Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Suara Daerah

Pemkab Terus Cari Solusi Atasi Banjir di Bandung

Pemkab Terus Cari Solusi Atasi Banjir di Bandung

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sebanyak tiga kecamatan di Kabupaten Bandung selalu banjir setiap kali datang musim hujan, yaitu Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang. Banjir di ka­wasan ini seolah sulit dihilang­kan meski sudah banyak upaya dilakukan.

Upaya tersebut antara lain pengerukan Sungai Citarum hingga rencana pembangunan danau retensi sebagai tempat untuk menampung air jika Citarum meluap. Hingga pe­kan kemarin, beberapa warga masih bertahan di pengung­sian, di kantor kecamatan, sementara banjir sudah mulai surut.

Badan Meteorologi, Klima­tologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan terus ber­langsung hingga Maret 2017 sehingga warga harus mewas­padai kemungkinan banjir. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan guna mengatasi banjir di daerah ini, wartawan Koran Jakarta, Teguh Raharjo, berkesempatan mewawanca­rai Bupati Bandung, Dadang Naser, di Bandung, belum lama ini. Berikut petikan se­lengkapnya.

Banjir kembali melanda Baleendah, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang. Upaya apa lagi untuk mengatasinya?

Kami terus bersinergi dengan Balai Besar Wila­yah Sungai (BBWS) Citarum membuat danau retensi yang sedang dilakukan. Untuk pen­anganan banjir di Baleendah, pembebasan lahan sekitar delapan hektare atau sebanyak 504 bidang dengan anggaran 152 miliar rupiah untuk kolam retensi. Kolam ini dapat me­nampung luapan air Sungai Citarum.

Pembebasan lahan masih sulit?

Terus dilakukan. Saat ini ada anggaran 33 miliar rupiah disiapkan untuk penggantian pembebasan lahan. Un­tuk kegiatan fisik sekitar 200 miliar rupiah. Diperkirakan akan selesai tahun 2018. Saat dilakukan pendataan terakhir, ternyata total lahan yang dibe­baskan seluruhnya ada 546 bidang dari 596 penerima.

Bertambah luas dari rencana awal?

Luasan lahan bertam­bah. Jadi mencapai 8,7 hektare. Sekitar 114 bidang dan 146 penerima telah dilakukan pembebasan pada tahap I oleh BBWS Citarum. Pembebasan lahan menyisa­kan lahan seluas 7.590 meter persegi dengan 38 penerima pada tahap akhir nanti.

Tidak tuntas juga masalah banjir ini, sudah bertahun-tahun?

Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, yang bertanggung jawab itu tiga yakni pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Upaya kami sudah maksimal, namun belum ada hasil yang signifi­kan. Sejak sekitar tahun 1980, banjir sudah terjadi. Ini bukan lagi bencana nasional, tapi sudah internasional. Upaya koordinasi semua wilayah dan elemen terus dilakukan dan TNI kami gandeng.

Untuk apa me­libatkan TNI?

Dalam rangka operasi militer selain perang, saya kira Kodam III Siliwangi cocok untuk mengoordinasikan kami semua, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang, Garut, Kota Bandung, dan unsur lain. Di negara maju, tentara diturunkan bukan saja untuk operasi militer, tapi selain perang bisa juga menyelesai­kan soal bencana.

Perlu penanganan lebih komprehensif?

Selama ini kami ma­sing-masing berbuat, tapi tidak komprehensif. Jika dikoor­dinasikan siapa berbuat apa, ada grand desain untuk pe­nyelesaian masalah Citarum, tentu sedikit demi sedikit bisa teratasi. Banjir terus berulang dan sampai saat ini belum ter­selesaikan secara signifikan.

Sebetulnya di sini ada beberapa kewenangan dalam penanganan, tapi belum kom­prehensif dan belum tersele­saikan secara signifikan. Ke­wenangan dimaksud, seperti BBWS, Pemerintah Provinsi, Perhutani, dan Perkebunan di hulu, juga pihak LSM. Ini perlu diselesaikan bersama dengan melibatkan pihak militer.

Upaya pencegahan di hulu bagaimana?

Kami sudah melakukan pencegahan. Kami telah melakukan mitigasi wila­yah rawan bencana, penguatan kapasitas masyarakat yang tinggal di daerah rawan.

n N-3

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment