Koran Jakarta | July 24 2017
No Comments
Surat Utang

Pemerintah Lelang Sukuk Rp5 Triliun

Pemerintah Lelang Sukuk Rp5 Triliun

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk masih diminati oleh investor, terutama oleh investor domestik. Pemerintah pun akan kembali melakukan lelang sukuk dengan target indikatif penerbitan sebesar 5 triliun rupiah pada Selasa (18/7). Dalam lelang kali ini pemerintah menerbitkan empat seri yakni SPS-N 05012080 (reopening) jatuh tempo pada 5 Januari 2018 dengan imbal hasil diskonto.

PBS013 (reopening) jatuh tempo 15 Mei 2019 dengan imbal hasil 6,25 persen. PBS014 (reopening) jatuh tempo 15 Mei 2021 dengan imbal hasil 6,5 persen. PBS011 jatuh tempo 15 Agustus 2023 dengan imbal hasil 8,75 persen. PBS012 jatuh tempo 15 November 2031 dengan imbal hasil 8,87 persen.

Lelang sukuk akan diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Bank Panin Tbk ( P N B N ) , PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank O C B C NISP Tbk (NISP), Standard Chartered Bank, dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA).

Kemudian PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII), Citibank N.A., PT Bank Negara Indonesia Syariah, Deutsche Bank AG, PT Bank BNP Paribas Indonesia, PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank BRISyariah. Sedangkan dari perusahaan efek di antaranya PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia, dan Tbk PT Bahana Sekuritas.

Analis OSO Sekuritas, Riska Afriani mengatakan pasar obligasi pemerintah masih menarik perhatian investor. Akan tetapi di sisi lain lain yang harus diperhatikan adalah penyerapannya. Dalam hal ini tantangan yang akan dihadapi berasal dari pemerintah itu sendiri. “Pasar obligasi masih menarik,” ungkap dia saat dihubungi, Senin (17/7).

Dalam lelang sukuk ini apakah penyerapanya bisa mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed seperti yang dialami dalam penawaran saham, Riska kurang optimistis. Apalagi mengacu pada beberapa bulan yang lalu, kepemilikan asing di obligasi pemerintah mengalami pengurangan. Berbeda dengan investor domestik yang masih menunjukkan geliat berinvestasi di sukuk masih lumayan tinggi. “Penerbitan sukuk akan lebih banyak diserap oleh investor domestik ketimbang asing,” jelas dia.

 

Imbal Hasil Naik

 

Menurut Riska, pasar obligasi pemerintah sekarang ini agak kurang terlalu ramai, disebabkan oleh imbal hasil (yield) global yang telah meningkat. “Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat kepemilikan asing selama beberapa pekan lalu berkurang.

Untuk itu secara yield kita harus lebih bersaing dari yield yang didapatkan di tingkatan global,” terang dia. 

 

yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment