Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments

Pendidikan Antiradikalisme

Pendidikan Antiradikalisme

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh amnia salma

Kenyataan bahwa radikal­isme telah menjangkiti remaja, pelajar, dan anak-anak usia sekolah tidak dapat dipungkiri. Beberapa waktu lalu, seorang remaja, RA (23) meledakkan diri di pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Te­ngah (3/6/2019). Pada tahun 2016, seorang remaja beri­nisial IAH (18) yang saat itu baru lulus sekolah menengah atas juga hendak meledakkan diri di Gereja Katolik Santo Yosep Medan, Sumatera Utara (28/8/2016).

Perlu dipahami, remaja atau kalangan muda merupakan target dan sasaran utama penyebaran ideologi te­rorisme. Apalagi, di era radikalisasi online, mereka termasuk kalangan yang akrab dunia maya. Bruce Hoffman mencatat, kelompok teroris telah lama memanfaatkan ruang dunia maya dengan mendirikan ribuan situs dalam berbagai bahasa.

Lebih lanjut, Gabriel Weimann (2014) juga memaparkan, salah satu alasan kelompok teroris menyukai media so­sial sebagai prasarana propaganda karena secara demografis banyak dihuni ka­langan muda yang menjadi target dan sasaran radikalisasi dan rekrutmen.

Fenomena eks­tremisme, radikal­isme dan terorisme yang kini marak di te­ngah-tengah kita akan sangat sulit dihentikan jika pendidikan dalam keluarga tidak menempat­kan anak usia dini sebagai sub­jek utama dalam penanaman propaganda antiradikalisme. Penanaman nilai-nilai positif tentang agama, budaya, dan kebangsaan sejak dini menjadi sangat penting sebagai upaya untuk membendung pengaruh radikalisme dan ekstremisme yang dapat merusak seorang anak atau anggota keluarga.

Perlu dipahami, sikap in­toleransi, kebencian terha­dap orang lain, sikap eksklusif, heroisme kekerasan, sikap tidak acuh dan apatis ter­hadap kebangsaan, kini telah marak ditanamkan sejak dini. Padahal, anak-anak merupakan investasi bangsa di masa depan. Jika karakter anak-anak muda baik, maka menjadi baiklah masa depan bangsa. Begitu juga sebaliknya. Maka, pendi­dikan keluarga untuk menang­kal narasi-narasi kekerasan dan radikalisme harus benar-benar digalakkan sejak dini.

Sosialisasi pri­mer seorang manusia menjadi tanggung jawab keluarga, se­dangkan lingkungan, teman sepermainan, sekolah, mau­pun media massa (internet, koran, majalah, buku, dan lain-lain) hanya agen sosialisasi sekunder bagi manusia. Setiap permasalahan dalam diri, me­miliki keterkaitan erat dengan proses sosialisasi yang dijalani dalam keluarga (Faturrohman, 2018).

Nilai-nilai, norma-norma, dan keyakinan manusia diba­ngun dari keluarga. Keluargalah yang paling dominan memben­tuk sikap, perilaku, dan keprib­adian manusia. Hanya, banyak orang tua berpikiran, mendidik hanya tugas sekolah. Kalau su­dah di sekolah, tugas mereka selesai.

Kalau ada kesalahan anak, orang tua menyalahkan seko­lah. Mereka tak mau menengok diri. Mereka tak mau memper­baiki cara asuh dalam keluarga. RA Kartini (1879–1904) pernah berujar, “Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masya­rakat, tetapi keluarga di rumah juga harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah, kekuatan mendidik berasal.”

Maka, di tengah deras­nya arus penyebaran ideologi radikal akibat majunya teknolo­gi komunikasi dan informasi saat ini, yang membuat anak-anak mudah terjangkit paham radikal terorisme, keluarga adalah agen tepat untuk men­ciptakan kondisi ramah bagi penanaman nilai-nilai moral. Dengan begitu, anak bisa belajar mengenai arti toleransi di tengah ke­beragaman.

Maka, penting men­dulukan perdamaian daripada kekerasan serta memutus penye­baran ideologi radikal. Ki Hajar Dewantara pun pernah mengatakan, keluarga sebagai tempat pertama anak-anak hidup dan berinteraksi. Keluarga berper­an penting da­lam proses tum­buh kembang, terutama pada masa-masa awal. Saat itu anak mudah menerima rangsang atau pengaruh ling­kungan.

Ditanamkan

Terdapat bebe­rapa praktik yang harus ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini. Ini tidak boleh dilalaikan keluarga seba­gai agen sosialisasi primer. Di antaranya, mena­namkan cinta toleransi kepada buah hati. Toleransi bermakna bahwa manusia harus bersikap tenggang rasa atas pendirian yang berbeda atau bertentang­an dengan pendapat sendiri.

Sikap toleransi dapat diba­ngun dengan membiasakan untuk mau mendengarkan pendapat orang lain. Dia mau menghargai kepercayaan orang lain. Dia berbesar hati meng­akui kelebihan orang lain. Dia mengapresiasi usaha orang lain dan tidak boleh menyuburkan sikap egoisme (Pujiati, 2017). Hanya, tidak mungkin mena­namkan karakter toleransi apa­bila anak tidak mendapat kasih sayang dan perhatian orangtua. Sebab, penanaman karakter toleransi dipengaruhi kede­katan hubungan orangtua dan anak.

Dengan sikap toleransi yang terus dipupuk dan dipelihara, diharapkan karakter ini akan dibawa anak hingga dewasa. Se­hingga, toleransi yang ditanam­kan sejak dini mampu menjadi benteng anak-anak untuk me­lindungi diri, sehingga tidak mudah terprovokasi berbagai propaganda radikalisme yang menebarkan sikap intoleran di kalangan remaja.

Kemudian, mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dan kea­gamaan secara beriringan. Hal ini penting digalakkan dengan maraknya berbagai propa­ganda yang belakangan masif mengatasnamakan agama de­ngan dalil-dalil yang sangat kaku (eksklusif). Mereka men­coba memecah-belah kesatuan bangsa Indonesia.

Jika orang tua hanya meng­ajarkan anak dengan kebenaran agama, tanpa diimbangi nilai-nilai kebangsaan, maka ketika dewasa anak akan mengesam­pingkan nilai-nilai kebangsaan yang mestinya dijunjung tinggi.

Semua itu urgen diperhati­kan orang tua dalam mendidik anak-anak. Oleh sebab itu, de­ngan menyadari pentingnya pendidikan dalam keluarga seyogianya menyadarkan orang tua betapa perilaku bu­ruk seringkali akibat kondisi kehidupan keluarga yang tidak kondusif. Orang tua kerap le­bih disibukkan urusan mencari materi, sehingga melupakan jalinan emosi dan komunikasi dengan anak.

Padahal, sentuhan emosi dan komunikasi dapat menye­babkan anak merasakan ke­hangatan dan perhatian orang tua. Ini dapat mencegah anak melakukan pelarian ke hal-hal negatif dan terjebak dengan paham-paham radikal. Dengan cara seperti itulah, keluarga dapat berperan dalam upaya melindungi anak dari bahaya radikalisme. Penulis Mahasiswi Pascasar­jana Universitas Indonesia

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment