Koran Jakarta | April 22 2019
No Comments

Pencoblosan di Luar Negeri

Pencoblosan di Luar Negeri
A   A   A   Pengaturan Font

Pemilu Serentak 2019 besok merupakan hajat demokrasi terbesar dalam sejarah pemilu Indonesia karena menggabungkan pencoblosan pilpres, legislatif, dan DPD. Pemilih di tempat pemungutan suara (TPS) harus sudah memiliki pilihan agar cepat mencoblosnya untuk DPR, DPRD kab/kota/prov atau DPD.

Ada lima kertas suara yang harus dicoblos, kecuali DKI Jakarta hanya empat. Begitu pula dengan jumlah pemilih yang makin meningkat dibanding pemilu sebelumnya. Komisi Pemilihan Umuu (KPU) selaku penyelenggara pemilu serentak telah melakukan rekapitulasi daftar pemilih tetap (DPT) hasil perbaikan ketiga (DPThp 3).

Jumlah pemilih DPThp 3 menjadi 192.866.254. Angka ini terdiri dari pemilih dalam dan luar negeri. Total pemilih dalam negeri 190.779.969. Sedang pemilih luar negeri berjumlah 2.086.285. Pemilihan luar negeri dikoordinasi Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN).

Jumlah pemilih luar negeri ada di 182 negara. Semangat masyarakat Indonesia yang berada di mancanegara untuk menggunakan hak pilihnya sangat tinggi. Pencoblosan luar negeri berlangsung 8-14 April. Aantusiasme masyarakat sangat tingggi untuk menyalurkan hak pilih. Bahkan mereka rela datang dari tempat yang jauh menuju TPS di KBRI atau tempat lain.

Sayang, muncul kekisruhan yang didorong tingkat partisipasi sangat tinggi. Di sisi lain, PPLN kurang mengantisipasi. Di sejumlah negara, surat suara kurang karena banyak warga yang sebelumnya tak tercatat dalam daftar pemilih juga datang untuk mencoblos. Begitu juga waktu pencoblosan juga memicu kekisruhan karena antrean warga masih panjang waktu pencoblosan dinyatakan sudah habis.

Hal ini antara lain terjadi di Sydney, Australia. Banyak warga belum mencoblos. Anggota KPU, Ilham Saputra, menjelaskan TPS di Town Hall Sydney ditutup karena masa sewa sudah habis pada pukul 18.00 waktu setempat. KPU siap menggelar pemungutan suara ulang jika ada rekomendasi dari Bawaslu atau Panwaslu setempat.

Sedangkan di Malaysia, salah satu negara yang WNI-nya sangat banyak, juga timbul kisruh. Aebelumnya malah sudah ada kasus ribuan surat suara tercoblos di Selangor. Ini membuat KPU dan PPLN bekerja keras agar semua WNI bisa memilih.

Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur menginformasikan, perubahan jumlah TPS di Kuala Lumpur. Semula tersebar di 255 lokasi menjadi tiga lokasi di KBRI Kuala Lumpur, Wisma Duta, dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Anggota KPU, Evi Novida, mengatakan, jumlah TPS di Kuala Lumpur dipersempit menjadi tiga lokasi karena persoalan izin. Perubahan ini tentu mengakibatkan menumpuknya jumlah pemilih dan antrean yang sangat panjang.

Dari pemungutan suara di luar negeri yang telah dilaksanakan selama satu pekan, sesungguhnya membanggakan. Sebab perhatian dan partisipasi WNI di berbagai belahan dunia masih sangat tinggi terhadap perkembangan di Tanah Air, khususnya pelaksanaan pemilu serentak.

Masyarakat di luar negeri juga memiliki harapan tinggi atas siklus lima tahunan untuk mencari pemimpin negara. Mereka berharap, siapa pun yang terpilih dalam pilpres, sebagai terbaik bagi masa depan Indonesia. Namun, satu lagi yang amat mencolok, kurang siapnya penyelenggara pemilu, KPU dan Bawaslu.

Persiapan pemilu di luar negeri kurang maksimal. Apalagi pemilu kali ini sangat berbeda dari sebelumnya. Persaingan antarkandidat capres membuat masyarakat di dalam dan luar negeri seperti terbelah dua.

Kita berharap, KPU dan Bawaslu, lebih sigap dalam menyelesaikan berbagai persoalan pemilu, khususnya pelaksanaan pemungutan suara. Kita harus menghargai keinginan kuat warga benar ingin menyalurkan hak pilih dan menentukan masa depan Indonesia agar lebih baik, maju, dan demokratis.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment