment