Koran Jakarta | May 30 2017
No Comments
SAINSTEK

Penanganan Malaria Berkelanjutan

Penanganan Malaria Berkelanjutan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, setidaknya satu orang anak meninggal setiap menitnya karena malaria. Penyakit ini menghabiskan biaya dua belas miliar dolar per tahun untuk biaya perawatan kesehatan serta potensi kehilangan produktivitas. Pada tahun 2030, WHO menargetkan pemberantasan malaria di seluruh dunia.

Beragam upaya dilakukan, investasi untuk pengembangan vaksin melawan parasit dan dalam memerangi vektor parasit, nyamuk, pengembangan riset untuk menemukan anti malaria dan banyak riset lainnya. Melawan malaria tanpa menggunakan insektisida sangat penting bagi produksi pangan dunia. “Efek dari penyakit pada produksi pertanian sangat diremehkan,” kata Prof. Willem Takken, peneliti pada Kenyan International Centre of Insect Physiology and Ecology (ICIPE).

Takken sendiri terlibat dalam penelitian terkait dengan teknologi perangkap nyamuk yang menggunakan aroma khas manusia. Perangkat ini berhasil menekan populasi nyamuk malaria hingga 70 persen. Teknolgi ini dikembangkan bersama sejumlah peneliti lain dari Wageningen University dan the Swiss Tropical and Public Health Institute. Masih menurut Takken, anakanak dengan malaria memerlukan akses terhadap perawatan di rumah sakit sehingga memaksa orang tua mereka tidak dapat bekerja, termasuk bekerja di ladang sehingga tingkat produksi pangan akan menurun.

Jika orang tua itu sendiri juga menderita infeksi malaria maka empat atau lima kali dalam setahun, mereka juga tidak dapat bekerja. Dari hasil penelitianya selama ini, rumah tangga di Afrika kehilangan 10 persen dari pendapatan tahunannya karena malaria. Masih menurut Takken, pemberantas malaria harus dilakukan sepenuhnya dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dalam beberapa kasus penggunaan insektisida dilakukan untuk membunuh nyamuk, namun penggunaan yang ekstensif untuk membunuh nyamuk yang merupakan pembawa penyakit ini, nyamuk menjadi resisten terhadap bahan kimia. Kondisi tersebut justru membuat penanggulangan malaria akan semakin rumit. dan kurang ramah lingkungan. Metode alternatifpun sangat dibutuhkan untuk penanganan malaria yang berkelanjutan ini. 

 

nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment