Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments
Realisasi Anggaran

Pengeloaan APBN Jadi Instrumen Stabilisasi Ekonomi

Pengeloaan APBN Jadi Instrumen Stabilisasi Ekonomi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan APBN selalu terkelola dengan baik agar instrumen fiskal ini bisa memberikan dampak positif kepada kinerja perekonomian secara keseluruhan. “Kalau APBN sehat, kami bisa menggunakan instrumen ini agar ekonomi lebih baik lagi,” ujar Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR membahas asumsi RAPBN 2019 di Jakarta, Senin (10/9).

Sri Mulyani mengatakan setiap perlemahan 100 rupiah terhadap dollar AS sama-sama dapat memberikan kenaikan kepada penerimaan negara sebesar 4,7 triliun rupiah serta belanja negara sebanyak 3,1 triliun rupiah. Namun, dia menegaskan APBN tidak dikelola berdasarkan untung rugi, karena instrumen fiskal ini dimanfaatkan sesuai fungsi stabilisasi, alokasi maupun distribusi yang bisa memberikan manfaat kepada kinerja perekonomian.

“Kita menjaga fiskal, tapi tetap hati-hati, karena dalam ketidakpastian ini, APBN harus menjadi instrumen untuk menjaga ekonomi melalui stabilisasi maupun alokasi dan distribusi agar tetap dinamis,” ujarnya. Dalam kesempatan ini, Sri Mulyani menyampaikan kinerja penerimaan negara yang hingga akhir Agustus 2018 tercatat telah tumbuh 18,4 persen, dengan rincian penerimaan perpajakan tumbuh 16,5 persen dan penerimaan negara bukan pajak tumbuh 24,3 persen.

“Realisasi ini menunjukkan kenaikan sangat solid, karena 2016 hingga Agustus lalu, penerimaan perpajakan tumbuh 9,5 persen dan penerimaan negara bukan pajak tumbuh 20,2 persen,” ujarnya.

Belanja Meningkat

Sedangkan, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menambahkan, realisasi belanja negara pada periode sama juga tercatat tumbuh 8,8 persen atau lebih baik dari akhir Agustus 2017 yang hanya tercatat sebesar 5,6 persen.

Kondisi ini menyebabkan neraca keseimbangan primer tercatat surplus 11,5 triliun rupiah atau terjadi lonjakan tinggi dibandingkan periode akhir Agustus 2017 sebesar defisit 84 triliun rupiah, yang berarti memperlihatkan pengelolaan APBN semakin sehat. “Terjadi akselerasi belanja tinggi, dengan penerimaan yang jauh lebih tinggi, berarti primary balance positif 11,5 triliun rupiah, ini lonjakan sangat nyata,” katanya. Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment