Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments
Riset dan Teknologi

Pendanaan Riset Harus Berkelanjutan

Pendanaan Riset Harus Berkelanjutan

Foto : ISTIMEWA
Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Adriansjah Azhari.
A   A   A   Pengaturan Font

BANDUNG – Ketersediaan pendanaan riset jangka pan­jang atau multiyears untuk ke­lanjutan riset dari awal sampai menghasilkan luaran berupa produk masih menjadi kendala para peneliti.

“Para peneliti mengeluhkan jangka waktu pendanaan yang pendek, tidak berkelanjutan. Terkadang dana hanya sekali dalam satu tahun, tetapi tahun berikutnya kembali kosong,” kata peneliti senior Bio Farma yang juga Ketua Panitia Forum Riset Life Science Nasional (FRLN) 2018, Neni Nurainy, kepada wartawan, di Bandung, Jawa Barat, Senin (10/9).

Dampak dari tak tersedia­nya dana riset yang berkelan­jutan tersebut, kata Neni, para peneliti harus banyak mem­buat proposal penelitian baru. Terkadang mereka gagal men­dapat pendanaan karena per­syaratan administrasi yang ti­dak terpenuhi.

“Peneliti memerlukan pen­danaan jangka panjang sampai prototipe produk siap dilun­curkan,” ujarnya.

Untuk mengatasi kendala tersebut, pada FRLN 2018 akan dihadirkan narasumber dari Kemenristekdikti, Kemenkeu/LPDP, Kemenkes, dan Bapenas selaku pengelola dana peneliti­an milik pemerintah. Dengan hadirnya orang-orang dari ke­menterian terkait diharapkan akan ditemukan solusi jangka panjang. Pembiayaan untuk riset-riset rintisan yang tidak feasible untuk dibiayai industri karena tahapannya masih ter­lalu dini, dan risikonya terlalu besar karena jauh dari tahapan riset yang layak ditindaklanjuti oleh industri.

Dia menambahkan, selain pendanaan jangka panjang, faktor lain yang menentukan keberlanjutan riset dan inovasi bidang life science adalah ba­gaimana membangun komuni­kasi yang baik antara industri, akademisi, pemerintah, dan komunitas. Karena faktanya, ada beberapa penelitian yang sudah dilakukan oleh pergu­ruan tinggi, ternyata tidak bisa dipakai oleh industri karena belum sesuai dengan standar kebutuhan industri.

“Forum ini (FRLN 2018) menjadi arena sinkronisasi an­tara kebutuhan industri dengan penelitian perguruan tinggi dan lembaga riset. Jika telah sink­ron maka industri seperti Bio Farma dengan senang hati akan menindaklanjuti dan nantinya diproduksi secara komersial untuk melayani kebutuhan ma­syarakat,” ujar Neni.

Neni menambahkan, Fo­rum Riset Life Science Nasio­nal 2018 akan diselenggarakan pada 13 September 2018 di Ja­karta. Kegiatan ini mengambil tema “Riset dan Inovasi Bidang Life Science yang Berkelanjut­an di Indonesia”. Tujuannya, membangun sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, serta komunitas pen­dukungnya.

Pengembangan Produk

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Riset dan Pe­ngembangan Bio Farma, Adri­ansjah Azhari, mengatakan Bio Farma terus melakukan upaya percepatan dan kemandirian dalam pengembangan produk vaksin dan life science.

“Kami ingin menjadi loko­motif riset life science di In­donesia. Bio Farma tengah bekerja keras mempercepat hilirisasi dan peluncuran pro­duk life science hasil riset pene­liti dalam negeri melalui kerja sama yang erat dengan peme­rintah, termasuk dengan ba­dan regulator, dan merangkul para peneliti dari akademisi, lembaga riset, maupun komu­nitas,” paparnya. tgh/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment