Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments
suara daerah

Pemkab Jemput Bola Layani Masyarakat Sleman

Pemkab Jemput Bola Layani Masyarakat Sleman

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Angka kemiskinan di Ka­bupaten Sleman masih di level dua digit, yakni di angka 10,6 persen dari total warga sekitar 1,2 juta. Peme­rintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus berusaha untuk menurunkan tingkat kemis­kinan dengan target pada tahun 2021 nanti tinggal 8 persen.

Untuk itu, Pemkab Sleman meresmikan program baru bernama Layanan Sambang Warga (Lasamba) sebagai upaya jemput bola menangani aduan masyarakat terkait layanan sosial. Kemiskinan, usia renta, sakit, dan dis­abilitas menjadi sasaran dari program ini sehingga tidak ada warga yang tidak terlayani dengan baik oleh pemerintah.

Untuk mengetahui apa saja yang dilakukan jajaran Pemkab Sleman guna menu­runkan tingkat kemiskinan di kabupaten ini, wartawan Koran Jakarta, Eko Sugiarto, berkesempatan mewawanca­rai Bupati Sleman, Sri Purno­mo, di Sleman, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apa latar belakang dari program Lasamba ini?

Pemerintahan harus hadir di tengah masyarakat. Nah, orang miskin, mbah-mbah yang sepuh atau penyandang disabilitas kan aksesnya ter­batas untuk bisa ke kantor pe­merintah. Sebelumnya, kami sudah punya program Antar Sampai Rumah, sekarang kami yang jemput bola.

Antar sampai rumah maskudnya bagaimana?

Jadi, dulu kalau warga mis­kin atau warga yang memiliki kesulitan datang ke Dinas So­sial (dinsos), nanti pulangnya diantar. Sekarang cukup SMS, kami akan datang ke rumah warga. Jadi, ini upaya jemput bola agar semua warga meski kekurangan tetap merasakan peran pemerintah.

Mereka tidak terlalu kha­watir dengan hal-hal dasar, seperti sakit atau soal sekolah. Ini juga bagian dari budaya birokrasi untuk lebih responsif dengan kebutuhan masyara­kat. Jadi tidak menunggu, tapi menjemput dan menyelesai­kan masalah warga.

Teknisnya akan seperti apa?

Dinsos sudah menu­runkan 25 personel yang terdiri dari petugas din­sos, tenaga kesejahtera­an sosial kecamatan (TKSK), pekerja sosial masyarakat (PSM), serta pendamping PKH. Masih ditambah dengan sejumlah relawan yang bisa terus ber­tambah. Para pe­tugas dan relawan inilah nanti yang akan bergerak ke rumah-rumah warga yang membutuhkan.

Nah, warga kami dorong untuk aktif melaporakan ber­bagai masalah atau keluhan terkait layanan dan berbagai kebutuhan mereka ke nomor yang ada di stiker yang sudah ditempel di rumah warga oleh petugas Lasamba. Mereka bisa menghubungi nomor 0895 0113 0696 dan 0274 868358.

Bisa diberikan contoh layanan apa saja yang dike­luhkan warga?

Beberapa contoh keluhan dan aduan warga yang sudah terlayani oleh program ini, misalnya, warga yang membu­tuhkan alat bantu disabilitas, seperti kaki palsu, kursi roda, keluarga yang kesulitan bia­ya sekolah anak, lanjut usia terlantar, penyandang disabilitas berat, dan lain sebagai­nya. Sebelum diluncurkan, total sudah ada 77 ke­luarga yang mendapat layanan ini saat diuji coba.

Dalam pe­laksanaan launching ini kami secara simbolis menyerahkan bantuan kepada tujuh warga yang membutuhkan dengan total bantuan uang sejumlah 10,7 juta rupiah, satu alat kaki palsu serta dua buah kursi roda.

Adakah program lain un­tuk meningkatkan layanan birokrasi kepada warga?

Saya baru saja melantik pengurus Paguyuban Kepa­la Desa dan Perangkat Desa se-Kabupaten Sleman “Suryo Ndadari” masa bakti 2018– 2021. Nah, keberadaan pagu­yuban ini sangat strategis bagi layanan pemerintah karena dapat menjadi wadah untuk saling bertukar informasi dan diskusi antarkepala desa guna perbaikan desa yang lebih ber­kualitas.

Tidak hanya menjadi wadah untuk bersilaturahmi, paguyuban ini juga dapat menjadi ajang untuk bertukar informasi antarkepala desa. Dengan semua itu, diharap­kan memberikan pelayanan yang semakin baik di masya­rakat.

Apakah ini terkait dengan optimalisasi pemanfaatan dana desa?

Memang dana desa saya harap menjadi salah satu yang bisa didiskusikan dan dikoor­dinasikan antarkepala desa. Saya terus menerus mengim­bau dana desa bisa dimanfaat­kan untuk pembangunan desa sesuai kebutuhan produktivi­tas di desa tersebut.

Bisa diberikan contoh?

Pembangunan irigasi di Desa Sedangtirto, Kecamatan Berbah, yang baru-baru ini ditinjau langsung Presiden Jokowi. Presiden mengatakan itu sangat bagus, tidak hanya pilihan programnya, tapi akuntabilitasnya juga bagus.

Maka di forum Suryo Ndadari ini para kepala desa bisa saling belajar bagaimana menyiapkan administrasi ter­kait dengan metode pelaporan yang akuntabel dan transpa­ran dalam pemanfaatan dana tersebut.

Paguyuban ini penting sebagai upaya menyukses­kan pemilu pada tahun 2019 dengan kepala desa berperan aktif menjaga suasana agar te­tap kondusif. Caranya, dengan mengajak masyarakat untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan dalam pilihan.

Apa harapan Anda ke de­pan?

Ya, intinya Pemkab Sleman bisa sukses melayani warga sehingga kalau warga sudah terlayani kebutuhan dasarnya dia bisa lebih produktif. Pada ujungnya, kemiskinan berku­rang sesuai target tahun 2021 hanya tersisa 8 persen. N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment