Koran Jakarta | December 15 2018
No Comments

Pemkab Terus Kembangkan Pariwisata di Ponorogo

Pemkab Terus Kembangkan Pariwisata di Ponorogo
A   A   A   Pengaturan Font

 

 Tahun Baru Islam yang jatuh di bulan Muharam bertepatan dengan awal penanggalan kalender Jawa, yang dimulai dari bulan Suro. Bagi sebagian masyara­kat, satu Muharam atau satu Suro dianggap penting dan sangat lekat dengan budaya orang Jawa, khususnya semen­jak masa Mataram di bawah Sultan Agung Adi Prabu Han­yakrakusuma (1613–1645).

Pada sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, momen sakral tersebut kerap diperingati dengan berbagai perayaan, festival, hingga ane­ka ritual. Perayaan-perayaan tersebut tak hanya ditujukan untuk kegiatan kepercayaan, tapi juga bagian perayaan kul­tur budaya sekaligus pelestar­ian tradisi masyarakat.

Setiap tahun, Kabupa­ten Ponorogo, Jawa Timur, yang terletak di dekat per­batasan Jawa Tengah, mengge­lar tradisi pesta rakyat “Grebeg Suro” untuk merayakan satu Suro. Seiring meningkatnya minat wisatawan, pemerin­tah setempat mulai menge­mas rangkaian acara Grebeg Suro untuk mendorong sektor pariwisata daerah tersebut.

Untuk mengetahui apa saja yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponoro­go dalam upaya meningkatkan jumlah wisatawannya, antara lain dengan Festival Grebeg Suro 2018, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, ber­kesempatan mewawanca­rai Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, di Ponorogo, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Kenapa Anda menggelar Festival Grebeg Suro 2018?

Kegiatan Grebeg Suro untuk menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa akan terus dilestarikan oleh Pemkab Ponorogo, karena memang su­dah menjadi tradisi kuat warga kita. Tradisi ini sudah ratusan tahun ada di Ponorogo.

Sejak dua hingga tiga dawarasa terakhir dikemas de­ngan kegiatan yang lebih baik karena di daerah yang tradis­inya kuat, pariwisatanya juga kuat. Hal ini akan berimbas pada kemajuan ekonomi ma­syarakat. Maka Grebeg Suro kami lestarikan karena tradis­inya kental dan bisa menjadi daya tarik pariwisata.

Bagaimana pelaksanaan­nya?

Grebeg Suro 2018 dibareng­kan dengan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo ke-522. Selain alasan efisiensi, secara nyata terlihat ada mul­tiplier effect atau efek berlipat untuk ekonomi masyarakat. Kami yakin ada perputaran uang yang cukup tinggi selama Grebeg Suro kali ini.

Saya dapat laporan yang namanya warung makan dan penginapan di Ponorogo dan Ngebel semuanya penuh. Usaha yang lain laku, yang jualan kaos, suvenir, atau jasa yang lain juga meningkat. Ratusan tamu yang datang dari mancanegara, ribuan warga yang datang ke Pono­rogo tentu membelanjakan uangnya di daerah kami.

Seperti apa bentuk acar­anya?

Lebih banyak kegiatan yang digelar untuk menarik wisata­wan datang supaya mendo­rong perekonomian daerah. Mulai dari semaan Al Quran, pemilihan “Gendhuk-Thole Ponorogo”, pameran pusaka, pamer­an batu mulia, pameran UMKM, gowes sepeda MTB, liga paralayang, parade budaya, hingga pen­tas musik dan wayang kulit. Puncak aca­ra adalah kirab pusaka serta tumpeng purak, dari Kota Lama menuju Kutho Tengah (Pendapa Kabupaten) Ngebel pada 11 September.

Sedangkan kegiatan yang selalu ditunggu oleh warga dan jadi daya tarik turis, yaitu Festival Nasional Reog Pono­rogo, yang didahului Festival Reog Mini. Juga digelar tradisi larungan risalah doa yang dulu dikenal sebagai larung sesaji di Telaga Ngebel. Total­nya, kegiatan ini berlangsung 11 hari.

Tujuan lain dari agenda ini?

Ini sudah tahun kedua saya menjabat. Kami ingin meng­ajak masyarakat Ponorogo bersiap-siap menyambut kedatangan banyak wisata­wan tahun depan dalam program tahun kunjungan wisata 2019. Sesuai janji saya, pada tahun ketiga akan saya jadikan Bumi Reog ini sebagai tempat tujuan wisata.

Upaya lain yang dilaku­kan?

Tentu menyiapkan sarana dan prasarana, seperti infrastruk­tur jalan menuju objek wisata, hotel, dan lainnya.

Kesiapan masyarakat ba­gaimana?

Kami tidak ingin wisata­wan hanya datang ke Pono­rogo saat perayaan Grebeg Suro saja. Dalam dua tahun terakhir, kami membentuk tim untuk menggali potensi desa-desa yang bisa dijadi­kan destinasi alternatif untuk wisatawan. Dari 281 desa, sementara sudah terseleksi 100 desa yang berpotensi un­tuk dijadikan tempat tujuan wisata. Itu nanti masih akan kami kerucutkan lagi.

Target dari pengem­bangan desa wisata ini?

Saya tidak muluk-muluk, dari 100 desa yang sudah terseleksi, terpilih 20 desa sudah bagus. Tahun depan, desa-desa ini akan diumum­kan menjadi tempat tujuan dengan keunggulan ma­sing-masing. Ada desa yang punya air terjun, desa dengan tradisi pesta saat panen, serta desa yang satu dusunnya khu­sus menekuni kesenian reog.

Harapan Anda pada sek­tor pariwisata ke depan?

Sekarang, kontribusi sek­tor pariwisata terhadap PDB Ponorogo masih kecil. Kami harapkan sekitar lima tahun lagi bisa menyamai pertanian dan perkebunan.

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment