Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
Hospital Expo 2019

Penerapan Teknologi Inovatif untuk Layanan Kesehatan

Penerapan Teknologi Inovatif untuk Layanan Kesehatan

Foto : KORAN JAKARTA/IMANTOKO
A   A   A   Pengaturan Font

Revolusi industri 4.0 memberikan dampak nyata di sektor kesehatan. Produk inovasi teknologi kesehatan yang sudah terbangun kini digadang-gadang mampu memecah persolaan layanan dan penanganan pasien lebih berkualitas.

Hampir seluruh aspek ke­hidupan manusia, saat ini khususnya pada era industri 4.0 membuat masyarakat ‘menggantungkan’ hidup pada inovasi teknologi. Hal ini tak bisa kita pungkiri lagi termasuk dalam sektor kesehatan umumnya sangat mengandalkan teknologi digital kesehatan terbaru, karena dianggap lebih mumpuni dan akurat dari segi penanganan serta pelayanan pasien.

Melihat tren itu, Marco Dewanto Prasetya, Direktur Operasional PT Airindo Sentra Medika, perusahaan yang bergerak dibidang distribusi alat kesehatan (alkes) menjelaskan, dari sisi digitalisasi layanan hingga penanganan rumah sakit di Indonesia sudah mulai menggeliat.

“Digitalisasi saat ini tidak hanya telemedicine, tapi hampir di seluruh lini pelayanan rumah sakit, termasuk laboratorium. Hal ini menunjukan digitalisasi dalam pelayanan rumah sakit di Indonesia sangat meningkat dalam beberapa tahun belakangan,” ujar Marco kepada Koran Jakarta, di sela acara Pameran Hospital Expo 2019, yang berlangsung di Jakarta Conven­tion Center (JCC), kemarin.

Misal dari sisi xray saja, dulu medi­umya melalui file film tapi sekarang su­dah file digital. Alhasil pendistribusian gambar pun lebih cepat ke ruang-ruang konsul dokter terkait. “Dan menariknya penerapan teknologi alkes itu tidak hanya terjadi di rumah sakit Jakarta, tapi sudah merambah berbagai daerah seperti Bandung, Sumatera, Surabaya, Kalimantan, Jawa Tengah dan lain-lainya,” terang Marco.

Meski geliat digitalisasi layanan dan alkes di rumah sakit Indonesia tumbuh, ada sejumlah tantangan yang cukup menghambat. Salah satunya soal infrastruktur khususnya pada jaringan internet.

“Perkiraan saya rumah sakit yang su­dah mengadopsi berbagai teknologi itu baru sekitar 15 persen, artinya pasarnya masih sangat besar. Hambatan utama sejauh ini memang masih soal terse­dianya jaringan internet, kalau rumah sakit di wilayah terpencil pasti akan sulit mendapatkan hal itu, berbeda dengan di kota-kota besar,” ungkapnya.

Menurut laporan Frost & Sullivan Healthcare Outlook, sektor kesehatan diidentifikasikan sebagai bagian yang penting bagi masa depan suatu negara dan pasarnya diprediksi akan naik tiga kali lipat dari 7 miliar dolar AS menjadi 21 miliar dolar AS pada 2019.

Kemudian dampak dari penerapan teknologi di rumah sakit dinilai besar manfaatnya. Terlebih digitalisasi sudah menjadi pandangan umum ketika ingin meningkatkan kualitas layanan kesehatan dengan baik. Manfaat utama yang cukup signifikan ialah soal memu­dahkan akselerasi laju penanganan pasien, dan penanganan dokter.

“Dari satu pasien ke pasien lain bisa ditangani dengan cepat, pasien juga tidak menunggu, dan yang menarik penanganannya terkoordinasi. Ini penting untuk mereka pasien dengan penyakit kritis, yang membutuhan hasil LAB sesegera mungkin. Melalui teknologi berbagai informasi pasien itu menjadi lebih bergerak cepat, penan­ganannya pun pasti menjadi lebih tepat dan akurat,” lanjutnya.

Kemudian dari sisi rumah sakit juga menguntungkan, Marco menyebut efisiensinya mampu mereduksi 50 pers­en pengeluaran. Bisa dibayangkan, dari sisi radiologi yang pada penanganan konvensional sangat menggantungkan dokumen film, bisa seutuhnya hilang dengan file digital atau dikonversi ke bentuk CD yang jauh lebih murah.

“Dari sisi rumah sakit mengun­tungkan, untuk pasien juga mengun­tungkan karena akan menjadi murah untuk mendapatkan file pemeriksaan kesehatan, dan dampaknya ke BPJS pun tentu bisa sangat membantu,” papar Marco.

Menjawab Persoalan

Hospital Expo, pameran alkes dan kebutuhan rumah sakit terbesar di Asia Tenggara itu memang tampak menge­sankan dengan aneka produk alkes canggih. Setidaknya hal itu lah yang melekat di ingatan ketika tak kurang dari 500-an peserta perusahaan alkes dari berbagai negara, tak terkecali Indo­nesia itu sibuk memperkenalkan solusi miliknya kepada para pengunjung.

Pameran yang digelar untuk ke-32 kalinya itu, dibarengi dengan seminar nasional Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) ke-16. Ketua Umum PERSI Kuntjoro AP mengungkap transformasi menuju layanan kesehat­an paripurna memang tidak mudah.

“Oleh karena kita tidak mungkin sendiri-sendiri. Untuk mencapai ha­rapan itu ke depannya PERSI memiliki banyak rencana mulai dari penerbitan buku putih, pedoman akuntansi rumah sakit, hingga penghargaan di bidang inovasi,” terangnya.

Sekjen Kemenkes Oscar Permadi menekankan agar inovasi dapat men­jawab upaya penurunan angka stunting yang digemakan Kemenkes.

“Sesuai dengan misi pembangunan nasional 5 tahun ke depan, peningkatan SDM unggul menjadi fokus pemerintah dengan menekan angka kematian ibu dan stunting pada usia anak sekolah,” ujarnya.

Tantangan yang harus dihadapi adalah meningkatkan layanan kesehat­an yang belum merata di kelas rumah sakit, yang tidak menggambarkan kompetensi sebenarnya. “Saat ini kita menekankan agar rumah sakit berubah menjadi smart hospital dan green hospi­tal,” sambungnya. ima/R-1

Memerangi Stunting

Sementara itu, merujuk pada data Dinkes Kabupaten Tangerang, prevalensi stunting tumbuh hingga mencapai 40 persen pada anak umur 2 tahun. Peningka­tan tersebut disebabkan salah satunya oleh perilaku kurang sehat seperti kebiasaan buang air besar (BAB) tidak pada tempatnya yang berakibat pada terkontaminasinya air yang kemudian dikonsumsi anak-anak dan masyarakat.

“Hingga saat ini 2.934 anak-anak di Tangerang alami malnutrisi, khususnya Keca­matan Mauk sebagai salah satu wilayah lay­anan Habitat for Humanity Indonesia (HHI). Tidak hanya malnutrisi, per 2019, terdapat 2.796 keluarga yang tinggal di Kecamatan Mauk tidak memiliki toilet ataupun sanitasi layak. Dan kondisi ini memerlukan tindakan segera,” ungkap National Director HHI, Sus­anto Samsudin.

Open defecation free masih menjadi salah satu prioritas yang terus disuarakan HHI den­gan didukung berbagai pihak, salah satunya mitra Herbalife Nutrition Indonesia (HNI) yang merupakan perusahaan produk nutrisi dan kesehatan.

Untuk memperkuat komitmen dan kontri­busi dalam memerangi permasalahan nutrisi dan kesehatan masyarakat, HNI, baru-baru ini meluncurkan inisiatif global bertajuk ‘Nu­trition for Zero Hunger’.

Inisiatif ini sejalan dengan Program PBB yaitu Sustainable Development Goals yang mendorong banyak pihak di dunia untuk turut serta berperan dalam memerangi kelaparan dengan segala bentuknya serta memberikan solusi atas isu ketahanan pangan dan gizi dunia.

“Kami akan terus menjaga komitmen ini, karena kami percaya nutrisi yang sehat akan berdampak positif pada kehidupan manusia,” ujar Senior Director & GM HNI, Andam Dewi.

Dengan menggandeng Yayasan Habitat for Humanity (YHI), Herbalife Nutrition Founda­tion (HNF) akan membangun fasilitas sanitasi sehat sekaligus edukasi kesehatan yang men­argetkan kurang lebih 800 penduduk sebagai penerima manfaat di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

Untuk merealisasikan niatan itu, HNF telah memberikan hibah keuangan sebesar 100 ribu dolar AS untuk program yang dilaksanakan di Kecamatan Mauk sebagai pilot project dengan membangun antara lain 15 personal toilet untuk 15 keluarga, satu unit fasilitas air bersih yang akan dipergunakan 75 keluarga, 4 toilet umum untuk 60 keluarga, satu unit toilet sekolah dan edukasi pelatihan mencuci sehat bagi 200 masyarakat. ima/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment