Koran Jakarta | December 17 2018
No Comments
Pencemaran Lingkungan l Limbah Industri dan Rumah Tangga Jadi Penyebab

Pencemaran Sungai Meningkat

Pencemaran Sungai Meningkat

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Penataan sungai di Jakarta tidak semata soal estetika, tetapi yang terpenting adalah penanganan pencemaran air.

 

JAKARTA - Pencemaran sungai di Jakarta meningkat cukup tajam. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI bertekad mengatasi pencemaran dan menata kembali sungai-sungai agar lebih alamiah.

“Jadi, selama 2014, 2015, 2017, kita mengalami peningkatan sungai yang mengalami pencemaran berat. Namun, kita sudah menyusun, sudah menyiapkan roadmap-nya untuk segera mengembalikan ke kondisi sebelumnya,” ujar Gubernur DKI Jakata Anies Baswedan, di Balaikota, Jakarta Pusat, Rabu (12/9).

Penanganan pencemaran ini menjadi pekerjaan prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Anies mengatakan, penataan sungai tidak semata soal estetika agar tampak indah. Namun yang terpenting adalah penanganan pencemaran air yang cukup tinggi belakangan ini.

“Tapi yang paling penting pencemaran yang terjadi di DKI selama beberapa tahun ini meningkat secara signifikan. Jadi PR-nya itu, karena itu yang akan kita lakukan adalah membangun sungai sehingga menjadi ekosistem yang alamiah lagi,” katanya.

Sungai yang natural, ungkapnya, akan disenangi oleh hewan-hewan untuk dijadikan habitatnya. Hal inilah yang menjadikan indikasi sungai sehat. Jika satwa liar itu terlihat berkembang dengan baik, sungai di Jakarta kembali sehat.

Dari data yang diterimanya, kondisi kualitas air sungai di DKI Jakarta cukup memprihatinkan. Data dari 2014 sampai 2017, tingkat pencemaran sungai mengalami perubahan cukup signifikan. Sungai yang tercemar ringan dari 23 persen turun menS3jadi 12 persen. Sungai yang tercemar sedang turun dari 44 persen tahun 2014 menjadi 17 persen di tahun 2017.

“Jadi, yang tercemar sedang dan tercemar ringan itu turun, tercemar berat dari 32 persen menjadi 61 persen. Jadi yang sedang dan ringan itu menjadi berat, bukan turun lalu hilang,” tegasnya.

 

Limbah Idustri

Direktur Utama PD PAL Jaya, Subekti mengatakan, beberapa industri di Jakarta seringkali membuang limbah ke sungai. Padahal, setiap industri itu seharusnya memiliki pengolahan limbah sendiri sebelum dibuang ke sungai.

Seperti Industri tahu/tempe, seringkali membuang limbah langsung ke Kali Sentiong. Sehingga Kali ini dikenal sebagai kali item. Dia mengusulkan agar pengrajin tempe/tahu bisa membuat instalasi pengolahan limbah komunal untuk mengatasi pencemaran. Dia pun menawarkan setiap rumah tangga menggunakan bio filter sebagai tangki septik limbah domestik.

“Kita itu punya produk biopal. Septic tank dari fiber. Kita modifikasi septic tank, karena tidak hanya mengolah lumpur tinjanya, tapi juga pengolahan lumpur non tinja atau grey water. Grey water itu dari air limbah cucian, setelah mandi, cuci piring, atau cuci baju. Saat ini, grey water selalu dibuang ke selokan, padahal itu seharusnya diolah,” katanya.

Diakuinya, pengolahan limbah di Jakarta dilakukan dengan dua pendekatan. Yakni, pengolahan limbah perpipaan dan non perpipaan. Dimana limbah dari sumbernya dialirkan melalui pipa untuk diolah. Sistem ini dikenal sistem off side atau sistem pengolahan air limbah domestik terpusat (SPAL DT).

Kedua adalah non perpipaan atau on side. Dikenal juga Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Setempat (SPAL DS). Dalam sistem ini, yang mendistribusikannya adalah mobil truk. Dari rumah tangga, disedot oleh mesin ke truk lalu dialirkan ke tempat pengolahan.

“Di Jakarta ada dua tempat pengolahan limbah on side, yakni di Pulogebang, Jakarta Timur dan Duri Kosambi Jakarta Barat. Kedua tempat ini dinamai Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT),” tegasnya.

Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetio Edi Marsudi mengatakan, Anies tidak bisa menilai tingkat pencemaran dari satu sisi. Diakuinya, kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta sebelumnya belum sempurna. Meski demikian, harapnya, Anies tetap melanjutkan program kerja yang dianggap berhasil. Termasuk dalam penataan sungai di Ibukota.

 

pin/P-5

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment