Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
JENAK

Pemilu 2019 Masih Berjalan

Pemilu 2019 Masih Berjalan
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

Pemilu 2019, Rabu (17/4), berjalan dengan meriah, gembira, ibarat pesta pejalanan menemui kekasih yang saling tunggu. Bahkan sejak jam 07.00 WIB, kegiatan di tenda-tenda tempat coblosan telah berhias, sebagian dihias lumpur karena turun hujan.

Saya termasuk yang ikut berangkat pagi—walau anak saya yang tinggal di kompleks perumahan yang sama bisa lebih pagi, buktinya ia nyoblos pertama. Dan seperti pencoblos lainnya, saya masih bermain di sekitar lapangan, pulang, dan tak melakukan apa-apa. Sampai siang sedikit, kembali ke lapangan, atau lapangan pencoblosan sebelumnya, yang letaknya berdekatan.

Ikut mengikuti penghitungan suara pemilihan presiden yang diberitakan penuh canda. Ada ungkapan khusus untuk calon 01, ada tag line khusus untuk paslon 02. Ada suara kecewa ketika surat suara teryata tak memenuhi suara. Umumnya karena tergesa, atau belum dibuka sempurna.

Semua meriah, bersemangat, dalam tegur sapa akrab. Untuk tidak mengatakan akrab sekali. Kedua kubu mengeluarkan kemampuan menyampaikan dalam bentuk lagu atau pantun. Lalu meneruskan di depan TV. Mulai pukul 15.00 WIB perhitungan cepat diumumkan dari berbagai lembaga survei. Angka meninggalkan satu dengan yang lain.

Jumlah suara masuk menjadi 70 persen, jatah suara yang dianggap mewakili pemenang. Namun, klaim itu tak terdengar dari kelompok 01, juga tidak dari kelompok 02 yang mengakui kemenangan lawan. Kali ini agaknya semua pihak menahan diri sampai 22 April, Selasa depan, untuk mengumumkan. Secara resmi memang KPU yang mengumumkan dari hasil manual.

Bukan yang model quick, model perhitungan cepat, tapi akurat, melainkan model manual— seperti menghitung satu demi satu bersama barangnya. Sampai di sini masih bisa dimaklumi. Sebelum kelompok 02, dalam hal ini Prabowo Subianto sendiri yang menyatakan bahwa perhitungan yang dilakukan sendiri, menunjukkan pasangannya memenangkan.

Bahwa sampai 62 persen. Sampai di sini, yang dimaklumi media ada perbedaan hasil. Bukan sekadar cara baru atau cara lama. Perbedaan hasil yang menghasilkan perbedaan besar siapa sesungguhnya pemenangnya? Jokowi- Ma’ruf atau Prabowo-Sandi? Bagaimana jika keduanya ngotot, dan menganggap lawannya main curang.

Mau tak mau harus melihat pergerakan berita yang - kalau Prabowo menggelar tiga konpers untuk menyebutkan perhitungan kemenangannya pastilah bukan main-main. Andai alasan dianggap tidak benar, tak memenuhi syarat, bisa lain lagi. Pada titik yang sama, ancaman entah benar entah samar ada “people power”, kekuataan massa rakyat terjun ke jalan mulai beredar ulang.

Artinya, ini bukan berita lucu-lucuan lagi, atau teriakan lagi, melainkan berita mengenai kelangsungan bernegara. Mungkin ini berlebihan— saya pun harap begitu. Namun, sumber berita yang beredar dikuasai sepenuhnya oleh media sosial. Media cetak masih terjebak dengan pola lama: hari libur mereka tak terbit.

Mungkin ini hanya penundaan, sampai pemenangnya diumumkan secara resmi sesuai peraturan. Lalu semua berjalan seperti biasa. Keberhasilan negeri ini mengadakan pesta demokrasi terbesar ketiga, kegembiraan dan semangat masyarakat adalah makna sebenarnya yng bisa dirasakan secara nyata. Rasanya sudah saatnya negeri ini melakukan langkahlangkah yang memesona dan memperlihatan bukti-bukti mengatasi rintangan. Semoga. 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment