Pemuda dan Pembangunan Desa | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 11 2020
No Comments

Pemuda dan Pembangunan Desa

Pemuda dan Pembangunan Desa

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Deni Danial Kesa, phd

Seiring dengan visi besar Presiden Joko Widodo (Jokowi), SDM akan menjadi kunci keberhasilan. Pemanfaatan SDM desa tidak lepas dari peranan para pemuda.

Di era serbadigital akses informasi dan teknologi semakin mudah. Pemuda desa sekarang banyak mengikuti berbagai perubahan zaman, termasuk ke dalam pola pikir dan gaya hidup. Ini perkembangan tidak disangka-sangka.

Peran pemuda desa berlangsung dalam proses pembangunan dan tidak dapat dianggap sebagai kegiatan terisolasi. Program kepemudaan dan organisasi merupakan bagian dari pengembangan masyarakat. Maka, penting untuk memahami istilah desa dan pembangunan, dan melihat interpretasinya dapat mempengaruhi jalan pemikiran para pemuda.

Istilah pembangunan yang berkelanjutan tidak mengacu pada satu fenomena atau aktivitas tunggal. Dia juga tidak berarti proses perubahan sosial secara umum. Masyarakat perdesaan dan perkotaan berubah sepanjang waktu. Ini mempengaruhi, misalnya, norma-norma dan nilai-nilai, lembaga-lembaga, metode adaptasi, sikap masyarakat, dan distribusi SDM. Masyarakat, adat istiadat, dan praktik masyarakat perdesaan tidak pernah statis karena terus berkembang dalam bentuk-bentuk baru.

Proses pengembangan ini dapat mengambil bentuk berbeda dan memiliki berbagai tujuan. Pernyataan berikut menggambarkan bahwa pengembangan melibatkan pengenalan ide-ide baru ke dalam sistem sosial untuk menghasilkan pendapatan dan tingkat kehidupan yang lebih tinggi melalui produksi modern dan peningkatan organisasi sosial. Pembangunan menyiratkan transformasi total masyarakat tradisional atau pramodern ke dalam jenis teknologi dan organisasi sosial terkait ciri negara-negara barat.

Proses pembangunan harus mengandung perkembangan basis ekonomi atau produktif masyarakat yang akan menghasilkan barang dan bahan kehidupan. Kemudian, penyediaan berbagai fasilitas dan layanan sosial. Lalu, perkembangan masyarakat itu sendiri, baik secara individu maupun bersama. Ini guna mewujudkan potensi maksimal menggunakan keterampilan dan memainkan bagian yang konstruktif dalam membentuk organisasi kepemudaan yang kreatif.

Globalisasi dan free market oriented saat ini membawa implikasi peningkatan kualitas dan profesionalitas pemuda sebagai ujung tombak perubahan. Kepekaan pemuda mengantisipasi ini sangat diperlukan terutama pengembangan SDM yang mencakup pengembangan individual dan organisasional.

Pengembangan individual SDM mengacu pada perbaikan dan peningkatan kompetensi, skill, knowledge, dan kemampuan menjalankan tugas secara profesional. Sedangkan pengembangan SDM secara organisasional bertujuan memperbaiki kinerja organisasi atau performance improvement secara kontinyu (Gilley dan Eggland, 1989; Gilley dan Maycunich, 2000).

Konsep evolusi atau proses transformasi ditandai dan dibedakan dengan melihat cara organisasi menangani dan mengembangkan SDM. Dalam buku Beyond The Learning Organization, Gilley dan Maycunich (2000) menggambarkan, evolusi organisasi dalam mencapai tujuan dan kapasitas untuk pembaruan terus-menerus serta keinginan organisasi menjawab persaingan dapat digolongkan secara berjenjang. Ini dimulai tipe terendah

Traditional Organizations, Learning Organizations, sampai tertinggi Developmental Organizations.

Antara tingkatan traditional ke learning dan developmental dapat dilihat kualitas buah SDM. Pada tipe traditional, kapasitas organisasi dalam memperbarui diri masih rendah, SDM dianggap tidak terlalu penting, pengembangannya cukup dengan pelatihan. Sedangkan pada tipe learning, kapasitas pembaruan mulai tampak. Maka, SDM mulai mendapat perhatian dan kemampuannya dikembangkan melalui pembelajaran.

Pada tipe developmental, orientasi organisasi adalah pengembangan. Hal ini sejalan dengan kapasitas organisasi dalam usaha memperbarui diri. Hal ini hanya dapat terjadi manakala SDM dianggap sebagai faktor esensial. Dalam kadar seperti ini, perubahan dan pertumbuhan secara kontinyu diperlukan (Gilley dan Maycunich, 2000).

Perubahan

Struktur dan budaya sosial tidak pernah sepenuhnya statis. Kecepatan perubahan sangat tergantung pada kontak orang dengan budaya lain dan ide-ide baru, dan kemampuan individu memulai perubahan. Meskipun para pemuda dan organisasinya harus menghormati serta bekerja melalui budaya-struktur sosial, tugasnya membantu mempercepat perubahan dalam mendukung kemandirian desa. Tujuannya agar dapat berkontribusi pada perubahan sosial yang lebih luas.

Faktor-faktor perubahan antaranya inovator. Di setiap masyarakat ada beberapa individu yang lebih siap menerima cara hidup baru. Mereka berpengaruh, tetapi sering menyebabkan kecurigaan dan kecemburuan kelompok yang kurang bersemangat untuk berubah. Namun, jika cara-cara baru dilihat bermanfaat bagi mereka yang telah mengadopsinya, sisa komunitas akhirnya dapat menerima.
Inovator tak lagi dicurigai.

Bahkan mendapat pengaruh. Sikap umum terhadap perubahan budaya kemudian dapat bergeser. Ide-ide baru dapat menjanjikan kehidupan yang lebih baik, tak lagi sebagai ancaman terhadap cara-cara yang mapan. Pemuda sering menjadi paradoks karena kekurangan lapangan pekerjaan.

Akhirnya menggiring mereka menjadi pekerja sirkuler di kota kota besar dan meninggalkan idealisme desa.
Tantangan terbesar pembangunan desa dan pemuda kemauan menanamkan filosofi sejahtera. Zinn mengatakan kecenderungan masyarakat untuk berubah adalah reaksi dari kesadaran yang dibangun otoritas dari akar sosial. Sejatinya, kekuasaan memberi kerangka perubahan fundamental serta contoh sebagai alat penggeraknya (Zinn, 1970).

Teori Zinn harus mengutamakan mengubah pola perilaku dan menggali semangat para pemuda. Harus ada patron perubahan yang bisa membawa semua kebuntuan peradaban menjadi roda ekonomi. Pilar-pilar pembangunan perdesaan harus segera direvitalisasi. Ini bersamaan dengan rencana pembangunan jangka panjang dan langkah strategis sebagai kearifan lokal.

Industri revitalisasi dalam jangka 30 tahun dengan prioritas pembangunan fisik dan infrastruktur. Pendidikan mencapai era terwujudnya negara industri maju serta disegani. Seluruh dunia rata-rata membutuhkan waktu 60–100 tahun. Sekarang masih banyak negara berkembang.
Ide pembangunan dan kemanusiaan harus diserap dan dikembangkan di segala lini kehidupan.

Orang-orang yang belajar atau bekerja membawa kembali ide-ide yang dapat mengubah cara hidup. Gaya baru pakaian, musik, kepercayaan, desain rumah, ide-ide politik dan sebagainya disebarkan oleh para pemuda.

Semakin banyak pemuda terpapar ide-ide baru, tambah besar kemungkinan perubahan dapat diterima seluruh masyarakat. Metode komunikasi baru membuat masyarakat dunia relatif mudah berhubungan. Pada skala lebih lokal, teknologi komunikasi dan platform social media telah membawa banyak perubahan perdesaan.

Pendidikan cara lain memperkenalkan orang kepada ide-ide, nilai-nilai, dan cara hidup mandiri. Diperlukan tindakan nyata. Pemegang kebijakan bisa menjadi pionir penggerak perubahan pemuda dan desa bekerja sama dengan akademisi. Sektor bisnis bahu-membahu membangun desa berkarakter mandiri. Akhirnya, akankah kita beruah?

Penulis Dosen Program Vokasi UI

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment