Koran Jakarta | April 18 2019
No Comments
suara daerah

Pemkab Ponorogo Antisipasi Ajaran Menyimpang

Pemkab Ponorogo Antisipasi Ajaran Menyimpang

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Masyarakat baru-baru ini dikejutkan oleh pemberitaan soal kepindahan sejumlah warga Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Pono­rogo, Jawa Timur, ke Malang. Mereka berpindah karena khawatir akan terjadi bencana kiamat di kampung mereka.

Warga yang ke luar dari desa itu tergabung dalam jemaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah dan men­dengar isu kiamat sudah dekat dari pimpinan mereka, Katimun. Katimun, yang juga warga Desa Watubonang, diketahui menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Falahil Muhtadin, asuhan KH Muhammad Romli, di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Keca­matan Kasembon, Kabupaten Malang.

Selain disebarkan soal kia­mat yang meresahkan, warga yang tergabung Thoriqoh juga percaya akan terjadi perang, kemarau panjang, memasang bendera tauhid, foto antigem­pa, pelarangan anak sekolah, hingga larangan menghukum orang tua. Akibatnya, mereka yang eksodus dari desa yang telah dihuni secara turun-temurun tersebut juga menjual aset yang mereka miliki.

Untuk mengetahui apa saja yang terjadi dan bagaimana mengatasi kasus serupa supaya tidak terulang di masa mendatang, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesem­patan mewawancarai Bupati Ponorogo, Ipong Muclissoni, di Ponorogo, belum lama ini. Berikut petikan selengkapnya.

Berapa banyak warga yang meninggalkan desa?

Angka terakhir ada 16 keluarga warga Desa Watubo­nang yang berangkat. Mereka terdiri dari 52 orang, 22 di antaranya adalah anak-anak, mengikuti orang tuanya.

Bisa diceritakan kejadian­nya?

Sekitar satu minggu ini muncul isu kiamat sudah de­kat di masyarakat desa. Ada seorang warga menyampai­kan kepada mereka, Katimun, yang pernah menimba ilmu di pondok pesantren. Dikatakan kalau masuk ke jemaahnya maka ketika dunia kiamat, me­reka akan terhindar.

Dunia akan kiamat me­mang kita yakini sesuai rukun iman, tapi kalau di sini kiamat, lalu pindah ke Kasembon, tidak kena kan ini tidak masuk akal. Warga juga diminta men­jual rumah dan harta untuk bekal di akhirat atau dibawa ke pondok. Ada yang mem­bawa gabah, menarik anaknya keluar dari sekolah, macam-macam.

Bagaimana pemantauan sebelumnya?

Selama ini dicek, jemaah Katimun, Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah, ajarannya nor­mal saja. Mereka melakukan sholat, zikir, bukan ritual yang menyimpang. Tapi memang yang dikhawatirkan kalau yang menyimpang disampaikan di luar pengajian. Seperti ada is­tilah MUSA AS, itu bukan Nabi Musa, tapi singkatan dari Mulyo Sugih Ampuh Asal Sendiko Dawuh.

Upaya apa yang di­lakukan pemerintah kabupaten?

Kami sudah mem­bentuk tim diketuai Kepala Bakesbangpol­dagri untuk turun ke Watubonang. Tim ini anggotanya lengkap, ada Danramil, Kapol­sek, MUI, serta Pengurus NU dan Muhammadiyah. Tim ini tu­gasnya memberikan pema­haman karena diindikasikan pengikutnya masih banyak, hampir 300 orang.

Sebelum mereka berang­kat, kami cegah dulu. Jadi, Kadesnya kami minta meng­umpulkan tokoh-tokoh, dan warganya yang terindikasi ke balai desa, untuk diberikan pe­mahaman. Polres (Ponorogo) juga sudah mengirim anggota ke Malang, untuk memeriksa yang bersangkutan.

Apakah warga tidak dipu­langkan?

Pemkab Ponorogo harus benar-benar memiliki dasar sebagai acuan untuk memu­langkan warganya tersebut. Kami hanya bisa mengajak mereka kembali, tim yang ke sana melakukan yang sifatnya imbauan.

Apa­kah ada pelarangan pengajian di Desa Watubo­nang?

Kami belum bisa melakukan tindakan lebih jauh. Kami masih me­nunggu fatwa dari MUI, apakah kegiatan ini merupa­kan ajaran sesat atau bukan. Pemkab juga tidak dalam ranah pelarangan kalau ada warga yang ingin melakukan perjalanan atau menjual har­tanya sendiri. Yang bisa kami lakukan adalah terus-menerus membina, terutama yang di Desa Watubonang supaya ti­dak ikut-ikutan.

Bagaimana dengan wila­yah lain?

Supaya tidak meluas, unsur tiga pilar di kecamatan, yaitu camat, Danramil, dan Kapolsek se-Ponorogo juga akan meng­umpulkan seluruh kepala desa di wilayah masing-masing. Nanti para kepala desa itu men­gumpulkan seluruh warganya untuk melakukan imbauan agar tidak ikut oleh ajaran- aja­ran yang tidak masuk akal.

Adakah upaya lain yang dilakukan?

Ponorogo ini kan hilirnya, sumbernya di Kasembon. Kami minta ke ormas kea­gamaan, MUI untuk terus memberi pembekalan dakwah kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh pada hal-hal seperti ini.

Saya juga sampaikan ke Gus Romli (pengasuh Ponpes Miftahul Falahil Muhtadin) agar melakukan klarifikasi di Ponorogo supaya warga, terutama di Desa Watubonang, tenang dan tidak resah. Ka­rena sekarang sebagian warga masih khawatir kalau tidak ikut pindah akan kena kiamat. Klarifikasi seperti itu lebih baik, supaya tidak berkepan­jangan.

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment