Koran Jakarta | July 19 2019
No Comments
Kontestasi Pemilihan

Pemilu Serentak Berpotensi Turunkan Angka Golput

Pemilu Serentak Berpotensi Turunkan Angka Golput

Foto : KORAN JAKARTA/M FACHRI
DISKUSI SOAL GOLPUT | Anggota Fraksi Gerindra MPR, Ahmad Riza Patria (kiri), dan Pengamat Komunikasi Politik Umaimah Wahid menjadi pembicara dalam Diskusi Empat Pilar di Media Center DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (18/2). Disusi mengangkat tema ‘Potensi Golput di Pemilu 2019’.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Kekhawatiran akan melonjaknya ‘golongan putih’ (golput) pada perhelatan Pemilu 2019 kian meningkat seiring dengan stabilnya angka elektabilitas dari Pasangan Calon (Paslon) Presiden-Wakil Presiden. Gaya kampanye yang ‘itu-itu saja’ serta debat yang masih substantif dicemaskan tidak akan menggerakkan angka undicided voters.

Namun, di samping permasalahan golput tersebut, anggota MPR RI Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Achmad Baidowi, yakin bahwa angka golput pada Pemilu 2019 akan turun dari Pemilu 2014 yang mencapai 29,01 persen untuk Pemilu Presiden (Pilpres) serta 25,94 persen untuk Pemilu Legislatif (Pileg). Baidowi menilai, Pemilu yang serentak antara Pilpres dan Pileg berpotensi meminimalisir golput.

“Animo yang luar biasa dari masyarakat akan Pemilu serentak 2019, seluruh elemen bergerak, mulai dari partai politik sampai kedua Paslon, kita optimis angka golput pada Pemilu 2019 akan turun,” ujarnya saat diskusi Empat Pilar MPR RI ‘Potensi Golput di Pemilu 2019’, di Media Center, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/2).

Menurut Baidowi, ada empat alasan yang membuat orang akhirnya memilih untuk menjadi golput. Ia menjelaskan, yang pertama orang menjadi golput karena namanya tidak masuk ke dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), walaupun sudah ada mekanisme bisa menggunakan KTP, namun sebagian orang malas untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Yang kedua, orang menjadi golput karena kesibukan luar biasa, mungkin karena pekerjaan yang memungkinkan mereka untuk tidak libur pada hari pemungutan suara. Kita tidak bisa mengatur kesibukan orang, ga bisa dipaksa untuk ikut memilih,” tambahnya.

Sependapat dengan Baidowi, Anggota MPR RI Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Ahmad Riza Patria, optimis bahwa pada Pemilu 2019 angka golput akan berkurang akibat Pemilu yang digabung antara Pilpres dan Pileg. Hal ini dikarenakan elemen politik yang bergerak untuk tidak hanya memenangkan kursi legislatif, tetapi juga kursi eksekutif. Riza pun mengklaim pihaknya telah mensosialisasikan untuk tidak golput kepada pendukungnya.

“Kita telah kerahkan emakemak untuk datang ke TPS. Emak-emak sekarang sudah militan, solid, dan jujur, sehingga dapat mengerahkan massa untuk datang ke TPS,” ungkapnya.

Riza melanjutkan, keberadaan milenial yang mulai peduli dengan politik juga sebagai salah satu amunisi untuk mengurangi angka golput. Belum lagi, tambahnya, kaum akademisi dan intelektual mulai terjun ke dalam politik praktis yang dianggap meningkatkan partisipasi publik terhadap politik.

Tetap Ada Potensi

Sementara itu, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Budi Luhur, Umaimah Wahid, memprediksi bahwa potensi golput tetap ada, bahkan bisa jadi akan meningkat. “Peluang adanya golput tetap ada, sekitar 20-30 persen kira-kira. Saya kira bisa dikatakan meningkat dari tahun lalu,” terangnya.

Menurutnya, potensi tersebut dikarenakan peforma dari kedua Paslon masih jauh dari apa yang diharapkan, bahkan ketika disediakan sarana debat. Umaimah menilai, pada debat tersebut, baik petahana maupun penantang belum dapat menunjukkan performa yang terbaik, sehingga tidak dapat mengalihkan perhatian dari undicided voters dan pemilih yang rasional. tri/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment