Koran Jakarta | August 19 2018
No Comments
suara daerah

Pemkab Terus Kembangkan Pariwisata Gunungkidul

Pemkab Terus Kembangkan Pariwisata Gunungkidul

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

 

 Sektor pariwisata menjadi primadona andalan di berbagai daerah di Indone­sia, tak terkecuali di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pe­merintah pusat pun berusaha menggenjot penambahan devisa dari sektor ini. Dengan arus kencang ekonomi wisata itu, Kabupaten Gunungkidul, dalam satu dekade terakhir ketiban durian runtuh.

Dari daerah yang dikenal sebagai daerah yang menjadi langganan kekeringan dan miskin, kini Gunungkidul bermetamorfosa menjadi destinasi wisata terpenting di DIY. Mengandalkan kekayaan pantainya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gunungkidul dari sektor wisata melonjak hingga hampir seribu persen dalam delapan tahun terakhir.

Pada tahun 2010 lalu, PAD Gunungkidul hanya tiga miliar rupiah. Namun, pada tahun 2017 telah mencapai 25 miliar rupiah, dan pada tahun ini ditargetkan akan melewati angka 28 miliar rupiah. Jumlah tersebut akan terus menanjak karena banyak objek wisata baru yang terus dibenahi dan dikembangkan.

Salah satu kelebihan kabupaten ini, warga Gunung­kidul sungguh mendukung pengembangan aneka objek wisata di daerah mereka. Warga sungguh-sungguh su­dah “melek” wisata. Mereka sadar harus bagaimana agar para wisatawan kerasan dan ketagihan datang berkunjung ke wilayah Gunungkidul.

Untuk mengetahui apa saja yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Gu­nungkidul dalam menggenjot sektor pariwsata, wartawan Koran Jakarta, Eko Sugiarto, berkesempatan mewawan­carai Bupati Gunungkidul, Badingah, pada acara dialog nasional Indonesia Maju, di Kecamatan Playen, Gunung­kidul, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Pantai Gunungkidul sa­ngat populer sebagai desti­nasi wisata di DIY. Apakah masih ada kendala untuk meningkatkan kunjungan wisatawan?

Kunjungan sudah me­ningkat pesat, hanya saja kalau mau makin pesat yang perlu dilakukan ada­lah penataan pantainya yang tidak mudah. Kenapa tidak mudah karena pantai di sini kan sangat pan­jang dan luas.

Pada kesem­patan ini, kami minta pemer­intah pusat, dalam hal ini Kemente­rian Pariwisata (Kemenpar), untuk membantu menatanya dengan menyiapkan mas­terplan. Ini dilakukan agar pantainya lebih bagus, lebih cantik, dan fasilitas publiknya bisa lebih baik lagi.

Bagaimana tanggapan dari Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya?

Beliau tentu akan memban­tu dan saya juga sudah mem­berikan proposal masterplan yang kami maksudkan. Saya harap bisa dibantu untuk me­nyempurnakannya sekaligus bagaimana nanti logistik dan pendanaannya. Apalagi kan ini banyak fasilitas publik di pantai Gunungkidul yang rusak karena diterjang gelombang.

Mengenai Geopark, apa rencananya pengembangan ke depan?

Nah, Geopark ini memang penting bagi Gunungkidul. Sebab, wilayah Gunungkidul yang sangat luas ini, 46 persen dari wilayah DIY, sebagian besar memang terdiri dari gunung-gunung batu atau karst. Di bawah gunung batu itu kan banyak gua, ada sekitar 700 gua.

Karena kekayaan karst itulah, Gunungkidul masuk dalam jaringan Geopark Du­nia namanya Gunungsewu UNESCO Global Geopark yang membentang dari Gunung­kidul (DIY), Wonogiri (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur). Di Gunungkidul send­iri terdapat 13 geosite sebagai pendukung Gunungsewu UNESCO Global Geopark, seperti Lembah Mulo.

Geopark Gunungsewu memiliki luas 1.802 km2, ter­dapat 33 geosite, yang untuk Gunungkidul 13 lokasi, Pacitan 13 lokasi, dan Wonogiri tujuh lokasi. Gunungsewu sudah masuk dalam Global Geopark Network (GGN) di konferensi Asia Pasific Global Net­workoleh UNES­CO di Sanin, Kaigan, Jepang, pada tahun 2015.

Sejauh mana itu men­dongkrak wisatawan berkun­jung ke Gunungkidul?

Gunungsewu UNESCO Global Geopark saya harapkan mampu mendongkrak kun­jungan wisatawan, baik dalam negeri maupun mancanegara. Untuk pengembangannya dibutuhkan rencana induk Gunung Sewu supaya tetap diakui UNESCO. Kita tidak bisa sendiri mengembangkannya, karena itu perlu bantuan dari pemerintah pusat.

Seperti apa garis besar pengembangannya?

Konsep utama pengem­bangan geopark ini berinti tidak hanya pada situs geologi, tapi juga geoforest maupun situs budaya seperti arkeologi. Yang paling penting bagaima­na melibatkan masyarakat dalam pengelolaan geosite ini. Jadi tidak bisa masyarakat ditinggal, seolah tidak lebih penting dari situs itu sendiri.

Bagaimana caranya agar masyarakat dapat mendukung keberadaan geopark ini?

Sosialisasi untuk ini juga musti terus digalakkan. Itu diperlukan agar masyarakat peduli dan juga bisa berino­vasi. Jadi situs terjaga sekali­gus kesejahteraan masyarakat meningkat. Itulah tujuan utamanya.

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment