Koran Jakarta | July 21 2019
No Comments
Pemilu di Luar Negeri

Pemilih Diimbau Datang ke TPS Lebih Awal

Pemilih Diimbau Datang ke TPS Lebih Awal

Foto : ANTARA/M IRFAN ILMIE
SEBELUM PENCOBLOSAN - Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri Beijing membuka kotak suara tersegel sebelum pemungutan suara dimulai di Beijing, Minggu (14/4).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ilham Saputra, mengimbau kepada pemilih yang berada di luar negeri (LN) untuk datang lebih awal ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Imbauan ini bertujuan mengantisipasi agar tidak banyak pemilih yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya.

Sebab, pada hari pertama pencoblosan di LN, Minggu (14/4), banyak pemilih yang tidak kebagian surat suara karena Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) di sejumlah negara mengaku sudah tidak ada surat suara tersisa atau waktu pemungutan suara yang terbatas.

Berdasarkan UU Pemilu, pemilu di LN berlangsung mulai pukul 08.00–18.00 waktu setempat. Di beberapa negara, jumlah pemilih membeludak, namun hanya disediakan tiga TPS. Peristiwa itu terjadi di Singapura, Hong Kong, Sydney-Australia, dan Malaysia. Banyak tempat yang dijadikan TPS adalah tempat sewa, sehingga ketika jam sewa habis, mereka harus meninggalkan gedung tersebut.

Ilham menambahkan, petugas Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) di 182 negara sahabat sudah memetakan pemilih dengan status daftar pemilih tetap dan pemilih dengan status pindah pilih sehingga petugas dapat mengantisipasi jika ada kejanggalan. Hanya saja, ungkap Ilham, di beberapa negara banyak pemilih tidak bisa menggunakan hak pilihnya karena dianggap pemilih itu berstatus daftar pemilih khusus (DPK).

Berdasarkan UU, mereka diberi waktu khusus untuk mencoblos satu jam sebelum TPS ditutup dan selama persediaan surat suara masih ada. Menurut Ilham, tidak ada toleransi untuk kelompok DPK itu. Dia berpesan agar mereka bisa menggunakan hak pilih maka semestinya mendaftar lebih awal, jangan datang satu jam sebelum TPS tutup.

Dengan begitu, kemungkinan surat suara sisa di TPS itu masih dapat digunakan oleh pemilih DPK. “Soal waktu memang dibatasi oleh UU. Sehingga kami selalu mengimbau pemilih untuk datang lebih awal,” jelas Ilham, di Jakarta, Minggu. Meskipun masih ada 40 negara yang belum melaksanakan pemungutan suara, dia optimistis petugas PPLN di negara itu dapat mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

Ilham juga masih menunggu rekomendasi Panwas LN, apakah bagi negara yang mengalami kendala saat pencoblosan, akan dilakukan pemungutan susulan. Sementara itu, Anggota KPU, Hasyim Asy’ari, melaporkan hasil pemungutan suara di wilayah kerja PPLN Kuala Lumpur pada 14 April.

Dia menjelaskan pada prinsipnya pemilu di LN, lokasi TPS harus di kantor perwakilan. Apabila membuat di luar kantor perwakilan harus seizin otoritas lokal. PPLN Kuala Lumpur melalui KBRI sudah mengajukan izin sejak awal, tapi hingga Sabtu malam belum ada respons. Akibatnya, TPS yang semula jumlahnya 255 dijadikan 168 TPS dan ditempatkan di KBRI, Wisma Duta, serta Sekolah Indonesia KL.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini, meminta KPU memastikan lagi kesiapan teknis penyelenggaraan pemungutan dan penghitungan suara Pemilu Serentak 2019, khususnya yang berkaitan dengan ketersediaan dan kecukupan logistik pemilu (surat suara, formulir, bilik, kotak suara, dan lain-lain). 

 

rag/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment