Koran Jakarta | September 20 2018
No Comments
suara daerah

Pemkot Batu Gencarkan Pengembangan Sektor Pertanian

Pemkot Batu Gencarkan Pengembangan Sektor Pertanian

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Selama ini Kota Batu, Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu tu­juan wisata yang cukup terkenal di Tanah Air. Selain mengandalkan berbagai ta­man hiburan dengan beragam wahana edukasi yang unik, panorama asri kawasan yang terletak di lereng Gunung Pan­derman itu juga menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Dengan tanah yang kaya akan kandungan mineral, mendorong warga untuk mengembangkan beragam jenis tanaman hortikul­tura, seperti buah, sayuran, dan tanaman hias. Dengan sebagian besar penduduk bermata pencaharian seba­gai petani, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu bertekad memprioritaskan pemba­ngunan sektor pertanian, agar dapat saling mengisi dengan sektor pariwisata dan sektor-sektor lain, untuk mewujudkan konsep Kota Agropolitan.

Untuk mengetahui apa saja yang telah dan akan dilakukan jajaran Pemkot Batu dalam mengembangkan kawasan agropolitan di wilayah ini melalui sektor pariwisata dan pertanian, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesem­patan wewawancarai Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, di Batu, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Bisa dijelaskan pemba­ngunan sektor pertanian Kota Batu?

Sektor pertanian memang menjadi perhatian Pemkot Batu, sesuai salah satu misi kami, yaitu mengembang­kan pertanian organik dan perdagangan hasil pertanian organik. Maka sekarang kami sedang gencar mendorong masyarakat untuk mengem­bangkan pertanian organik.

Alasan fokus pada perta­nian organik?

Sudah dari dulu Batu menggalakkan pertanian organik. Tren kebutuhan se­karang memang berkembang dan mengarah pada jenis-jenis makanan yang sehat. Kami bersyukur program pertanian organik bisa terus berkembang dan diterima oleh petani Kota Batu.

Sejauh mana ini mening­katkan kesejahteraan petani?

Diharapkan keberhasilan pertanian organik di Kota Batu dapat terus berkembang dan diikuti dengan budaya hidup sehat masyarakat dengan men­gonsumsi sayuran organik. Melalui pertanian organik, kami ingin mengembangkan konsep agrowisata berbasis pertanian, dengan harapan da­pat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Permasalahan yang di­hadapi?

Ada beberapa per­masalahan, antara lain produktivitas tanah, ketergan­tungan petani pada obat-obatan kimia, residu pestisida di tanah, penyediaan pupuk organik, dan kendaraan untuk distribusi produk pertanian. Memang tidak mudah, tapi sebagai leading sektor harus terus dicari jalan keluar.

Langkah apa yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut?

Kami melakukan upaya penataan lahan pertanian dan lingkungan yang fokus pada peningkatan kesehatan ekosistem pertanian. Selain itu juga meningkatkan pe­mahaman dan keterampilan petani pada budidaya pertanian organik. Pe­merintah sendiri akan terus membantu petani, baik dalam hal fasilitas dan prasarana dan juga pemasaran.

Program-program un­tuk komoditas pertanian organik?

Banyak sekali bentuknya, beberapa bulan lalu Dinas Pertanian Kota Batu telah mengembangkan pertanian bawang putih seluas puluhan hektare di beberapa desa. Target pengembangan bawang putih ini sampai 125 hektare, untuk memenuhi kecukupan pasokan benih bawang putih tahun ini. Kami sudah panen raya sayur-sayuran hidroponik pertama kali menggunakan sistem green house, yang dikembangkan sejak tahun lalu.

Kami juga menyempatkan diri mengunjungi gapoktan-gapoktan dalam acara Temu Tani. Kegiatan digelar untuk mendengar keluhan dan pertanyaan petani soal masalah yang dihadapi dalam program pertanian organik, agar dapat dicari solusinya.

Sejauh mana dari semua ini dilakukan dengan melibatkan generasi muda?

Kota Batu memiliki potensi SDM yang besar dalam bidang pertanian. Salah satunya dilakukan pem­berdayaan pada SMK Pertanian yang ada, melalui program Sekolah Mandiri Produksi Tanaman Sayur dan Buah Edu­kasi (Smarts-BE), bekerja sama dengan Kemendikbud. Diha­rapkan mampu meningkatkan kapasitas SDM SMK pertanian.

Bentuknya?

SMK Pertanian mendapat­kan dukungan untuk kegiatan persiapan lahan, penana­man dan pemeliharaan yang melibatkan tenaga pendidik masing-masing sekolah.

Target program pertanian organik?

Tahun ini kami menargetkan ada 24 desa akan mengantongi sertifikat organik. Saat ini sudah 16 desa mengantongi sertifikat dengan berbagai komoditas mulai dari sayuran, jambu kristal, dan padi organik.

Pembinaan sektor wisata?

Kami melakukan pena­taan pada Alun-alun Batu yang telah menjadi salah satu destinasi wisatawan, untuk mengembalikan estetika dan keindahan tempat itu. PKL yang ada direlokasi ke food court sebelah barat Alun-alun Batu yang saat ini dalam proses perbaikan sarana dan prasana. Pemkot Batu selalu membuat program yang baik untuk peda­gang dan pengunjung.

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment