Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments

Pengantar Singkat Memahami Alam Semesta

Pengantar Singkat Memahami Alam Semesta

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Astrofisika untuk Orang Sibuk

Judul asli : Astrophysics for People in a Hurry

Penulis : Neil deGrasse Tyson

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Pertama, Oktober 2018

ISBN : 978-602-06-1632-2

Dalam budaya populer, makin banyak film fiksi-ilmiah diilhami sains seperti serial Star Wars dan Interstellar (2014). Juga film biografi ilmuwan seperti Hawking dalam The Theory of Everything (2014). Kemudian, film Einstein dalam serial televisi Genius (2017), dan terakhir film biopik tentang Neil A Amstrong dalam First Man (2018). Film-film tersebut menunjukkan semakin tumbuhnya minat sains, terutama astronomi dan kosmologi.

Namun, ketertarikan saintis sering kali hanya berhenti dengan menonton di bioskop. Masyarakat seakan terlalu sibuk untuk meresapi perihal jagat raya. Mereka enggan membaca buku sains tebal atau mengikuti acara seminar tentang sains. Atas dasar itulah, Neil deGrasse Tyson, seorang astrofisikawan Amerika, menulis buku Astrofisika untuk Orang Sibuk (2018) ini. Tyson pun mendedikasikan buku dengan sebaris kalimat, “Untuk semua yang terlalu sibuk sehingga tak sempat membaca buku tebal. Namun, tetap mencari saluran ke jagat raya.”

Buku ini memberi pemahaman dasar atas segala gagasan dan penemuan besar yang mendukung pemahaman modern atas alam semesta. Penulis mengajak pembaca menjelajah kosmos dengan ringkas, dari riwayat Ledakan Besar sampai pencarian kehidupan di alam semesta.

Dia mengungkapkan kekuatan dan keindahan hukum fisika karena berlaku di mana-mana. Penemuan Newton atas hukum gravitasi apel yang jatuh dari pohon, ternyata juga berlaku di planet, asteroid, dan komet dalam mengelilingi matahari (hal 13).

Buku mengutarakan kaitan antara gravitasi dan ketinggian gunung. Alasan objek-objek di jagat raya berbentuk bulat. Asal-usul nama unsur di tabel periodik, sampai cara ilmuwan menemukan cahaya yang “tidak tampak” seperti inframerah dan ultraviolet. Tyson menuliskannya dengan bahasa penuh empati dan ketakjuban, tapi tetap menyenangkan lantaran banyak selipan humor.

Misalnya, tatkala berkisah tentang penemuan cahaya tak tampak, sinar gama. Dia menulis, “Siapa pun yang terlalu banyak menonton film fiksi ilmiah tahu, sinar gama itu buruk untuk manusia. Orang bisa jadi hijau dan berotot atau mengeluarkan jaring laba-laba dari pergelangan,” (hal 107).

Buku ini juga membicarakan kemungkinan adanya kehidupan lain di luar Bumi. Eksoplanet atau planet yang diduga mirip dengan Bumi, pertama kali ditemukan 1995. Kini, jumlah yang telah ditemukan menembus tiga ribu. Alam semesta teramat luas.

Diperkirakan, di galaksi Bimasakti saja jumlahnya sampai 40 miliar planet mirip Bumi. Itulah, kata Tyson, planet-planet yang boleh jadi ingin dikunjungi manusia suatu saat nanti (hal 131). Semua itu kedengarannya eksotis dan sukar dipercaya. Tetapi, bukankah dulu pun dianggap gila ketika Copernicus mengusulkan, Bumi mengelilingi Matahari?

Masih banyak yang belum diketahui. Manusia baru memulai perayaan jelajah alam semesta. Buku ini membantu pembaca menyadari begitu banyak yang menarik perihal astronomi dan kosmologi. Buku ini cocok bagi mereka yang terlalu sibuk untuk memahami alam semesta di kelas, buku pelajaran, atau film dokumenter. Buku Astrofisika untuk Orang Sibuk dapat menjadi pengantar singkat yang mengasyikkan dan menghibur. 

Diresensi Muhammad Khambali, Alumnus UNJ

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment