Koran Jakarta | November 13 2018
No Comments
Suara Daerah

Pemkot Terus Entaskan Kemiskinan Rakyat Semarang

Pemkot Terus Entaskan Kemiskinan Rakyat Semarang

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Perekonomian global yang menunjukkan risiko perlambatan pertumbuhan dalam jangka menengah, mengakibatkan menurunnya nilai mata uang di beberapa negara, termasuk Indonesia. Sejumlah wilayah di Indonesia, mencemaskan hal tersebut, termasuk Kota Semarang.

Kota Semarang menjadi daerah dengan ketimpang­an masyarakat terbesar di Indonesia saat terjadi krisis ekonomi global pada tahun 2008–2009. Namun, Kota Se­marang di era kepemimpinan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, sejak tahun 2012 berbenah dengan cepat me­lakukan reformasi struktural dengan berbagai kebijakan ekonomi kerakyatan.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan untuk mengatasi perlambatan ekonomi di Kota Semarang, wartawan Koran Jakarta, Henri Pelupessy, ber­kesempatan mewawancarai Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, di Semarang, bebera­pa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya.

Perekonomian global menunjukkan risiko perlam­batan pertumbuhan. Apa yang Anda lakukan untuk mengatasi hal tersebut?

Salah satunya dilakukan reformasi struktur konsentrasi ekonomi Kota Semarang. Se­mula dominan di sektor indus­tri menjadi berkonsentasi pada sektor perdagangan dan jasa. Kebijakan menghentikan penambahan kawasan industri di Kota Semarang hingga pe­ngembangan pariwisata.

Reformasi struktural yang kami lakukan menjadi salah satu yang paling tepat di In­donesia. Dengan catatan Gini Rasio 0,31 di tahun 2015, Kota Semarang mampu menjaga kondisi ekonomi lebih stabil dibandingkan kota-kota besar lain.

Bagaimana dengan jumlah penduduk miskin?

Data BPS, terjadi penu­runan angka kemiskinan sempurna (tanpa fluktuasi) dari tahun 2013 sebesar 5,25 persen menjadi 4,62 persen di tahun 2017. Bahkan, indeks keparahan kemis­kinan di Kota Sema­rang tercatat sangat kecil di angka 0,12 persen yang meng­gambarkan ketimpang­an pengeluaran pendu­duk miskin dan kaya semakin kecil.

Untuk per­tama kalinya dalam se­jarah, pada saat bulan Ramadan, infla­si di Kota Semarang justru turun dan harga-harga stabil. Ini membuktikan bagaimana kokoh dan kuatnya ekonomi kami saat ini. Jadi, mari ting­katkan optimisme agar dapat semakin saling menguatkan.

Masyarakat miskin masih susah hidupnya, bagaimana dengan gejolak ekonomi saat ini?

Kalau dikatakan ada orang yang punya usaha lalu gagal atau ada masyarakat miskin yang masih susah hidupnya, ya pasti ada. Angka kemiskinan sebesar 4,62 persen bukan jumlah yang sedikit. Tapi kalau bicaranya semakin banyak atau bertambah, ya tunggu dulu karena datanya tidak begitu dan optimisme harus dibangun.

Kota Semarang akan mewujud­kan diri sebagai daerah poros maritim Indone­sai?

Pelabuhan di Semarang ini nama­nya Tanjung Emas, kalau di Sura­baya namanya Tanjung Perak. Jadi kalau perolehan medali, harusnya Semarang yang jadi juara 1. Sejarah menyebutkan Kota Semarang adalah me­rupakan daerah pusat per­dagangan di Indonesia yang menjadi bagian penting dari aktivitas perdagangan dunia melalui jalur sutra. Sejarah tersebut harus dapat dibangun kembali.

Apa tantangannya untuk mewujudkan hal tersebut?

Untuk menjadi poros maritim di Indonesia, Kota Semarang menghadapi dua tantangan yaitu terkait penataan infrastruktur dan penambahan nilai pemanfaat­an kekayaan laut. Bila dua hal tersebut mampu diupayakan bersama-sama, Kota Semarang akan dapat semakin cepat me­wujudkan diri sebagai daerah poros maritim di Indonesia.

Konon, Kota Semarang ini adalah daerah wilayah maritim yang hebat, namun kenyata­annya hari ini banyak potensi yang belum terbangun baik dari sisi infrastrukturnya mau­pun kekayaan lautnya. Men­jadi tanggung jawab generasi muda, khususnya para siswa untuk bersama dengan kami mengembangkan kemaritimin di Kota Semarang.

Bagaimana dengan pe­ningkatan infrastrukturnya?

Terkait peningkatan in­frastruktur sejumlah upaya dilakukan, di antaranya meng­atasi permasalahan rob dan banjir dengan penataan sistem drainase, pembangunan kolam retensi, normalisasi sungai-sungai, hingga penataan pemukiman di kawasan pesisir Tambak Loro. Terkait peman­faatan kekayaan alam laut, tidak tergarapnya potensi ter­sebut terlihat dari nilai ekspor nonmigas Kota Semarang pada sektor perikanan dan makanan yang nilainya sangat kecil.

Nilai ekspor nonmigas, khususnya Kota Semarang terutama perikanan dan ma­kanan masih kurang karena cara menjual ikan masih sederhana. Maka ke depan­nya, kami butuh pemikiran generasi muda untuk mampu memberikan nilai tambah.

Kenapa Anda rajin me­ngunjungi sekolah-sekolah di Kota Semarang?

Kunjungan itu sebagai upaya meningkatkan fasilitas pendidikan di seluruh Kota Semarang. Mendatangi seko­lah satu per satu akan dapat melihat langsung kondisi nyata di lapangan. Komitmen saya untuk Kota Semarang, antara lain fasilitas pendidikan dan kesehatannya harus prima. Bagi saya, dua sektor tersebut adalah kunci kesejahteraan masyarakat disamping eko­nomi tentu saja.

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment