Koran Jakarta | April 18 2019
No Comments
Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, Terkait Pemilih Pemula pada Pemilu 2019

Pemilih Pemula Potensial untuk Menggunakan Hak Pilihnya

Pemilih Pemula Potensial untuk Menggunakan Hak Pilihnya

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Hari pemungutan suara tinggal seminggu lagi. Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara Pemilu 2019, terus melakukan segala persiapan agar seluruh masyarakat yang mendapatkan hak pilih, dapat menggunakannya pada hari pencoblosan.

Dari sekitar 190 juta jiwa pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), terdapat pemilih pemula yang baru berusia 17 tahun sebelum 17 April 2019 atau baru mendapatkan hak pilihnya pada Pemilu 2019. Kelompok pemilih pemula, menurut data dari Kementerian Dalam Negeri mencapai lima juta pemilih, dan KPU mengatakan bahwa akan ada potensi tujuh juta pemilih pemula yang akan menggunakan hak pilihnya pada 17 April nanti.

Untuk mengupas hal tersebut lebih lanjut, Koran Jakarta mewawancarai Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, di Jakarta, Minggu (7/4). Berikut kutipannya.

Bagaimana potensi pemilih pemula pada Pemilu 2019?

Jumlahnya banyak, cukup signifikan, dan mereka itu baru 17 tahun dan rata-rata baru lulus SMA. Kedua, pemilih pemula ini kemungkinan dapat dimobilisasi oleh masing-masing kandidat, baik paslon mmaupun caleg, untuk datang ke TPS nanti memilih karena keserentakan pemilu ini. Hal itu karena peserta pemilu bergerak untuk menyasar semua pemilih, salah satu yang begitu gencar disasar selama ini adalah kalangan pemula dan milenial.

Mengapa peserta pemilu menyasar milenial?

Peserta pemilu menganggap bahwa pemilih pemula ini mudah untuk dimobilisasi ke TPS, karena baru pertama kali datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya. Mereka menganggap pemilu ini sebagai pesta demokrasi yang sesungguhnya, ini kan penuh riang gembira, artinya datang ke TPS dan ikut mencoblos. Kalau ada yang mengajak mereka adalah suatu hal yang surprise, dianggap dihargai, eksistensi dan kehadiran mereka itu. Saya cukup yakin bahwa nanti mobilisasi dan partisipasi anak-anak muda ini yang baru memilih cukup tinggi karena ada dinamisasi pergerakan yang dilakukan oleh semua tim sukses.

Anda bilang ada mobilisasi, apakah itu berarti ada potensi politik uang?

Menurut saya, kalau pemilih pemula ini tidak terlampau peduli dengan uang. Artinya, instrumen yang dipakai untuk menentukan pilihan preferensi politiknya bukan uang. Pertama, mereka memang ingin mencoba menjadi warga negara yang baik, karena ini adalah momen pertama baru kenal pemilu. Itu tujuan utamanya, untuk merasakan sensasi mencoblos di TPS. Kalaupun ada iming-iming diberikan logistik uang, itu akan dianggap bonus saja.

Lalu, bagaimana usaha dari peserta pilpres dalam menggaet suara pemilih pemula?

Ya, kalau melihat style-nya kan lebih agresif paslon 01, misalnya, dengan gaya bermotor, scoopy ya kan, yang mengidentifikasi dirinya dengan pemerintahan Dilan. Itu kan satu quotes-quotes yang sebenernya cukup mampu diterima kalangan anak muda. Meski saat bersamaan kita juga tidak bisa menutup mata bahwa kemudaan Sandi (Cawapres 02) ini secara tidak langsung menarik pemilih pemula, ini masih menjadi pertarungan paslon 01 dan 02. Tetapi, kalau melihat narasi dan agresif secara umum memang 01 ini relatif lebih dominan.

Kemudian, kalau dari caleg dan parpol?

Kalau caleg dan partai politik, justru kurang melihat pemilih pemula, sering kali pergerakannya sedikit monoton, hanya menyasar kelompok-kelompok pemilih lama karena menganggap pemilih pemula tidak akan datang ke TPS. Partai yang identik dengan anak muda, juga belum maksimal menggaet pemilih pemula, memang mereka berusaha menggaet anak muda, tapi mereka rata-rata lebih menggaet milenial umur 20–25 tahunan, anak-anak kampus. Coba dilihat, jarang anak 17–20 tahun yang baru lulus SMA, menjadi target kampanye. 

 

trisno juliantoro/AR-3.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment