Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
Pendalaman Pasar Keuangan l Masyarakat Ekonomi Kelas Menengah Atas Tumbuh Pesat

Pemerintah Ingin Kurangi Porsi Asing

Pemerintah Ingin Kurangi Porsi Asing

Foto : Sumber: DJPPR, Kemenkeu –Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font
Bonus demografi yang disertai dengan peningkatan literasi investasi menjadi modal bagi pemerintah meningkatkan basis investor domestik sehingga penguasaan asing di SBN dapat dikurangi.

 

JAKARTA – Pemerintah mendorong peningkatan basis investor domestik dalam kepe­milikan Surat Berharga Negara (SBN) guna mengurangi kepe­milikan asing yang saat ini sa­ngat dominan. Pengurangan basis investor asing tersebut diharapkan bisa memperkuat pasar keuangan domestik, ter­utama ketika terjadi gejolak global seperti saat ini.

Menteri Keuangan, Sri Mul­yani Indrawati, menginginkan kepemilikan asing di instrumen utang pemerintah menjadi 20 persen dari posisi saat ini se­besar 38,49 persen melalui peningkatan basis investor do­mestik. Menurutnya, pening­katan kepemilikan investor domestik di instrumen utang pemerintah, seperti SBN sangat penting agar rentannya gejolak ekonomi eksternal seperti saat ini tidak mengganggu stabilitas pasar keuangan domestik.

“Jadi ya idealnya (kepe­milikan domestik) terus me­ningkat. Saat ini asing sekitar 30 persen, kita harapkan bisa mencapai 20 persen pada masa yang cukup dekat,” ujar Men­keu usai rapat Badan Anggaran DPR di Jakarta, Senin (19/8).

Adapun pemerintah menar­getkan penerbitan SBN secara bruto pada 2019 sebesar 825,7 triliun rupiah.

Dia menambahkan semakin besar basis domestik akan me­nimbulkan lebih banyak stabil­isasi karena memahami kondi­si pasar keuangan di dalam negeri sendiri. Bahkan, mereka tidak mudah untuk dipicu oleh perubahan kebijakan yang ber­asal dari luar.

Peningkatan kepemilikan in­vestor domestik juga dilakukan pemerintah untuk menganti­sipasi menurunnya partisipasi asing dalam instrumen keuan­gan domestik di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi global yang bisa membuat investor flight to quality, atau sikap in­vestor yang melarikan modal­nya ke instrumen minim risiko.

Sri Mulyani optimistis target itu bisa tercapai. Salah satu pen­dorongnya adalah pertumbu­han pesat kelas masyarakat eko­nomi menengah dan menengah atas yang melek investasi. Meningkatnya kelas ekonomi menengah dan menengah ke atas disambut pemerintah den­gan upaya gencar menerbitkan instrumen obligasi ritel.

Permudah Proses

Untuk menarik kalangan in­vestor ritel, pemerintah men­gunakan berbagai instrumen surat utang ritel dan memu­dahkan proses transaksi me­lalui aplikasi berbasis internet.

Inisiatif peluncuran SBN ritel tersebut direspons positif oleh masyarakat, terutama ka­langan muda menyadari pent­ingnya berinvestasi. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembi­ayaan dan Risiko (DJPPR) se­belumnya mengungkapkan generasi milenial dengan usia 19–39 tahun mendominasi porsi penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR007.

“Hal ini menunjukkan bahwa saat ini generasi muda semakin sadar untuk berin­vestasi sejak dini,” kata Di­rektur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Luky Alfirman. Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment