Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
SAINSTEK

Pemurni Air Bertenaga Surya

Pemurni Air Bertenaga Surya

Foto : ISTIMEWA
Proyek Pemurni air bertenaga surya Proyek didanai oleh National Science Foundation (NSF). Dan ini merupakan bentuk kolaborasi antara UB, Fudan University di China dan University of Wisconsin-Madison.
A   A   A   Pengaturan Font

Perangkat murah ini berbentuk seperti sangkar burung. Perangkat ini juga dapat membantu menyediakan air minum bagi orang-orang yang terkena bencana alam Ide menggunakan energi matahari untuk menguapkan dan memurnikan air merupakan salah ide kuno yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

Filsuf Yunani Aristoteles setidaknya menggambarkan proses semacam itu lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Saat ini, para ilmuwan di berbagai lintas disiplin ilmu dan lintas kampus membawa teknologi kuno tersebut ke era teknologi yang lebih modern dan menggunakannya untuk membersihkan atau memurnikan air.

Para ilmuan ini menyebutnya sebagai pemecahan rekor. Dengan mengalungkan kertas hitam yang dicelup karbon bentuk segitiga dan menggunakannya untuk menyerap air dan kemudian menguapkan air tersebut. Dengan demikian, para ilmuan telah berhasil mengembangkan metode untuk menggunakan sinar matahari untuk menghasilkan air bersih dengan efisiensi yang mendekati sempurna.

“Teknik kami mampu menghasilkan air minum pada kecepatan yang lebih cepat daripada yang secara teoritis dihitung di bawah sinar matahari alami,” kata ketua peneliti Qiaoqiang Gan, profesor teknik elektro di Buffalo School of Engineering dan Applied Sciences. Menurut Gan, Saat energi matahari digunakan untuk menguapkan air, biasanya sebagian energi terbuang karena panas hilang ke lingkungan sekitarnya.

Ini membuat proses pemurnian air kurang efisien. “Sistem kami memiliki cara untuk menarik panas dari lingkungan sekitarnya, sehingga memungkinkan kita untuk mencapai tingkat efisiensi yang mendekati sempurna. “ kata Gan. Teknologi yang dikembangkan Gan dan rekannya ini termasuk dalam teknolgi pemunian ari berbiaya rendah yang dapat menyediakan air minum di daerah-daerah di mana sumber daya langka, atau di mana bencana alam melanda.

Kemajuan dalam penelitian ini sendiri dipublikasikan pada 3 Mei di jurnal Advanced Science. Proyek yang didanai oleh National Science Foundation (NSF), merupakan bentuk kolaborasi antara UB, Fudan University di China dan University of Wisconsin-Madison. Sementara itu, kandidat doktor, Haomin Song dan Youhai Liu merupakan penulis pertama studi tersebut.

Gan, Song dan rekan-rekan lainnya telah meluncurkan startup, yakni Sunny Clean Water, untuk membawa penemuan ini kepada orang-orang yang membutuhkannya. Dengan dukungan dari program Riset Inovasi Bisnis NSF, perusahaan ini mengintegrasikan sistem penguapan baru ke dalam prototipe matahari yang masih ada, yakni pemurni air tenaga surya.

“Ketika Anda berbicara dengan pejabat pemerintah atau organisasi nirlaba yang bekerja di zona bencana, mereka ingin tahu, Berapa banyak air yang dapat Anda hasilkan setiap hari?’ Kami memiliki strategi untuk meningkatkan kinerja harian perangkat kami, “kata Song. “Dengan teknologi solar yang masih sebesar kulkas mini, kami memperkirakan bahwa kami dapat menghasilkan 10 hingga 20 liter air bersih setiap hari,” tambah Song.

Solar stills sudah ada sejak lama. Perangkat ini menggunakan panas matahari untuk menguapkan air dan menyisakan garam, bakteri dan kotoran lainnya. Kemudian, uap air mendingin dan kembali ke keadaan semula yakni cair, pada titik mana ia dikumpulkan dalam wadah yang bersih. Teknik ini memiliki banyak kelebihan.

Sederhana, dan sumber daya yang digunakan yakni matahari tersedia di mana-mana. Namun sayangnya, bahkan model-model solar terbaru juga tidak efisien dalam menguapkan air.Tim Gan membahas tantangan ini, Mereka meningkatkan efisiensi sistem penguapan mereka dengan mendinginkannya.

Komponen utama dari teknologi mereka adalah selembar kertas yang dicelup pada karbon yang dilipat menjadi bentuk “V” terbalik, seperti atap sangkar burung. Tepi bawah kertas menggantung di genangan air dan menyerap cairan seperti serbet. Pada saat yang sama, lapisan karbon menyerap energi matahari dan mengubahnya menjadi panas untuk penguapan. 

 

nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment