Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments

Pemimpin Mestinya Berani, Jujur, dan Adil

Pemimpin Mestinya Berani, Jujur, dan Adil
A   A   A   Pengaturan Font

Judul      : Paideia: Filsafat Pendidikan-Politik Platon
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Terbitan : Tahun 2017
Tebal     : 312 halaman
ISBN     : 978-979-21-5147-3

Pendidikan pragmatis membuat manusia hanya terjebak pada kesenangan sesaat. Inilah yang sekarang terjadi di banyak lembaga pendidikan Indonesia. Bahkan, selain pragmatis, pendidikan tidak pernah jauh dari logika teknik (hal 21). Untuk membendung arus pendidikan pragmatis, para pemangku harus menghidupkan nilai-nilai kepekaan yang dimulai sejak dini. Inilah esensi pendidikan tulisan Plato, sekitar abad keempat sebelum Kristus. Orang tua, guru, dan aktor pendidikan harus bertanggung jawab (hal 24).

Pendidikan sensibilitas akan membawa anak didik peka terhadap persoalan sosial masyarakat. Mengubah paradima pendidikan Indonesia dimulai dari kanak-kanak. Pendidikan anak usia dini perlu mendapat perhatian serius. Para pendiri bangsa mementingkan pendidikan antipragmatis. Ki Hajar Dewantara, misalnya, menganggap pendidikan proses pembudayaan. Ini suatu usaha menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi baru ke arah keluhuran hidup.

Situasi politik Indonesia terkesan mengenaskan. Banyak aktor politik tidak mengindahkan nilai-nilai yang baik. Para pemimpin masih berparadigma power-oriented. Mereka tertipu dengan dorongan dada ataupun perut. Ketika seorang pemimpin hanya mengikuti dorongan dada dan perut, yang terjadi situasi negara serba-chaos. Misalnya, marak korupsi. Pemimpin seharusnya mengikuti dorongan kepala, bukan dada dan perut. Itulah yang disebut dengan pemimpin sang filsuf.

Diperlukan paideia (pendidikan) untuk menghasilkan pemimpin yang baik. Mereka akan memperbaiki tatanan yang korup (hal 40). Paideia harus dimulai sejak dini. Kebetulan negara ini coba menganut demokrasi, paham yang terbaik di antara berbagai tawaran politik dalam sejarah. Untuk memperbaiki tatanan karut-marut dalam negara demokrasi, kuncinya pendidikan (hal 48).

Buku hendak menawarkan salah satu filsafat pendidikan yang penting dalam sejarah pemikiran dan pendidikan humanis di Eropa. Plato, filsuf besar penulis buku The Republic, memberi ide-ide segar cara mengubah situasi masyarakat melalui pendidikan (hal 50). Inilah relevansi gagasan buku terhadap situasi politik Indonesia.

Prinsip pendidikan Plato mendidik jiwa, imitasi, dan mitos. Para calon pemimpin mesti melakukan imitasi (meniru) pada keutamaan-keutamaan. Bagi Sokrates maupun Plato, tujuan pendidikan membuat jiwa manusia lebih baik. Lebih dari sekadar merawat, mendidik bagi Plato berarti memberi bentuk yang tertata dan teratur pada jiwa anak didik (hal 65).

Situasi politik Indonesia karut-marut karena kepentingan dan motif buruk menjadi pemimpin yaitu mencari uang. Hal ini bisa dibuktikan, di masa Orde Baru penguasa bisa mengatur semua semaunya. Anak cucu dan kerabat bekerja di tempat basah, bergelimang uang. Politik menjadi pekerjaan. Berkuasa jadi sarana mendapat uang untuk memuaskan hasrat tak terbatas akan makan, minum, dan seks (hal 96).

Motif kedua didorong hasrat menyala-nyala di dada sejak muda untuk menyejahterakan warga. Rasa cinta dan hasrat menyala untuk berkorban demi kejayaan bangsa menjadi pendorong utama untuk mati-matian mempertaruhkan segalanya demi kekuasaan. Inilah pengejar kehormatan dan penggila jabatan.

Seharusnya seorang pemimpin negara ini mengikuti motif ketiga menjadi gembala. Artinya, seorang pemimpin ideal bukan suka uang, bukan pula pencari kehormatan. Ia masuk pada kekuasaan justru karena keadaan dan keterpaksaan. Dalam arti itulah, menjadi pemimpin berarti mengorbankan diri demi kepentingan orang lain (hal 97).

Pendidikan rancangan Plato hendak memunculkan calon pemimpin yang berani, bijaksana, dan adil. Hanya lewat paideia dan visi politik baru, negara yang benar bisa diharapkan muncul.  Diresensi Mahmudi, Kandidat Doktor Walisongo Semarang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment