Koran Jakarta | October 19 2017
No Comments
Suara Daerah

Pemkot Semarang Terus Tangkal Kekerasan pada Anak-anak

Pemkot Semarang Terus Tangkal Kekerasan pada Anak-anak

Foto : Koran Jakarta / Henri Pelupessy
A   A   A   Pengaturan Font

Pemerintah Kota (Pem­kot) Semarang melaku­kan berbagai upaya menangkal segala jenis kek­erasaan atau bullying, khusus­nya terhadap anak-anak dan perempuan yang akhir-akhir ini terus terjadi. Angka bullying terbilang cukup tinggi sehing­ga mengguncang keprihatinan banyak pihak.

Untuk meminimalisasi dan menangkal kejadian ter­sebut, Pemkot Semarang me-launching tempat yang bernama rumah duta revolusi mental. Rumah ini didesain untuk program peningkatan pelayanan kesehatan masyara­kat, kesejahteraan sosial, dan kualitas pendidikan serta pem­berdayaan perempuan dalam bidang kesehatan mental dan psikososial dengan mengguna­kan sistem informasi teknologi maupun bertatap muka secara langsung.

Keseriusan Pemkot Se­marang menangkal bullying dilakukan dengan menyedia­kan sistem pelaporan bully­ing melalui gerakan bersama sekolah peduli dan tanggap bullying (Geber Septi). Adanya Geber Septi diharapkan siswa korban atau yang melihat ka­sus perundungan (bullying) bisa segera melapor.

Untuk mengetahui lebih jauh langkah dan upaya Pem­kot Semarang menangkal se­gala jenis kekerasan, wartawan Koran Jakarta, Henri Pelu­pessy, berkesempatan me­wancarai Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, di Semarang, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Bagaimana Anda melihat masih banyak terjadi kasus kekerasan di sekitar kita?

Kami prihatin, masih tingginya angka bullying dan kekerasan, khususnya terha­dap anak dan perempuan. Saya tidak menutup mata, di Kota Semarang, kekerasan terha­dap anak maupun perempuan masih ada. Hal ini dikarena­kan masyarakat masih menilai seseorang hanya dari segi fisiknya saja. Data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan menunjukkan 84 persen anak SD sampai SMA pernah meng­alami bullying.

Langkah apa yang dilakukan Pemkot Semarang untuk menangkal dan memi­nimalisir ke­jadian ter­sebut?

Untuk menangkal dan men­imilisir kasus bullying, kami me-launching beroperasinya rumah duta revolusi mental di Simongan Raya, 49, Semarang. Rumah ini merupakan wujud program peningkatan pela­yanan kesehatan masyarakat, kesejahteraan sosial, dan kua­litas pendidikan serta pem­berdayaan perempuan dalam bidang kesehatan mental dan psikososial dengan mengguna­kan sistem informasi teknologi maupun bertatap muka secara langsung.

Rumah duta revolusi mental ini hasil kerja sama Pusat Pela­yanan Terpadu Seruni, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan TP PKK. Diharapkan keber­adaan rumah duta revolusi mental menjadi bagian awal upaya Pemkot Sema­rang mengurangi angka kejadian kekerasan terha­dap anak dan perempuan.

Fasilitas apa saja yang diberikan dari rumah duta revolusi mental ini?

Dalam rumah duta revolusi mental, kami menyedia­kan fasilitas pendukung yang nyaman dan lengkap, di antara­nya ru­ang kon­seling psikologi, ruang konseling anak, ruang konseling hukum, ruang IT, ruang meeting, dapur serta halaman yang cukup luas. Disediakan dua konselor psikolog dengan tiga tenaga pembantu, serta satu konselor hukum dengan satu tenaga pembantu yang siap untuk me­layani warga.

Program-program yang bisa diakses masyarakat secara gra­tis di dalam rumah duta revolu­si mental, yakni restoratif justice program, moral and character education program, public men­tal health program, community development program, action research, dan human resource development program.

Pemkot Semarang sudah meluncurkan program Geper Setpi, bagaimana perkem­bangannya?

Program Geper Septi sudah diinisiasi pada 17 Februari 2016, saat wali kota dan wakil wali kota Semarang dilantik. Geber Septi merupakan layan­an konsultasi pencegahan serta penanganan kasus bullying berbasis teknologi, yang dapat diakses melalui alamat website gebersepti.semarangkota.go.id.

Dalam website tersebut, baik orang tua, siswa, bahkan guru dapat melakukan konsultasi se­cara online terkait permasalah­an yang dihadapi secara gratis tanpa perlu takut identitasnya bocor sampai keluar. Harapan­nya dengan adanya rumah duta revolusi mental dan Geber Septi setidaknya dapat memutus mata rantai bully­ing di lingkungan sekolah dan tindak kekerasan lainnya baik yang berbentuk fisik maupun kekerasan mental khususnya terhadap anak dan perempuan di Kota Semarang.

Semua masyarakat, baik pelajar, orang tua, atau pihak sekolah bisa melaporkan kasus bullying baik jadi korban atau menemukan kasus bullying melalui kanal konsultasi keber­adaan Geber Septi. Dengan itu semua, diharapkan dapat men­cegah kasus bullying sedini mungkin.

Apa yang diharapkan dari program ini?

Adanya sosialisasi dan pela­poran sedini mungkin diharap­kan para siswa semakin tahu dan taat pada hukum. Saya harap kasus bullying di sekolah bisa dicegah dan dihentikan. Geber Septi merupakan sistem dukungan psikologis berbasis teknologi terhadap penangan­an bullying di sekolah.

Dasar pemikiran Geber Septi yakni meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan pemberdayaan masyarakat di bidang intervensi psikologi pada kasus bullying di sekolah. Selain melalui kanal konsul­tasi, juga bisa melapor melalui hotline (024) 76432642 atau melalui email rdrm.kotasema­rang@gmail.com. Aplikasi ini memberikan wadah konsultasi psikologi online bagi para guru, korban, dan pelaku bullying, serta orang tua siswa. n N-3

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment