Koran Jakarta | September 24 2018
No Comments
suara daerah

Pemkot Kota Tual Terus Berupaya Kembangkan Wisata Kota

Pemkot Kota Tual Terus Berupaya Kembangkan Wisata Kota

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Keindahan alam yang menawan di Kota Tual, Maluku belum bisa diwujudkan menjadi salah satu destinasi wisata nasional sehingga banyak dikunjungi wisatawan. Banyak kendala yang dihadapi untuk meng­angkat wilayah tersebut men­jadi pijakan bagi para wisata­wan.

Untuk menarik wisatawan berkunjung ke Tual, baru-baru ini diresmikan Kampung Merah Putih yang tadinya merupakan kawasan kumuh menjadi lebih berwarna. Pemerintah Kota (Pemkot) berharap pada tahun 2019 wilayah tersebut bebas dari wilayah kumuh.

Pada tahun 2017, pemerin­tah setempat tengah memba­ngun sentra usaha kecil mene­ngah kelautan. Pembangunan itu diharapkan bisa rampung pada 2018. Tentunya, pemba­ngunan sentra wisata tersebut diharapkan dapat mendukung pariwisata di Kota Tual.

Untuk mengetahui apa saja yang telah dan akan dilakukan Pemkot Tual dalam mengem­bangkan sektor pariwisata di wilayah tersebut, wartawan Koran Jakarta, Yuni Rahmi berkesempatan mewawanca­rai Wali Kota Tual, Adam Ra­hayan, di Tual, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apa yang mendasari pena­taan Kampung Merah Putih?

Kampung Merah Putih adalah kampung yang berada di kawasan Kiom merupakan gerbang masuk ke Kota Tual. Kampung tersebut diwarnai merah dan putih, serta dihiasi oleh mural karya 15 seniman. Ini merupakan bagian dari program corporate social responsibility/CRS atau tang­gung jawab sosial perusahaan PT Pacific Paint.

Produsen cat tersebut memberikan bantuan cat dan memberdayakan warga se­tempat. Kampung ini masuk dalam kategori kumuh berat sehingga perlu diprioritaskan untuk penanganan dan peng­entasan rumah kumuh.

Bagi kawasan yang sudah dipercantik bagaimana perawa­tannya?

Yang pasti nanti ada pro­gram ke­lanjutan, seperti ada biaya pemeliharaan dengan melihat umur dan kualitas cat di kam­pung ini berapa tahun.

Apa yang tengah diper­siapkan oleh Pemkot saat ini?

Pemkot memiliki ide untuk mereklamasi Kampung Merah Putih menjadi seperti Pantai Losari di Makassar, sehingga ketika air surut akan terlihat keindahannya. Lalu, akan dibangun tempat parkir guna menampung kendaraan dalam jumlah banyak. Akan diba­ngun juga tempat berjualan sehingga memudahkan tamu-tamu yang berkunjung untuk membeli oleh-oleh sebelum pulang.

Kesulitan Pemkot dalam mengembangkan wisata di Kota Tual?

Kesulitan kami untuk pe­ngembangan wisata karena objeknya masih menjadi milik desa itu sendiri. Un­tuk itu, salah satu yang kami sampaikan adalah dengan menawarkan jasa seperti membangun akses jalan masuk, pembangunan listrik, pagar, WC umum, dan lainnya.

Pengelolaannya nanti bagaimana?

Teknisnya akan dikelola oleh masyarakat setempat. Jadi seperti mobil yang datang akan diberi tiket masuk. Lalu, tiket yang dikenakan tersebut akan dibagi antara Pemkot dan desa masing-masing berapa. Itulah yang masih menjadi kendala sampai saat ini, tetapi nanti ke depannya akan diben­tuk pertemuan secara bergilir dari desa ke desa untuk meli­hat potensi wisata itu sendiri.

Pertumbuhan pariwisata di Kota Tual seperti apa?

Pertumbuhan wisata Kota Tual secara ekonomis belum kelihatan. Banyak kendala yang dihadapi. Contohnya, sa­lah satu pulau yang ada di Kota Tual yakni Pulau Baer yang sudah membumi dan dikenal secara internasional. Akan tetapi sampai saat ini, saya masih bertanya-tanya orang yang datang berenang itu berapa persen bisa memberi­kan dampaknya ke masyarakat setempat.

Di sisi lain kendala yang dihadapi, mereka bertahan bahwa itu milik masyara­kat desa. Kepemilikan yang pribadi itulah yang menjadi kendala. Saya coba cermati daerah-daerah lain, seper­ti Banyuwangi atau Ternate yang kepemilikannya tetap milik masyarakat desa, tetapi pengelolaannya gabungan antara Pemda dan masyarakat setempat.

Misalnya, rumah penduduk yang dibuat menjadi vila atau penginapan-penginapan mini tetap punya masyarakat, tetapi yang memfasilitasi dan meng­intervensi anggaran masuk adalah Pemkot. Inilah yang belum terbaca dan kelihatan. Padahal di Kota Tual memiliki pasir yang sangat bagus dan berbeda dengan pasir yang ada di Bali.

Upaya apa saja yang di­lakukan?

Kami akan terus menyentuh masyarakat dan membangun kesadarannya. Kami akan membentuk satu kavling di wi­layah tertentu sebagai daerah percontohan yang lahannya akan dibebaskan oleh Pemkot. Lalu, Pemkot akan bekerja sama dengan pihak ketiga.

Jadi pembangunannya akan menggandeng pihak ketiga?

Ya, mereka yang akan membangun dan mengelo­la. Mereka bisa mengontrak sampai beberapa puluh tahun ke depan dan kami bisa dapat sekian persen. Bila mengan­dalkan dana daerah, kami tidak sanggup untuk menge­lola satu objek wisata sebagai percontohan maka itu bisa ditawarkan pada pihak ketiga.

Apakah pernah ada inves­tor yang datang?

Ya, kami dulu didatangi 83 investor, meski sudah ber­keliling ke daerah-daerah tem­pat wisata, namun sampai hari ini belum ada yang jadi. n N-3

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment